
By: Setya Rahayu
🌼Pak Rasyid membaringkan tubuhku diatas tempat tidur.
Dia juga menyelimuti dengan selimut tebal.
Rasanya nyaman sekali berbaring diatas tempat tidurnya.
Kasurnya empuk, seprainya lembut dan harum.
Serta bantal-bantal yang halus saat tersentuh kulit.
"Lira.." panggilnya lembut.
"Iya," jawabku lemah tanpa membuka mata.
"Sampai kapan kamu akan membiarkan dirimu seperti ini?"
Aku diam dan tetap memejamkan mata.
"Buka matamu, kita bicara." ucapnya sambil menggenggam tanganku.
Kuhela nafas berat, sebelum membuka mata.
Pak Rasyid menatapku teduh dengan mata birunya yang indah itu.
"Kamu patah Lira, benar-benar patah. Dan itu akan menghancurkan dirimu sendiri."
Kupandang dia dengan perasaan pedih.
Kebohongan besar yang telah kulakukan, memang sangat menghancurkan jiwaku.
Seperti katanya. Aku menghancurkan diriku sendiri demi menyelamatkan kami semua.
"Andai kamu bisa lebih jujur pada dirimu sendiri Lira. Kita tidak akan berada dalam situasi seperti ini."
"Apa aku salah? Kalau aku mengambil keputusan untuk semua orang?" sahutku lemah.
"Kamu memikirkan banyak orang. Tapi meremukkan hatimu sendiri."
"Apa yang akan terjadi, kalau aku menjawab iya waktu itu? Apa bapak tahu akibat yang ditimbulkan dari tiga huruf itu?"
"Aku telah siap dengan segala resiko yang akan terjadi."
"Kita tidak boleh egois, pak. Banyak yang harus kita pikirkan. Bukankah selama ini bapak memegang jabatan sebagai sang bijaksana? Lalu kenapa sekarang bapak menjadi tidak realistis?"
"Lira.. jabatan itu adalah tanggung jawab pada pekerjaan. Tetapi soal perasaan, soal rasa, kita tidak bisa menutupinya."
"Semua akan berlalu bersama berjalannya waktu, pak"
"Namun, kepedihan yang ditimbulkan akan tetap meninggalkan rasa sakit." sahutnya.
"Saya tidak apa-apa pak. Sebaiknya kita kembali kesana. Saya harus bertanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan itu."
"Tugasmu sudah selesai. Saat, mereka telah berada di area milikmu. Maka semua beban tanggung jawab itu telah berakhir."
"Artinya, saya sudah boleh kembali. Dan tidak akan datang ke tempat ini lagi."
"Kamu pemilik area itu, tentu saja kamu memiliki kewajiban untuk menjaga area itu."
"Ada hal yang ingin saya diskusikan pada bapak."
"Sebaiknya kamu minum dulu."
pak Rasyid mengambil sebotol air mineral dari meja besar.
"Minumlah," dia menyodorkan botol itu setelah membuka tutupnya.
Aku meneguk air perlahan-lahan. Rasa haus membuatku, menghabiskan satu botol air mineral ukuran 600 ml.
Setelah minum, tenggorokan terasa lebih lega.
Pak Rasyid tersenyum sambil mengambil botol kosong dari tanganku.
"Kamu kehausan."
dia meletakan botol kosong ditempat sampah.
Kemudian membawa kembali sebotol air mineral. Diletakkan di atas meja dekat tempat tidur.
"Istirahatlah, setelah kondisimu lebih baik, aku akan mengantarmu kembali."
"Saya harus mendiskusikan hal ini, sekarang pak."
"Baiklah, soal apa itu?" dia duduk didekatku.
Mengelus kepalaku lembut.
"Apa saya bisa menitipkan surat kepemilikan pada bapak?"
"Hanya surat itu?"
"Iya, memangnya ada yang lainnya?" tanyaku bingung.
Pak Rasyid tertawa. "Aku hanya menggodamu. Baiklah, aku akan menyimpannya untukmu."
"Syukurlah, Akhirnya masalah itu dapat terpecahkan." ucapku lega.
"Satu lagi pak." kataku tiba-tiba.
"Apa itu?"
"Saya ingin menyimpan pakaian ini disini. Apa bapak keberatan?"
Wajah pak Rasyid seketika berubah mengeras saat mendengar aku mengatakan hal itu.
Dia menatapku tajam-tajam.
Seakan ingin menikamku dengan tatapannya itu.
"Saya tidak dapat menyimpannya di dunia manusia pak. Kalau sampai ada yang mengetahui tentang pakaian ini, nyawa saya akan terancam."
"Itu hanya alasanmu."
"Tidak pak, manusia akan melakukan apapun untuk mendapatkan benda yang berasal dari dunia astral. Saat mereka mengetahui tentang pakaian ini, mereka akan menggunakan segala cara untuk mendapatkannya."
"Pakaian ini memiliki kekuatannya sendiri. Tidak bisa dimiliki dengan sembarangan. Dia akan kembali padamu, setiap kali ada yang mengambilnya."
"Walaupun begitu, tetap akan ada pertarungan ghaib untuk mendapatkan pakaian ini, pak. Dan hal itu, dapat mengancam jiwa saya."
Pak Rasyid menarik nafas berat. Dia menopang wajahnya dengan tangan kanan.
Kemudian mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
Dia menatapku sebentar. Lalu berdiri dan berjalan mondar-mandir. Dari pintu menuju ke tempat tidur.
Memandangku dengan gelisah, kemudian kembali berjalan kearah pintu.
Ntah sudah berapa kali, dia melakukan hal itu.
Aku tidak berani menegur atau mengatakan sesuatu padanya. Hanya memperhatikan semua gerak-geriknya yang mencurigakan itu.
Kegelisahan yang terlihat, membuatku khawatir. Dan apa yang ku khawatirkan Akhirnya terjadi.
🍃🍃