
By: Tiara Sajanaka
🌼Pak Rasyid datang bersama Manggala dan Mavendra. Mereka bertiga langsung duduk didepan tempatku memasak.
"Aromanya harum sekali. Masakan apa itu?" tanya Manggala.
"Kami menyebutnya sayur mangut ikan asap."
"Kenapa disebut begitu? Apa sewaktu memakannya sampai mangut-mangut?" tanyanya serius.
Aku terkekeh mendengar dia mengucapkan kata mangut-mangut.
"Mana ada bahasa mangut-mangut. Yang ada itu manggut-manggut."
"Oh, beda ya?"
"Beda, mangut dan manggut. Dua kata yang berbeda. Tetapi, mungkin memiliki arti sama."
"Bahasa manusia itu terlalu banyak dan bikin pusing." keluhnya.
"Lebih rumit bahasa astral. Sampai sekarang aku tidak tahu bahasa kalian."
"Bukan rumit. Tapi sulit untuk manusia memahami bahasa kami. Kami berbicara dengan cara berbeda."
"Ya, kalian berbicara seperti orang sedang bertengkar. Tapi terdengar seperti suara bisikan."
"Kamu beruntung memiliki telinga yang bisa menangkap gelombang suara kami. Manusia biasa tidak bisa mendengar suara kami."
"Kalian terlalu berisik saat berbicara. Tentu saja aku bisa mendengarnya."
Manggala tertawa lebar.
Dia membantuku menyiapkan piring dan sendok.
"Sang panglima sangat pengertian." godaku.
"Aku sering membantu ibu. Beliau sangat senang setiap kali aku membantu menata peralatan makan di meja makan."
"Aku juga senang. Beruntung sekali wanita yang menjadi istrimu nantinya."
"Ehem..ehem, trus yang menjadi istriku tidak beruntung?" sahut pak Rasyid
Aku tertawa geli, dia sangat sensitif.
Pak Rasyid adalah tipe Pria aristokrat yang dibesarkan dengan memegang tradisi patriarki. Dia tidak menyentuh pekerjaan rumah. Hanya tahu memberi perintah.
Serta mengurus urusan pekerjaan di wilayah Arkana.
Selesai memasak, kusiapkan semua didalam mangkok.
Setiap orang mendapatkan satu porsi sayur mangut. Ada nasi putih yang telah disiapkan karyawan villa.
Ada kerupuk ikan tengiri, sayur rumput laut Boni segar. Kesukaan Manggala dan Mavendra.
Terung bakar, sambal ebi, sate ikan serta pencuci mulut puding rumput laut putih.
Atau kami menyebutnya Bulung.
Kami duduk berempat di meja dekat kolam renang. Suasana temaram membuat makan malam kami terasa begitu menyenangkan.
"Apa perut kalian tahan dengan masakanku?" tanyaku pada Manggala dan Mavendra.
"Tentu saja. Kami sudah terbiasa menikmati makanan pedas." jawab Manggala.
"Apa kalian juga menggunakan bumbu dapur manusia?"
"Tidak, kakak ipar. Kami memiliki bumbu dapur alami dari aneka jamur, kerang batu, ganggang, serta berbagai tanaman menjalar di bawah air. Semua memiliki cita rasa yang lezat."
"Warna itu, kita sendiri yang menciptakan."
"Sepakat." kataku.
Menyenangkan sekali bisa berbincang dengan Manggala. Dia bisa merespon dan memahami apa yang kubicarakan.
Kalau saja, aku bisa mendapatkan teman diskusi yang smart seperti Manggala, pasti banyak hal yang akan kami diskusikan berdua. Sayangnya, sedikit sekali pria yang smart seperti Manggala.
Sedangkan pak Rasyid, dia sedang bergelut dengan perasaan dan emosinya.
Hal itu membuatnya menjadi tidak jernih saat berdiskusi denganku.
Dia juga sering memilih menghindari perdebatan.
Menyebalkan sekali.
Selesai menikmati makan malam, kami mengobrol diteras yang menghadap ke area persawahan.
"Aku masih belum ingat, kalau dulu pernah memasak untukmu." kataku pada pak Rasyid.
"Sewaktu kamu kost di Nusa dua. Sebelum kamu pergi jauh dari pulau Bali."
"Tapi, aku sudah lama tidak bertemu Arya. Bagaimana kamu menemuiku?"
"Aku tidak akan mengatakan bagaimana caraku waktu itu menemuimu. Yang pasti, ikan terbang masakanmu itu, benar-benar membuatku terbang."
"Ikan terbang?" tanya Manggala dan Mavendra berbarengan.
Pak Rasyid terkekeh melihat mereka terkejut.
Aku juga bingung dengan ikan terbang yang dimaksudnya.
"Masakan ikan asap itu, nikmatnya Seperti saat kita terbang. Membuatku juga serasa terbang saat menikmatinya. Andai setiap akhir pekan aku bisa menikmati masakanmu itu, rasanya tidak ada lagi yang kuinginkan."
"Haha..kamu belum merasakan hal lain dalam hidupmu. Sampai masakan bisa membuatmu terbang." kata Mavendra.
"Memangnya ada yang lebih dari itu?" tanyanya bingung.
"Setelah kamu menikah, kamu akan tahu hal itu." jawab Mavendra.
Mendengar jawaban Mavendra, aku langsung melotot kearahnya.
Mavendra tertawa terbahak-bahak melihat wajahku memerah.
Manggala tertawa sampai terbatuk-batuk.
Sedangkan pak Rasyid, wajahnya seketika Seperti udang rebus. Dia melirikku sekilas, sebelum pergi meninggalkan kami.
"Dia tidak tahu caranya bercanda." gelak Manggala.
"Memangnya kamu tahu apa yang dimaksud oleh Mavendra?" tanyaku pada Manggala.
"Biarpun aku belum menikah, setidaknya aku tidak senaif itu. Usia tiga ratus tahun, bukan berarti aku masih anak-anak."
"Bagaimana dengan pak Rasyid?"
"Dia itu di didik dengan ketat. Itu sebabnya dia takut dosa."
Aku tersenyum mendengar jawaban Manggala. Mungkin cara ibu mereka mendidik berbeda. Manggala memang terlihat lebih terbuka dan berwawasan luas.
Pak Rasyid, cenderung sangat menjaga etika dan tata cara kelas atas.
Itu sebabnya, dia begitu santun dan berhati-hati dalam berbicara juga dalam bersikap.
🍃🍃