
By: Tiara Sajanaka
🌼Jam lima sore, aku sudah pulang kerja.
Masih sempat masak nasi dan buat tumis ikan asin untuk berbuka puasa.
Semuanya kumasak menggunakan rice cooker.
Kebetulan siang tadi, ditempat kerja. Ada dua orang karyawan yang meminta di bacakan garis tangannya.
Aku memang memberikan jasa palmistry serta konsultasi masalah pribadi.
Dua orang karyawan itu, memberiku tanda terima kasih berupa uang.
Memang tidak banyak. Karena aku tidak menentukan harga untuk itu.
Namun aku bersyukur, rezeki hari ini bisa buat membeli bumbu dan sayur.
Selesai memasak lauk dan sayur, aku memasukkan beras ke rice cooker.
Kemudian membuat teh panas sebagai pembuka puasa nanti.
"Mbak Lira," suara Trisna mengagetkanku. Tiba-tiba saja dia sudah berdiri didepan pintu. Pintu memang sengaja kubuka sedikit. Agar aroma masakan tidak berputar-putar di dalam kamar.
"Hai Tris, masuklah. Tumben sudah pulang kerja."
Trisna masuk ke kamarku sambil menutup pintu.
Kemudian duduk dlesor didekatku.
"Ada apa? Kamu baik-baik saja kan?"
"Aku baik mbak. Kebetulan hari ini aku off. Jadi seharian didalam kamar."
"Kamu sudah makan? Nanti makan bareng ya. Temani mbak berbuka puasa."
"Trisna sudah makan mbak. Tadi beli di kedai bawah." ucapnya lemah.
Tempat kost kami merupakan ruko tiga lantai.
Lantai satu adalah tempat usaha pemilik kost.
Sebuah kedai kopi untuk sarapan dan makan siang.
Jam lima sore, kedai sudah tutup.
Di belakang kedai, ada ruangan untuk bapak penjaga kost. Berupa kamar dan kantor kecil.
Lantai dua dan lantai tiga, dibangun kamar-kamar berukuran tiga kali empat.
Dengan kamar mandi didalam dan pantry kecil.
Sedangkan pemilik ruko tidak tinggal di ruko ini.
"Kamu kok terlihat lemah begini. Ada apa sebenarnya?" tanyaku heran.
"Mbak bisa pegang rahasia nggak?"
"Mbak nggak suka ngember Tris. Tapi, kalau kamu tidak yakin sama mbak, sebaiknya jangan menceritakan rahasia itu."
"Tris percaya sama mbak. Tapi Tris bingung harus cerita darimana."
"Sebaiknya, sekarang Tris tenangkan diri dulu. Mbak mau mandi dan berbuka puasa.
Setelah sholat magrib. Nanti kita lanjutkan mengobrolnya, ya." kataku lembut.
Trisna menggeser duduknya ke arah kasur.
"Mbak, ini bantal guling apaan?" tanyanya terkejut.
Aku terkekeh melihat reaksinya.
"Kenapa?"
"Kok baunya kayak rempah-rempah. Trus kayak ada biji-bijian gitu?"
"Iya, itu bantal beras dicampur herbal."
"Untuk apa mbak?"
"Biar nyaman saat tidur. Aroma herbalnya menenangkan."
Trisna menekan-nekan bantal buatanku dengan lembut. Setelah itu, kembali memeluknya erat-erat.
"Iya, benar-benar bikin rileks mbak." katanya sumringah.
Kutinggalkan Trisna yang sedang asyik memeluk bantal guling.
Sebaiknya aku segera mandi, sebelum waktu magrib tiba. Agar bisa menikmati saat berbuka puasa dengan badan yang bersih dan segar.
Selesai mandi, kulihat Trisna sedang menangis. Beberapa kali dia menghapus air matanya menggunakan kaus yang dipakainya.
Kusodorkan kotak tisu didepannya.
"Ada apa?" tanyaku lembut.
Dia menyodorkan handphone padaku.
"Mbak baca itu. Tega sekali dia bicara begitu mbak."
Kuambil handphone dari tangannya.
Membaca tulisan yang terpampang di layar.
Aku terkejut dengan kalimat-kalimat balasan di handphonenya.
"Memangnya kamu ada masalah apa sama dia?"
"Nanti aku cerita ya mbak. Mbak berbuka saja dulu. Sebentar lagi sudah adzan."
Trisna duduk bersandar ke dinding.
Terlihat kesedihan diwajahnya.
Sebenarnya, aku sudah bisa merasakan.
Masalah apa yang sedang dialami Trisna.
Wanita yang tadi malam kesal padaku, ternyata memiliki masalah juga sama Trisna.
Setelah berbuka puasa, aku melaksanakan sholat magrib. Membaca Alquran satu halaman saja.
Kemudian menikmati masakan yang aku buat tadi.
Akhirnya Trisna ikut makan juga.
Dia tidak tahan dengan godaan tumis ikan asin didepannya.
Kami makan berdua sambil membahas masalah kami dengan wanita yang bernama Luna itu.
🍃🍃