SINTRU

SINTRU
SINTRU- 109



SINTRU- 109


By: Tiara Sajanaka


🌼"Sudah sampai." tunjuknya kearah gerbang astral.


Rasyid memelukku lama sekali, sampai akhirnya aku benar-benar kembali ke tubuh material.


Aku mencoba mencari informasi tentang akar laut yang dikatakan Rasyid.


Ternyata akar laut itu, termasuk hewan yang dilindungi. Walaupun begitu, aku melihat banyak orang yang memperdagangkan sebagai aksesoris.


Semoga saja, mereka benar-benar tahu fungsi dari akar laut itu.


Bukan hanya sekedar untuk terlihat gagah dan sangar.


Kandungan garam didalam akar laut itu, dapat memberikan efek positif pada manusia.Juga meningkatkan stamina pada tubuh yang mengalami penurunan energi.


Sekarang aku paham, kenapa Rasyid meminta Manggala untuk mengambil akar laut. Semoga saja hal itu tidak membuat akar laut mengalami kerusakan.


Kira-kira seberapa banyak istri mas Jantaka membutuhkan akar laut?


Unik sekali tubuh manusia. Selama ini manusia bisa mendapatkan kekuatan dari makanan dan minuman.


Ternyata manusia masih membutuhkan makhluk dari dasar laut untuk proses pemulihan.


Keesokan harinya, aku bekerja seperti biasa.


Aku tidak bertemu Trisna. Mungkin dia masuk pagi. Semoga saja, nanti sore kami bisa bertemu.


Aku agak khawatir dengan kondisinya.


Dia tidak pernah meminta bantuan padaku.


Sedangkan aku tahu, kalau dia sedang mengalami masa-masa sulit.


Ditempat kerja, hatiku sudah lebih baik.


Tidak emosional lagi. Tapi aku lebih suka duduk sendiri sambil memikirkan hubunganku dengan Rasyid.


Sampai kapan kami akan terus seperti saat ini?


Andai dia dapat berubah wujud sebagai manusia, apa aku tidak mendapatkan hukuman?


Sebab, aku telah memiliki pria lain di dunia mereka. Lalu, bagaimana dengan Rasyid?


Apa semesta akan membiarkan kami bersama?


Terlalu rumit hubungan yang kami jalani.


Aku juga tidak menyangka akan jatuh cinta padanya seperti sekarang ini.


Waktu terus berjalan, suatu saat perpisahan itu pasti akan terjadi. Perpisahan yang akan membuatnya terluka cukup lama.


Sedangkan aku, akan mengalami proses untuk melupakan mereka.


Setelah itu, semua tentang kehidupan mereka, hanya akan menjadi bagian dari file masa laluku. File itu akan tersimpan dialam bawah sadar. Alam paling bawah dalam perjalanan manusia.


Pulang kerja, aku mencari Trisna di kamarnya.


Kulihat kamar yang lain juga tertutup.


Ntah mereka sudah pulang kerja, atau mereka sedang menghabiskan malam Minggu diluar.


"Hai mbak Lira," sapa seseorang, sewaktu aku akan masuk kedalam kamar.


Aku menoleh kearahnya. Tapi aku tidak mengenal gadis itu.


"Hai juga, kamar nomer berapa?" tanyaku santun.


"Ini," tunjuknya pada kamar Luna.


"Oh, saudaranya Luna?"


"Bukan mbak, saya warga baru. Baru kemarin sore pindah."


Aku sedikit terkejut. Jadi, Luna kemana?


Kuurungkan niat untuk masuk kamar.


Aku berjalan mendekati gadis itu. Usianya mungkin sepantaran Trisna.


"Darimana tahu namaku?"


"Mbak Trisna yang cerita. Tapi, kemarin mbak Lira nggak terlihat keluar kamar."


Aku tersenyum padanya. "Siapa namamu?"


"Fara,"


"Baiklah Fara, apa kamu tahu kemana Luna?"


"Hmm, dia dibawa keluarganya untuk pengobatan, mbak."


Kupandang Fara dengan perasaan tidak karuan. Aku hanya dua hari tidak keluar kamar. Ternyata sudah ada kejadian yang membuatku terkejut.


"Kapan?"


"Dua hari yang lalu, kata mbak Trisna."


"Kok aku nggak dengar apa-apa ya?" gumamku.


Fara membuka pintu kamarnya. Dia mengajakku untuk masuk dan mengobrol.


Sepertinya Fara sangat supel.


Dia bisa bergaul dengan mudah.


Anehnya alarm tanda kewaspadaanku bekerja. Membuatku segera meminta ijin padanya untuk kembali ke kamar.


Sesampainya didalam kamar. Aku mencoba mencari tahu, kenapa alarm kewaspadaan bekerja?


Bukankah dia gadis yang baik, ramah dan sopan?


Apa ada sesuatu didalam dirinya yang membuat aku harus bersikap waspada padanya.


🍃🍃