
By: Tiara Sajanaka
🌼"Apakah tempat yang kamu katakan itu adalah dimensi spasial?"
"Darimana kamu tahu dimensi spasial?"
"Aku hanya menebak, karena dimensi spasial adalah tempat terjadinya peristiwa-peristiwa dalam perjalanan waktu."
Pak Rasyid tersenyum, dia memegang kedua tanganku dan menatapku dalam-dalam.
"Kamu pernah membaca buku Harry Potter? Tentang dunia sihir."
"Ya, tentang sekolah Hogwarts. Dimana mereka harus masuk melalui portal-portal yang tidak terduga."
"Seperti itulah tempat yang aku katakan. Tetapi bukan berarti kita akan mengunjungi sekolah Hogwarts. Walaupun tempat itu adalah bagian dari imaginasi penulisnya. Namun dia mengetahui tentang tempat seperti itu memang ada."
"Apa sekolah Hogwarts itu memang ada di diantara dua wilayah?"
"Bukan begitu madsudku. Aku belum pernah melihat tempat seperti sekolah itu. Tetapi, tempat yang aku katakan, memiliki kesamaan Seperti dalam kisah Harry Potter."
"Kita akan masuk melalui portal yang tidak terduga?"
Dia menganggukkan kepalanya. Menatapku dengan mata bahagia.
"Lalu, kenapa gerbang disana sangat ekstrim?"
"Gelombang elektromagnetik disana tidak stabil. Dalam waktu satu hari, bisa terjadi perubahan cuaca beberapa kali."
"Kalau benar seperti itu, astral mana yang sanggup menjaga wilayah itu?"
"Dia setengah astral dan setengah manusia."
"Kamu sudah mengatakan hal itu, tetapi yang ingin kutanyakan adalah, dia dari astral jenis apa?"
"Kalau kamu bertemu dengannya, maka kamu akan tahu. Dari bangsa apa dia berasal."
"Aku tidak memiliki kemampuan bertahan pada cuaca ekstrim. Bagaimana caraku dapat bertahan saat melewati gerbang?"
"Kamu bisa mengenakan pakaian yang kuberikan."
Aku terdiam sejenak. Mencoba memilih antara pergi atau tidak. Sayangnya, aku selalu ingin tahu tentang sesuatu yang baru.
Hal itu membuatku tidak pernah berfikir panjang dalam mengambil keputusan.
"Kapan kita akan kesana?" tanyaku antusias.
"Kamu bersedia menikah denganku?"
"Bukan itu tujuanku kesana. Aku ingin tahu, Seperti apa dunia netral itu."
Pak Rasyid melepaskan tanganku dengan kesal.
Dia berjalan keluar tenda tanpa mengatakan apapun.
Seharusnya dia tahu, kalau aku tidak bisa menikah dengannya.
Kukemasi barang-barang milikku.
Memasukkan ke dalam tas ransel.
Serta membersihkan sampah cemilan juga botol bekas kemasan air mineral.
Sebentar lagi, kami sudah bisa meninggalkan tempat ini.
Tapi aku belum tahu, kemana tujuan kami selanjutnya.
Setelah membuang sampah pada wadah yang telah disediakan.
Aku bergegas menuju kamar mandi.
Membersihkan diri juga berganti pakaian.
Tas ransel sudah berubah menjadi tas laundry. Sangat tidak nyaman membawa pakaian kotor kemana-mana.
"Aku harus pulang untuk mencuci pakaian." kataku sewaktu berdiri didekatnya.
Dia melirikku sekilas, kemudian melihat kearah pantai di bawah tebing.
"Kamu tidak mendengarku?"
Dia tetap diam dengan wajah dingin.
"Baiklah, aku akan pulang sendiri." ketusku sambil meninggalkannya.
Dia menarik lenganku, sampai aku hampir terjatuh. Tapi dengan sigap dia menarikku kedalam pelukannya.
Suara degup jantungnya terdengar jelas. Dia sedang berusaha meredakan amarahnya dengan memelukku.
Sebaiknya aku diam sampai dia melepaskan pelukannya.
"Kenapa kamu menolakku?" ucapnya lirih.
"Aku tidak menolakmu. Tapi kita memang tidak bisa menikah."
"Apa kamu masih memiliki ikatan dengan pria lain?"
"Aku tidak tahu. Hanya saja, aku merasa memiliki seseorang yang selalu mengawasiku."
"Aku akan memintanya untuk melepaskanmu."
"Bukan karena dia, tapi aku tidak bisa memiliki ikatan dengan bangsa kalian.Konsekuensinya akan berat sekali untukku."
"Kalau kita saling mencintai, kita tidak akan merasa berat menjalani."
Ingin sekali menjelaskan padanya, kalau manusia yang menikah dengan bangsanya akan sangat sulit melewati perjalanannya sebagai manusia normal.
Kehidupannya akan berubah drastis. Dan harus siap dengan pandangan orang pada diri kita.
Tidak sesederhana seperti yang dipikirkannya.
Cinta memang penting dalam menjalani hidup bersama. Tetapi manusia membutuhkan kehidupan sebagai manusia. Makanan, pakaian, kehidupan sosial dengan masyarakat sekitar serta banyak hal yang harus menjadi pertimbangan.
Terdengar dia menghela nafas berat.
Memelukku erat. Dan mencium keningku.
Aku berusaha memikirkan kalau dia adalah pak Rasyid.
"Aku antar kamu pulang. Istirahatlah dua hari. Setelah itu persiapkan dirimu untuk perjalanan ke tempat netral."
"Dengan tubuh astral?"
"Tidak, kamu akan pergi dengan tubuh material."
Kudorong tubuhnya perlahan.
"Tubuhku akan hancur seketika ditempat seperti itu."
"Justru, kalau pergi dengan tubuh astral, maka tubuh astralmu akan lerai di udara."
Wajahku terasa kebas seketika. Betapa mengerikan tempat itu. Lalu kenapa dia bertekad membawaku kesana?"
"Bukankah tubuh material lebih rapuh?"
"Kamu bukan manusia seutuhnya.Itu sebabnya, kamu bisa berada disana. Dan sebenarnya, Disanalah tempat terbaik untuk manusia sejenismu."
"Apa? Seenaknya saja mengatakan aku bukan manusia seutuhnya. Aku manusia! 100 persen manusia." sahutku marah.
🍃🍃