
By: Tiara Sajanaka
🌼Selesai sholat magrib, aku membaca Alqur'an. Bersyukur setelah kejadian gardu yang meledak hari itu, malamnya listrik sudah menyala kembali.
Suasana terasa sunyi sekali. Biasanya setelah magrib, kamar kost lainnya akan terdengar suara televisi atau suara musik.
Suasana hening ini, membuatku bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya.
Setelah membaca Alquran, aku keluar kamar.
Mengetuk pintu kamar Trisna. Teman sekamarnya yang membuka pintu.
Dan mengatakan kalau Trisna belum pulang kerja.
Sewaktu akan kembali ke kamar, terdengar suara jeritan dari kamar Luna.
Anak -anak kost terlihat membuka pintu. Mereka saling bertanya. Siapa yang menjerit tadi.
Aku diam sambil memperhatikan mereka.
Mereka saling berpandangan satu sama lainnya.
Tak lama kemudian, bapak penjaga datang.
Beliau bertanya, suara jeritan siapa yang terdengar sampai bawah.
Aku menunjuk kearah pintu kamar Luna.
Bapak penjaga menggedor pintu kamar. Menanyakan kenapa dia menjerit.
Tapi, Luna tidak juga membuka pintu.
Sampai akhirnya bapak penjaga membuka pintu menggunakan kunci cadangan.
Terlihat Luna sedang duduk dipojok kamar dengan wajah ketakutan.
Teman satu kamarnya yang baru pulang kerja, segera membawanya keluar dari kamar.
Aku hanya memperhatikan saja dari depan pintu kamarku. Karena aku tidak mau membuat orang menjadi salah paham padaku.
Setelah Luna tenang, dia dibawa masuk kembali ke kamar.
Kami semua juga masuk kedalam kamar masing-masing.
Sudah dua kali ini kejadian seperti itu.
Kenapa mereka tidak membawanya ke psikolog atau psikiater.
Siapa tahu, dia sebenarnya sedang mengalami depresi.
Masuk kedalam kamar, aku mencium aroma yang membuatku mengingat seseorang disana.
Setelah mengunci pintu. Aku melihat ke seluruh ruangan.
Dia ada disini. Tapi aku tidak bisa melihatnya.
"Keluarlah Manggala. Aku tidak bisa melihatmu."
"Bagaimana kakak ipar bisa tahu, kalau itu aku?" kekehnya.
"Wih..kakak ipar. Aku bukan kakak iparmu."
"Sebentar lagi, hal itu akan terjadi."
"Katakan, kenapa kamu kesini?"
"Aku diminta menjemputmu."
"Rasyid sedang berada di ruang pengadilan. Sebaiknya, bantu dia agar terbebas dari tuduhan itu."
"Lalu, siapa yang memintamu menjemputku?"
"Temanmu. Dia juga sama khawatirnya seperti dirimu."
"Aku tidak yakin akan hal itu. Apa kamu sedang menjebakku?"
"Kakak ipar.. kakak ipar, untungnya apa buatku kalau sampai menjebakmu?"
Aku mencoba merasakan vibrasi dari energi milik Manggala. Apa dia benar-benar Manggala atau anak buah Arkana yang menyamar.
"Katakan, bagaimana kakak ipar tahu, kalau aku yang datang?"
Pertanyaannya membuatku yakin, kalau itu memang benar dia.
"Aromamu itu tidak bisa disamarkan."
"Memang aroma apa?"
"Seperti bau ikan sungai." jawabku yakin.
"Hahha..aku kan memang ikan, kakak ipaaaar."
"Jadi, kamu memang mahkluk penghuni sungai?"
"Trus, aku disuruh tinggal dimana?" dia tertawa kecil.
Manggala adalah seorang komandan pasukan dunia bawah. Tapi dia sangat ramah dan suka bercanda.
"Untung bukan buaya, ya." godaku.
"Jadi, kakak ipar percaya padaku?"
"Ya, aku percaya. Setidaknya kamu bukan ikan bakar yang gosong."
"Jangan bicara seperti itu. Tuan Arkana juga ayahku."
Aku tertawa mendengarnya membela ayahnya.
"Kalau kamu menjemputku, apa nanti kamu tidak di hukum?"
"Tuan Arkana tidak berani menentang ibuku. Dia pasti tidak akan mencari masalah dengan ibuku."
"Hahaha..anak mami rupanya." aku tergelak mendengar ucapannya.
"Biarin, untuk kebaikan kami semua."
"Kita pergi sekarang?"
"Sebentar lagi, aku masih ingin memberi pelajaran pada wanita sombong itu?"
"Manggala! jadi kamu yang sudah membuatnya ketakutan sampai menjerit-jerit seperti itu?"
"Iya, aku kesal padanya. Dia sudah bersikap tidak sopan pada kakak ipar."
"Manggala, aku baik-baik saja. Tolong jangan lakukan itu lagi."
"Aku tidak akan berjanji." ucapnya manja.
Manggala terlihat gagah dan tegas. Tetapi dia bersikap manja padaku.
Mungkin dia merasa menemukan sosok seorang kakak saat bertemu denganku.
🍃🍃