SINTRU

SINTRU
SINTRU- 59



By: Tiara Sajanaka


🌼"Ini surat kepemilikan area itu. Kamu sudah sah menjadi pemiliknya."


Arkana memberiku sebuah tabung berwarna keemasan. Aku tidak membukanya, karena telah tahu apa isi didalam tabung itu.


Sekarang, aku bingung.


Bagaimana caranya memberikan surat kepemilikan itu pada pak Rasyid.


Sebab aku sudah tidak ingin bertemu dengannya lagi.


Sementara surat itu, akan kusimpan dulu.


Sampai dapat menemukan seseorang yang dapat kupercaya.


"Saya tidak mengerti dengan cara bapak untuk menghindarkan saya dari kejadian seperti yang dialami kekasihnya."


"Madsudmu, dengan menikah denganmu?"


"Iya,"


"Kalau kamu menjadi wanita utamaku, Rasyid tidak akan pernah mendekatimu. Karena dia sangat menghormati semua istri-istriku."


"Tapi, hal itu bukan penyelesaian yang baik. Akan ada hati yang terluka karena keputusan bapak."


"Benar, dan juga kehidupan yang tidak direnggut dengan paksa. Pilihan yang dapat di pahami bukan?"


Sebaiknya memang tidak berdebat dengan mereka. Usia mereka jauh lebih tua dariku. Tentu mereka adalah ahli argumentasi dengan menggunakan segala kemungkinan. Walaupun kemungkinan itu sangat tidak masuk akal.


"Apa kamu masih tidak berubah pikiran?"


"Tidak pak. Saya tetap pada keputusan yang sudah disepakati."


"Baiklah, kamu sudah harus kembali. Saya akan meminta seseorang untuk mengantarmu."


Arkana memanggil seorang pekerja dari kediaman pak Rasyid.


Dia meminta pekerja itu agar mengantarku sampai gerbang astral.


"Besok kamu harus melihat hasil kerja kerasmu selama ini. Jangan khawatir soal Rasyid. Dia akan baik-baik saja."


"Apa boleh, saya tidak kembali ke sini lagi pak?"


"Semua tergantung yang memintamu datang. Apa dia sudah bisa kamu lepaskan?"


Duh, aku hampir lupa. Selama energi istri mas Jantaka belum kembali. Aku belum benar-benar terbebas dari tanggung jawab itu.


Aku jadi teringat akan bantuan pak Rasyid.


Bagaimanapun dia telah membantuku mengembalikan sukma istri mas Jantaka.


Apa karena kesalahannya malam ini, akan membuatku sangat membencinya?


Aku tidak tahu.


Apa aku bisa memaafkannya?


"Lira," panggil Arkana.


"Iya pak."


"Besok saya akan menemanimu ke area itu. Saya juga ingin melihat Seperti apa Rasyid mendesain area milikmu.


"Baik pak, saya pamit dulu. Semoga besok, saya bisa datang. Kalaupun tidak, mungkin lusa atau beberapa hari kemudian."


Setelah berpamitan, aku mengikuti pekerja pak Rasyid yang akan menemaniku sampai gerbang astral.


Sebenarnya,tanpa ditemani aku bisa kembali sendiri. Walaupun gerbang astral selalu berpindah-pindah, aku bisa melihat dimana posisi mereka.


Sebab, benang silver penghubung tubuh astral dan tubuh material akan tetap tersambung. Aku tinggal mengikuti kearah mana benang silver itu berada.


Sewaktu berada di dunia Astral, aku bisa merasakan getaran yang datang dari benang silver. Makhluk lain tidak bisa melihat benang silver milik tubuh astral manusia.


Hanya manusia pemiliknya yang dapat merasakan vibrasinya.


Pekerja yang menemaniku seorang wanita muda yang terlihat cukup cantik.


Dia selalu menundukkan kepala saat berjalan didekatku.


"Apa saya membuatmu tidak nyaman?" tanyaku hati-hati.


Dia menggeleng dengan tetap menundukkan wajah.


"Sudah berapa lama bekerja di kediaman pak Rasyid?"


Dia kembali menggelengkan kepalanya.


Aku merasa ada sesuatu yang harus kuketahui tentang keseharian pak Rasyid.


Tapi, wanita muda ini tidak mau berbicara sama sekali.


Kuhentikan langkah seketika. Dia juga segera berhenti.


Sewaktu aku bergeser, dia mengikuti.


Ku coba berjalan lima langkah, dia juga berjalan.


Aku berhenti, dia berhenti


Terlihat sangat konyol.


Aku tertawa dengan kelakuanku sendiri. Sudah mempermainkan pekerja wanita itu.


Kudekati dia pelan-pelan. Ternyata dia mundur dengan gugup.


Ku raih tangannya dengan keyakinan kalau aku dapat menyentuhnya.


Dan benar!


Dia adalah manusia sepertiku. Aku dapat menyentuh tangannya.


Tubuh astralnya sudah menyatu dengan energi di wilayah ini.


Itu sebabnya, aku merasakan tangannya cukup hangat.


"Aku tidak akan mengganggumu. Tapi, tolong katakan padaku, apa semua pekerja di kediaman pak Rasyid adalah manusia?"


Wanita muda itu menggeleng dengan takut.


Dia takut, akan mendapatkan hukuman kalau sampai Berani berbicara pada manusia.


Walaupun awalnya dulu, dia adalah manusia.


Ntah bagaimana caranya mereka bisa bekerja di tempat ini.


🍃🍃