
By: Tiara Sajanaka
πΌDia melepaskan ciumannya perlahan. Menatapku dengan penuh cinta.
Untuk sesaat aku terpaku. Terhipnotis pada sorot matanya yang teduh.
Sampai kemudian, aku menampar pipiku sekuat tenaga.
Pak Rasyid terkejut. Dengan sigap dia mencekal tanganku yang akan melakukan tamparan lagi ke pipiku.
Rasa sakit menjalar ke seluruh wajah. Panas dan pedih.
Telapak tanganku memang keras. Beberapa orang yang pernah kugampar dengan telapak tanganku, sering mengalami rasa sakit seperti terbakar.
Rasa sakit itu bisa bertahan sampai semingguan.
"Ngapain kamu, Lira?" tanya pak Rasyid dengan wajah terkejutnya.
"Saya ingin menyadarkan diri sendiri pak. Kalau semua ini tidak nyata."
Pak Rasyid menghentakkan tanganku dengan kesal.
"Terserah kamu mau melakukan apa. Mau tampar pipi sendiri, mau mencubitnya atau menyakiti dengan caramu. Asal kamu merasa puas." ucapnya menahan amarah.
"Seharusnya saya yang marah pada bapak. Karena bapak telah lancang mencium saya." ketusku.
"Apa kamu merasa jijik pada makhluk dibawah kastamu? Kalian manusia memiliki tingkatan lebih tinggi. Sampai kamu merasa aku telah berbuat lancang." desisnya.
"Apa di dunia astral, para lelaki bisa bebas mencium wanita?"
"Lira, jangan bertengkar denganku. Aku mohon."
"Seharusnya, bapak mencari tahu terlebih dulu. Apa wanita di dunia manusia dapat diperlakukan seperti itu?"
"Aku menantikan saat ini bertahun-tahun. Aku merindukanmu Lira." dia terlihat menahan kesedihannya.
Tiba-tiba tubuhku tidak memiliki tenaga lagi. Kedua kakiku merosot dengan cepat. Membuatku jatuh terduduk di dekat pintu.
Kusandarkan punggung ke daun pintu.
Agar tubuhku tidak semakin merosot ke lantai.
"Sebenarnya, saya ini makhluk apa?"
Pak Rasyid mendekat. Dia berjongkok didepanku.
"Kamu manusia. Memangnya kamu pikir kamu makhluk apa?"
"Apa hubungannya dengan bapak?"
"Semua akan aku jelaskan. Tapi tidak Sekarang. Ada waktunya kamu mengetahui tentang siapa aku dalam hidupmu."
"Saya tidak menyangka, perjalanan kali ini akan membuat masalah dalam hidup saya."
"Istirahatlah, aku telah membuatmu mengalami syok yang luar biasa. Hal itu membuatmu menjadi tidak berdaya."
Dia mengangkat dan membawaku keatas kasur. Kasur spon setebal 20 centimeter.
Fasilitas kamar kost ini memang cukup lengkap.
Walaupun kamar ini sederhana dan murah.
Sebenarnya ada dua pilihan kamar yang bisa disewa.
Tanpa AC dan menggunakan AC.
Kamar tanpa AC seperti kamar yang kutempati. Harganya lebih murah.
Sedangkan yang menggunakan AC, memakai tempat tidur atau ranjang kayu ukuran queen.
Lemari sedang, meja rias serta jemuran handuk. Harganya lebih mahal.
Biasanya para penyewa yang menggunakan AC, menempati kamar bersama tiga orang.
Mereka bisa membayar uang sewa secara patungan.
Selama ini, aku memang tidak terbiasa berbagi kamar kost. Lebih nyaman tinggal sendiri. Dan yang paling penting. Tidak ada yang mengetahui kehidupan malamku. Dimana aku selalu mengembara saat sedang tidur.
"Istirahatlah sejenak, nanti aku akan membawamu kesuatu tempat."
ucapnya serius.
Aku tidak terlalu menanggapi ucapannya.
Rasa haus membuatku mencoba meraih botol air mineral diatas meja. Pak Rasyid membantuku. Setelah aku minum, dia meletakkan kembali botol air mineral di atas meja.
Dia duduk disebelahku sambil mengelus kepalaku lembut. Kelembutannya itu terasa sekali sampai kehati.
Sebenarnya, aku tidak ingin hal ini terjadi. Tetapi, semua seakan telah menjadi bagian dalam perjalanan hidupku.
Selalu bertemu dan bergaul dengan para astral. Sampai akhirnya, aku jatuh cinta pada salah satunya.
Yang membuatku tidak mengerti. Kenapa semua terjadi begitu cepat?
Hanya dalam waktu tiga hari. Kami telah sama-sama memiliki perasaan saling menyukai.
Aku berusaha keras menolak rasa itu. Namun, dia selalu hadir dalam fikiranku.
Dan membuatku memiliki perasaan khusus padanya.
Salah satu kekuatan yang terbesar di dunia ini, adalah kekuatan cinta.
Ketika rasa itu telah masuk ke dalam relung hati, akan sangat sulit untuk mengusirnya pergi.
Sekarang aku adalah korban dari kekuatan itu. Aku telah dibuat tidak berdaya oleh kekuatannya.
Benar-benar tidak berdaya.
Kejadian ini membuatku lelah dan mengantuk.
Ditambah sentuhan tangan pak Rasyid yang lembut,
semakin membuatku tidak dapat menahan rasa kantuk yang menggelayut.
ππ