
By: Tiara Sajanaka
πΌDia menyuapiku buah-buahan yang telah dipotong dan tertata rapi diatas sebuah piring porselen.
Memintaku merasakan kenangan disetiap potongan buah itu.
"Buah ini terasa berbeda." tunjukku pada buah anggur hijau.
"Kamu sangat menyukai semua buah-buahan ini. Tidak semua buah, kamu mau memakannya. Hanya buah-buahan ini saja." tunjuknya ke piring.
"Benar. Aku hanya suka beberapa jenis buah saja."
"Bapak menanamnya di tanahmu."
"Bapak?"
"Iya, pria yang bersamaku. Dia adalah ayahmu di dunia kami."
"Oh Tuhan!" Kuusap wajahku berkali-kali. Kenapa aku bisa menjadi anak yang tidak tahu diri? Sampai melupakan semuanya tanpa sisa sedikitpun.
Akhirnya, kami berbincang lama sekali.
Banyak hal yang dia jelaskan padaku. Kenapa mereka mengambil keputusan untuk menghilangkan ingatanku tentang dunia mereka. Mereka dapat melakukan itu pada manusia. Karena mereka memiliki kemampuan membuat manusia melupakan dunia astral.
"Sekarang aku harus bagaimana?" tanyaku sedih.
"Jalani kehidupanmu sebagai manusia dengan pikiran lepas. Tapi tetap mengikuti dan mematuhi aturan-aturan di dunia manusia."
"Setelah aku selesai menjalani kehidupan sebagai manusia, apakah aku akan bersamamu?"
"Aku tidak bisa memberitahumu soal itu. Biarkan hal itu menjadi rahasia semesta." ucapnya bijak.
Menyenangkan sekali berbincang dengannya. Dia mengetahui banyak hal. Cara menjawabnya juga tenang dan teratur.
Mungkin hal itu yang membuatku jatuh cinta padanya. Sewaktu kami bersama dulu.
"Apa aku selalu berdiskusi denganmu?"
"Benar, kamu selalu memiliki pertanyaan. Dan aku merasa hidup setiap kali kita berdiskusi. Aku merindukan saat-saat itu."
"Kamu mencintaiku?"
"Dengan seluruh hidupku. Selamanya." jawabnya lembut.
Tak terasa aku mulai meneteskan air mata. Suaranya yang berat dan tenang. Membuatku ingin terus mendengarnya berbicara.
"Apa kita akan bertemu lagi didalam kehidupanku sekarang?"
"Kenapa?"
Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
Aku memandangnya dengan tatapan penuh kekaguman. Ternyata dia jauh lebih berwawasan dan lebih bijaksana dari pak Rasyid.
Aaah ...kenapa sekarang aku malah membanding-bandingkan mereka berdua?
Lira..lira..
Kamu memang beruntung dicintai dua pria terbaik di dunia Astral.
Mereka mencintai dengan tulus dan penuh pengorbanan untukmu.
Sayangnya, didunia manusia kamu belum menemukan pria-pria sebaik mereka.
Pak Rasyid menemui kami. Dan mengatakan kalau kami sudah harus pergi sebelum fajar.
Pria muda itu membantuku turun dari tempat tidur. Dia memberikan tanganku kepada pak Rasyid. Kemudian mereka berbicara menggunakan bahasa yang tak kupahami.
Tetapi, kulihat pak Rasyid mendengarkan dengan seksama. Dia mengangguk Beberapa kali. Sebelum akhirnya, mereka saling berjabat tangan.
Pria muda itu dan bapak mengantar kami sampai depan pintu besar.
Dan meminta dua pekerja agar menemani kami menuju mobil yang diparkir didekat sebuah pohon besar.
Sewaktu mobil memutar melewati taman depan, kulihat pintu rumah itu telah tertutup rapat.
Hatiku terasa kosong dan pedih saat mobil semakin menjauh dari rumah itu.
Sepanjang perjalanan, aku berusaha memejamkan mata dan menutup telinga.
Agar tidak mendengar percakapan mereka bertiga.
Sesampainya di Villa, aku segera membersihkan diri dan berganti pakaian.
Tidak lagi memperhatikan mereka bertiga yang masih asyik berdiskusi.
Mungkin masalah kami tidak sesederhana yang terlihat. Itu sebabnya, mereka sangat serius membahas masalah ini.
Aku naik keatas tempat tidur. Menutup badan dengan selimut tebal. Tak lama kemudian, Akhirnya aku bisa menangis sepuasnya.
Rasa sesak yang tertahan sejak tadi, bisa kulepaskan sekarang.
ππ