SINTRU

SINTRU
SINTRU- 52



By: Tiara Sajanaka


🌼Mbak Kun membawaku menemui pak Rasyid di taman depan kediamannya.


Dia terlihat gelisah menungguku.


Manggala juga sedang berbicara padanya.


Wajahnya seketika terlihat sedikit lembut sewaktu melihatku berjalan kearahnya.


Dia segera menghampiri dan memegang tanganku.


"Apa yang terjadi? Aku khawatir sekali sewaktu mendengar, kamu bersama tuan Arkana."


"Apa bapak tidak mempercayai pak Arkana?"


"Bukan seperti itu, yang pasti aku mengkhawatirkanmu."


"Saya baik-baik saja pak. Kami membahas masalah area yang akan saya pilih untuk para Astral penghuni villa."


"Lalu area mana yang kamu pilih?"


"Saya memilih area netral. Antara area milik bapak dan Manggala."


Pak Rasyid terlihat tersenyum lebar.


Manggala mendekat, sewaktu kusebut namanya.


"Hmm, kakak ipar ingin bertetangga denganku ya?" candanya.


Aku tersenyum sambil melirik pak Rasyid.


Manggala tertawa kecil.


"Ya..ya..aku tahu. Walaupun kalian tidak bersama. Tetapi kalian tetap berdekatan. Apa , kakak ipar sengaja meminta area itu?"


"Ya, benar Manggala. Area diantara tempatmu dan tempat pak Rasyid, adalah area paling netral dan aman."


"Bagaimana, kakak ipar bisa berfikiran begitu?"


"Sebab, aku mengenal kalian berdua. Dan aku percaya, kalian akan menjaga area milikku." jawabku santun


Manggala tersenyum lebar. "Manusia selalu lebih cerdas dan jernih saat berfikir."


"Tidak juga, aku sering salah dalam mengambil keputusan. Itu sebabnya, sekarang ini, aku lebih berhati-hati."


"Tuan Arkana tidak keberatan, saat kamu meminta area itu?" tanya pak Rasyid.


"Tidak, dia langsung memberikannya." kataku sambil melihat ke arah mbak Kun yang sudah mulai gelisah.


Melihat hal itu, pak Rasyid memintanya kembali lebih dulu.


Pak Rasyid berjanji akan mengantarku kembali.


"Dia harus segera bertemu pria itu." kata mbak Kun.


"Ya baiklah, besok aku akan mengantarkan dia ke Villa itu." jawab pak Rasyid.


"Baiklah, aku telah membawanya padamu. Tolong antar dia dengan aman." kata mabk Kun sambil melesat pergi.


Kebiasaannya yang sulit untuk diperbaiki.


Dia selalu berbicara sambil melesat pergi.


Aku memandang kelebatannya sampai tidak terlihat.


Benar kata mbak Kun, sudah waktunya aku menyelesaikan tugasku. Agar aku tidak harus datang ke tempat ini setiap hari.


Setelah tugasku selesai, maka aku tidak terikat pada aturan dan kedisiplinan tugas.


"Rasyid, sebaiknya aku juga kembali. Ibu pasti menunggu kabar dariku." kata Manggala.


"Katakan pada ibu, besok aku akan mengunjungi beliau." jawab Rasyid.


"Hmm, sepertinya kakak ipar akan melihat dunia bawah." godanya.


"Tidak Manggala, dia tidak boleh kesana."


"Ya..ya..aku tahu. Baiklah, aku pergi dulu kakak ipar." setelah berpamitan, Manggala berputar beberapa kali. Saat itu dia telah berubah menjadi butiran kristal yang menyatu dengan indah.


Butiran itu, terbang melayang meninggalkan udara dingin yang menusuk.


Aku menggigil sewaktu udara dingin itu menerpaku.


Namun hal itu hanya sebentar saja.


Pakaian yang kukenakan, seketika menjadi hangat dan nyaman.


Luar biasa pakaian pemberian pak Rasyid ini.


"Aku akan mengantarmu kembali, Lira."


Dia meraih tanganku dan membawaku terbang melewati wilayah kekuasaan Arkana.


Para prajurit udara tidak lagi mengejar kami, tetapi mereka mengikuti dan mengawasi dari jauh. Aku pikir itu adalah standar operasional mereka.


Sampai gerbang astral, pak Rasyid memintaku untuk berkata jujur.


Apa benar, aku tidak pernah mencintai dia.


Aku hanya menatapnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Dia ingin kejujuran. Tapi dia tahu kalau aku harus menjaga kesepakatan dengan Arkana.


"Lira, apa kamu tidak percaya Reinkarnasi?"


"Saya tahu tentang kelahiran kembali. Tapi, saya tidak yakin dengan kehidupan masa lalu, sebelum saya terlahir kembali, pak. Karena tidak ada sedikitpun ingatan tentang itu."


"Baiklah Lira, sudah menjelang subuh. Kamu kembali dan beristirahat ya."


ucapnya lembut sambil mencium keningku.


Dadaku seperti dihantam gelombang maha dahsyat.


Sakit dan bergulung-gulung.


Semua harus aku lakukan, demi keseimbangan kehidupan kami berdua.


Terlalu melelahkan kalau aku tetap bertahan dengan perasaan yang tidak pada tempatnya.


Semoga pak Rasyid, dapat menerima keputusanku dengan lapang dada.


🍃🍃