
By: Tiara Sajanaka
🌼Di depan sebuah bangunan berpilar besar, Arkana menghentikan langkahnya.
Dia meminta penjaga untuk tidak mengijinkan mbak Kun masuk.
"Kenapa temanku tidak boleh masuk?" protesku.
"Kamu tidak ada hak untuk protes disini." ketusnya.
Sewaktu aku melihat kearah mbak Kun, dia mengatakan akan menungguku di luar gedung.
Kuanggukkan kepala dengan perasaan sedih.
Kemudian mengikuti langkah Arkana menuju ke sebuah ruangan besar.
Didalam ruangan ini, sepertinya digunakan untuk rapat militer.
Berbagai jenis senjata dan pakaian militer, terlihat digantung dengan rapi.
Setelah melewati ruangan senjata dan pakaian, kami melewati sebuah aula besar. Didalam aula terlihat kursi-kursi dan meja panjang. Sampai ujung ruangan, sebuah singgasana besar berada ditengah. Di apit singgasana kehormatan dibagian kanan dan kiri. Ukurannya lebih kecil dari singgasana yang berada di tengah.
Tiga di kanan, tiga di kiri.
Arkana duduk di singgasana besar itu.
Dia memintaku duduk di sebelah kanannya.
Tetapi, aku memilih tetap berdiri di depannya dalam jarak lima meter.
"Kamu aku ijinkan merasakan duduk disebelah kananku. Tempat wanita utamaku." ucapnya lembut.
"Tempat itu adalah milik ibunya pak Rasyid. Saya tidak akan pernah menggantikan posisinya."
"Apa Rasyid mengatakan padamu?"
"Tidak pak. Pak Rasyid terlalu tertutup."
"Lalu darimana kamu tahu, kalau tempat itu, adalah milik Zultanite?"
"Dari batu permata yang di gunakan sebagai hiasan di sandaran itu, pak." tunjukku pada sandaran singgasana kecil itu.
"Hmmm, kamu terlalu banyak tahu."
"Saya tidak pernah berhenti belajar pak." jawabku merendah.
"Begitu? Baiklah..aku membawamu kesini untuk menunjukkan tempat yang bisa kamu pilih sendiri untuk teman-temanmu itu."
Dia memanggil beberapa orang penjaga. Dan meminta mereka menunjukkan hologram peta wilayah milik Arkana.
Ruangan menjadi sedikit redup, sewaktu mereka mengaktifkan hologram.
Di tengah ruangan, terpampang peta wilayah berukuran lima kali sembilan.
Tapi, peta itu dapat di geser menggunakan gerakan tangan. Tanpa perlu menyentuh tirai hologram.
"Kamu bisa melihat jelas, setiap areanya. Kira-kira area mana yang kamu inginkan?"
Kuperhatikan setiap bagian area di dalam peta. Peta itu memiliki gambar yang jelas.
Serta terlihat gambar wajah-wajah pemilik setiap area. Disana juga ada gambar pak Rasyid dan Mangala."
"Saya memilih area disini, pak." tunjukku pada area Antara tempat pak Rasyid dan Manggala. Disana area paling netral untuk astral dimensi kedua.
"Baiklah, aku akan memberikan area itu padamu. Nanti, kamu bisa mendapatkan bukti kepemilikan area itu."
"Bukan untuk saya, pak. Sebaiknya bukti kepemilikan itu diberikan kepada mereka saja."
"Kamu mau, mereka saling memperebutkan bukti itu? Mereka bisa saling menghabisi untuk mendapatkannya."
"Kenapa mereka sama serakahnya seperti manusia?" tanyaku heran.
"Ya! Mereka sama serakahnya. Itu sebabnya, hanya kamu yang boleh menjadi pemilik area itu."
"Saya tidak ingin apapun dari tempat ini." tegasku.
"Kamu tidak akan membawa area itu ke dunia manusia. Kenapa kamu harus takut?"
"Pemberian dari dunia astral, akan membuat saya memiliki hutang kehidupan."
"Itu kalau kamu membawanya keluar. Maka, semua yang kamu nikmati di dunia manusia akan menjadi hutang. Sedangkan area itu, tidak mungkin kamu nikmati di dunia manusia."
"Tetapi, saya akan terikat pada surat kepemilikan itu." jawabku sedih.
"Jangan pikirkan itu. Kamu memiliki area itu, bukan berarti kamu harus tinggal disana."
Aku terdiam sejenak. Berusaha memikirkan hal itu.
"Bagaimana kalau kepemilikan itu saya serahkan pada Manggala?"
Arkana berdiri dari singgasananya. Dia mendekat ke arah peta. Memperhatikan peta itu sambil memainkan jenggotnya yang terlihat aneh.
"Semua putraku telah mendapatkan areanya masing-masing. Kalau kamu memberikan hak itu pada Manggala, maka akan ada kecemburuan pada putraku yang lainnya."
"Putra yang lain? Ada berapa putra yang bapak miliki?"
"Putraku semua berjumlah 90 dan putriku berjumlah 75. Kalau kamu menjadi istriku, maka akan bertambah lagi putraku." ucapnya serius.
"Bukankah kita telah memiliki kesepakatan. Kenapa bapak masih membahas masalah itu?"
"Manusia itu paling mudah tergoda pada harta, jabatan dan kesenangan pribadi."
Aku terdiam. Sebab, apa yang di katakannya memang benar. Manusia dengan usianya yang sangat singkat, menghabiskan waktu hanya untuk mencari kesenangan.
Sebaiknya, untuk saat ini aku terima dulu kepemilikan area itu.
Nantinya akan kupikirkan lagi buat pengalihan kepemilikan.
Karena aku tidak mau hidupku dan keturunanku akan terikat pada dunia astral.
🍃🍃