SINTRU

SINTRU
SINTRU-41



By: Tiara Sajanaka


🌼 Tuan Arkana turun dengan megahnya.


Sayapnya yang besar, perlahan-lahan menutup. Saat kakinya menyentuh tanah.


Tanduknya masih mencuat dengan jelas.


Badannya juga terlihat merah menyala.


Sewaktu berjalan kearah kami, aku seperti melihat sulap yang menakjubkan.


Tanduk di kepalanya seketika mengecil.


Badannya mulai menunjukkan wujud manusia.


Makhluk yang sungguh menakjubkan.


Tuan Arkana memang agung.


Dan dia terlihat kalau sedang menunjukkan, bahwa dia adalah sang penguasa.


Aku sangat terkejut sewaktu tuan Arkana mengatakan kalau pak Rasyid adalah putranya.


Tidak pernah terpikirkan sama sekali.


Kalau mereka adalah ayah dan anak.


Pak Rasyid bermata biru, berambut coklat.


Dengan badan, murni seperti manusia.


Walaupun dia adalah putra dari jin merah.


Sedangkan tuan Arkana, wujudnya sangatlah nyata. Sebagaimana wujud jin merah seperti Aries.


Apa aku tidak takut pada mereka?


Tentu saja, sebagai manusia aku tetap memiliki rasa takut. Namun rasa takut itu tidak boleh besar.


Agar energiku tidak terserap oleh kekuatan dunia astral.


Tuan Arkana berdiri tepat didepan kami.


"Kamu menikam ayahmu sendiri, Rasyid." geramnya.


"Saya tidak melakukan hal kotor seperti itu, tuan." jawabnya takzim.


"Tapi kamu tahu, aku menginginkan dia menjadi wanitaku."


"Apa dia menerima tuan?"


"Aku memintamu untuk mengawasinya. Bukan menjadikan kekasihmu."


"Lira adalah samsara, tuan. Dia kutunggu sekian lama."


Aku menjadi tidak mengerti dengan pembicaraan mereka. Kenapa pak Rasyid mengatakan kalau aku adalah samsara?


Bukankah samsara itu jiwa yang mencari wadahnya?


Jiwa yang terjebak pada perputaran Reinkarnasi.


"Apa karena kamu, dia menolakku?"


"Tidak, tuan. Lira tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan dunia astral."


Arkana menatapku tajam. "Benar itu Lira?"


"Benar pak. Saya tidak mau terlibat lebih dalam dengan dunia astral."


"Apa bedanya dengan menjadi kekasih Rasyid?"


"Saya bukan kekasih pak Rasyid. Saya sedang menjalankan tugas di wilayah bapak." jawabku gemetar.


"Kalian bersekongkol menipuku." geramnya.


Tuan Arkana mengibaskan sayapnya dengan marah.


Pak Rasyid semakin erat memegang tanganku.


"Aku akan membuka meja persidangan untuk kalian." suara Arkana terdengar menggelegar.


"Lira tidak akan pernah menghadiri meja persidangan. Dia bukan bagian dari dunia astral. Tuan tidak bisa menggunakan hukum dunia astral kepada manusia." tegas pak Rasyid.


"Kamu sama seperti ibumu! Selalu menentangku." hardiknya.


Pak Rasyid diam sambil terus menatap Arkana.


Sebenarnya aku tidak khawatir, kalau Arkana akan menyerang atau meraihku.


Karena dia tidak dapat menyentuhku.


Tetapi, aku melihat pak Rasyid sangat pandai mengendalikan diri.


Cara bicaranya juga tenang dan bijak.


Arkana menatapku tajam. Dia memang sangat marah padaku.


Sedangkan aku merasa, dia tidak berhak marah.


Aku bukan milik siapa-siapa.


Tiba-tiba Arkana meminta para penjaga mengurung kami.


Seketika langit disekeliling kami menjadi merah dan berapi.


Mereka bersiaga dengan senjata crosbownya.


Pak Rasyid memintaku masuk kedalam jubahnya. Serta memintaku agar memeluknya dengan erat.


"Jangan melepaskan pelukanmu, sebelum kuminta." bisiknya.


Kuanggukkan kepala sambil memejamkan mata.


Tiba-tiba aku merasa kalau kami sedang terbang dengan cepat.


Sewaktu aku melihat kebelakang, para penjaga mengejar kami. Tapi mereka tidak melepaskan anak panahnya.


Jubah pak Rasyid berkibar-kibar sangat kuat.


Membuatku teringat pada bendera hitam di sektor lima belas.


Segera kupejamkan mata. Dan berusaha percaya sepenuhnya kepada pak Rasyid.


Kami masih berputar-putar untuk menghindari kejaran para penjaga.


Setelah mereka tertinggal jauh, pak Rasyid membawaku melewati gerbang astral.


Aku terbangun ketika kami sudah didalam kamar.


Kucoba untuk memulihkan pikiran. Melihat ke seluruh ruangan sambil mengumpulkan informasi kedalam memoriku.


"Minumlah," pak Rasyid memberiku segelas air.


Segera kuteguk isi gelas sampai habis.


Agar, oksigen cepat mengalir ke kepala.


"Apa itu meja persidangan, pak?"


"Meja persidangan, sama seperti ruang didalam pengadilan. Tempat untuk seseorang diadili."


"Untuk apa kita diadili? Memangnya kita melakukan kesalahan apa?" tanyaku heran.


"Kita tidak melakukan kesalahan apapun, Lira."


"Untuk apa tuan Arkana membuka meja persidangan kalau bukan untuk mengadili?"


"Jangan pikirkan itu. Semua bisa diselesaikan nantinya."


"Kenapa masalahnya jadi semakin melebar kemana-mana? Kalau saja, aku tetap fokus pada tugasku. Hal ini tidak akan terjadi." sesalku.


"Semua bukan salahmu. Dan selama tiga hari ini, kamu jangan pergi ke dunia astral. Sekalipun keinginan itu begitu besar. Kendalikan dirimu."


"Aku belum menyelesaikan urusanku. Mas Jantaka pasti akan menungguku."


"Aku sudah meminta orang menggantikanmu. Semua akan baik-baik saja."


"Bagaimana dengan istri mas Jantaka?"


"Lira, tidak semua hal harus kamu selesaikan. Tugasmu hanyalah memindahkan para astral penghuni villa itu. Urusan lainnya, kamu sudah jalankan. Jadi, beristirahatlah dalam beberapa hari ini."


"Apa bapak akan baik-baik saja?" tanyaku was-was.


"Hey, kamu mengkhawatirkanku?"


Dia langsung memelukku erat sekali.


"Aku akan baik-baik saja, *canim."


"Siapa canim?" tanyaku dengan rasa cemburu.


Pak Rasyid tersenyum sambil memegang wajahku. Kemudian dia mencium keningku dengan penuh perasaan.


🍃🍃


*Canim\= dibaca janim( janem seperti membaca adem)


Canim adalah bahasa Turki.


Artinya : sayangku.