SINTRU

SINTRU
SINTRU-93



By: Tiara Sajanaka


🌼"Bapak sangat menyayangi Rasyid, sampai melakukan apa saja untuknya."


"Sekarang kamu mengerti? Kenapa saya melakukan semua itu?"


"Ya, Rasyid terlalu muda. Dia juga hidup dalam aturan dan kedisiplinan tinggi. Itu sebabnya, caranya bersikap dan berfikir berbeda dengan Manggala."


"Rasyid dipersiapkan ibunya untuk menjadi pemimpin. Itu sebabnya, dia di didik sangat keras."


"Dia ingin merasakan kebebasan sebentar saja, pak. Setelah itu, dia akan melakukan semua tanggung jawabnya."


"Apa dia mengatakan hal itu padamu?"


"Tidak, tapi saya bisa merasakan. Dia ingin ke dunia netral. Melepaskan segala kegelisahannya untuk beberapa saat."


"Temani dia, setelah itu..kembalikan dia dalam keadaan utuh."


Aku tertegun mendengar kata-katanya. Kenapa aku yang harus menjaga Rasyid?


Tetapi, ada baiknya memberi kesempatan kepada Rasyid untuk beristirahat sejenak dari kegelisahannya selama ini.


"Apa bapak bisa berjanji tidak akan memaksanya menggantikan bapak dalam waktu dekat?"


"Tentu saja, Lira. Selama dia tidak mengambil keputusan tinggal bersamamu. Aku akan memberikan waktu padanya."


Akhirnya, aku bisa bernafas lega. Sekarang, tinggal bagaimana caranya membuat Rasyid tidak lagi memiliki keinginan untuk bersamaku.


Kami masih berbincang tentang beberapa hal. Mengenai hubunganku dengan pria yang telah menjadi suamiku di dunia Astral.


Tidak banyak yang bisa ku jelaskan padanya. Sebab, aku memang tidak memiliki ingatan tentang pria itu.


Setelah Arkana merasa sudah cukup berbicara denganku, kami kembali ke tempat Rasyid menunggu.


Rasyid terlihat lega sewaktu melihatku datang. Dia langsung mendekat dan menarik tanganku.


Aku berusaha menahan langkahku.


Memintanya agar bersikap sopan pada ayahnya.


Kulihat dia sedikit enggan melakukan. Tapi, aku mendesaknya dengan tatapan mataku.


Akhirnya, dia melepaskan tangannya. Kemudian mendekati Arkana.


Mereka berbicara menggunakan bahasa mereka. Setelah itu, Rasyid berpamitan pada Arkana.


Aku juga berpamitan pada Arkana. Serta mengatakan padanya,kalau aku akan membawanya pulang dalam keadan utuh.


Arkana tersenyum lebar. Dan meminta seorang prajurit mengantar kami sampai gerbang besar.


Keluar dari istana kosong itu, Rasyid langsung mencecarku dengan banyak pertanyaan. Aku tertawa geli, setiap kali dia menanyakan sesuatu padaku.


"Kenapa kamu diam? Jawab pertanyaanku Lira." ucapnya gusar.


"Kamu sudah selesai dengan semua pertanyaanmu?" tanyaku terkekeh.


"Baiklah Pak Rasyid,"


"Kenapa harus pakai pak lagi? Hadeuuh, kamu ini sering sekali memancing emosiku."


"Tenangkan dirimu, dan aku akan menjawab pertanyaanmu."


Dia melepaskan cengkraman tangannya dari bahuku. Menarik nafas beberapa kali, kemudian kembali menatapku.


"Aku sudah tenang." ucapnya datar.


"Baiklah, dengarkan jawabanku. Aku akan menemanimu ke dunia netral. Tapi, aku juga punya syarat untuk itu." aku diam sejenak, melihat reaksinya.


"Katakan, apa syaratnya."


"Setelah dari dunia netral. Kamu tidak boleh memiliki keinginan tinggal bersamaku. Tapi, kita akan tetap memiliki komunikasi yang baik."


Rasyid memandangku dengan wajah memerah. "Kalau begitu, kita tidak perlu pergi kesana."


"Tidak apa-apa. Tapi, kamu harus segera menggantikan pak Arkana. Hanya itu pilihannya.Tidak ada pilihan ke tiga."


"Kalau aku menolak semuanya?"


"Kamu tahu konsekuensinya. Dan tentunya, aku akan terkena imbas dari pemberontakkanmu itu."


Rasyid mendengus kesal. Dia berjalan kearah dinding pembatas istana kosong.


Lalu menghantam dinding itu sampai berlobang besar.


Para penjaga keluar, menuju kearah kami.


Mereka terdiam, sewaktu melihat dinding pembatas bagian luar berlobang besar.


Mereka tidak berani bertanya. Rasyid juga tidak menjelaskan apa-apa pada mereka.


Tak lama kemudian, perlahan-lahan mereka meninggalkan kami.


Aku menjadi kesal padanya. Dengan cepat, aku melompat keatas.


Terbang menuju ke tempat mbak Kun.


Lebih baik, aku mengalihkan pikiran dengan menemuinya.


Disaat sedang terbang di wilayah Arkana, aku memang harus waspada. Karena banyak sekali kekuatan astral negatif di sini.


Itu sebabnya, selama terbang di wilayah ini, aku belum pernah bisa menikmati suasana setiap area yang kulewati.


Kekuatan astral negatif yang paling kuhindari adalah banaspati. Kekuatan ini sangat jahat serta tidak mengenal ampun.


Ada baiknya, tidak berurusan dengan kekuatan astral jenis itu.


🍃🍃