
By: Tiara Sajanaka
๐ผSuara pesan masuk melalui WA, membuyarkan lamunanku.
Ibu Manager mengatakan kalau beliau tidak meminta bapak driver untuk mengantarkan makan siang.
Beliau juga sudah menanyakan soal itu pada bapak driver.
Tapi, bapak driver tadi sesak nafas dan sampai jatuh pingsan. Artinya, bapak driver tidak tahu menahu soal pengantaran itu.
Aku meminta maaf pada ibu manager. Serta mengucapkan terima kasih atas kebaikan beliau. Beliau telah berkenan membalas chat yang kukirimkan.
Sekarang aku semakin yakin, kalau pengantar siang tadi adalah pak Rasyid. Ntah dengan menyamar atau meminjam tubuh bapak driver. Dia tidak mau aku mengalami keterkejutan sewaktu melihatnya berada di dunia manusia.
Setelah selesai sholat isya, aku mulai mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan astral.
Sebelum berbaring, aku mematikan lampu kamar.Kemudian menyalakan lampu tidur yang redup dan teduh. Menghidupkan musik lembut dan menenangkan. Serta memasang pewangi elektrik beraroma green tea.
Suasana yang nyaman untuk melakukan perjalanan astral.
Kukenakan pakaian dengan bahan nyaman, longgar dan ringan.
Saat melakukan perjalanan astral, memakai celana panjang dan baju lengan panjang berbahan ringan, membuatku tidak kehilangan pakaian yang kukenakan sewaktu melewati gerbang astral.
Walaupun disana, aku bisa berganti pakaian.
Tetapi aku merasa lebih nyaman memakai pakaian milikku dari dunia manusia.
Secara psikologis, hal itu, membuatku tidak merasa telanjang dan sendiri.
Aku berbaring dengan posisi menghadap langit-langit kamar.
Membiarkan otakku mengalami fase-fase menuju astral projection. Sekaligus memberi petunjuk arah tujuan kepada tubuh astral.
Tak berapa lama, tubuhku mulai melangkah keluar dari wadahnya.
Kali ini, aku ingin duduk sebentar didalam kamar. Memikirkan apa yang akan kukatakan pada mas Jantaka.
Ada kekhawatiran, dia akan terpukul saat mendengarnya nanti.
"Lira,"
Panggilan itu membuatku gemetar. Gemetar menahan perasaan yang tiba-tiba membuncah.
Hampir saja benang silver menarikku kembali kedalam wadahnya.
Dengan sigap, pak Rasyid memelukku.
Menahan tubuhku agar tidak terseret jalur silver itu.
Tetapi tubuhku menggigil menahan gelora didalam pelukannya.
Seketika lonjakan arus listrik menarik tubuh astral dengan kuat.
Aku terbangun dengan kondisi seperti terlontar ke udara. Terhentak beberapa kali. Sampai akhirnya terduduk diantara sadar dan tidak sadar.
Aku tertegun memandang dinding kamar.
Pikiran juga menjadi kosong.
Ternyata, dahsyat sekali gelombang yang terjadi didalam tubuh astral itu.
Kucari sumber suara itu. Tapi disana tidak terlihat siapa-siapa.
"Saya tidak bisa melihat bapak," jawabku lirih diantara nafas yang masih tersendat-sendat.
"Aku akan menyentuh tanganmu. Kamu jangan terkejut. Apalagi sampai berteriak."
Kuanggukkan kepala tanda setuju.
Tak lama, aku merasakan pak Rasyid memegang tanganku.
"Pejamkan matamu, dan rasakan kehadiranku."
Kupejamkan mata sambil mencoba merasakan kehadiran sosoknya. Perlahan-lahan energi hangat bergerak lembut didepanku.
"Sekarang, buka matamu."
"Sebentar, saya belum siap. Biarkan saya mengatur nafas dulu." kataku gemetar.
Aku memang tidak siap untuk melihatnya di dunia manusia. Apalagi, melihatnya didalam kamar. Membuatku merasakan debaran jantung yang tidak menentu.
Kutenangkan debaran jantung terlebih dulu. Sebelum benar-benar akan membuka mata.
Setelah debaran itu tidak bergemuruh lagi, kubuka mata sedikit demi sedikit.
Dia menatapku sambil tersenyum. Memamerkan wajahnya yang menawan dan penuh pesona itu.
Dalam pikiranku, dunia seakan berputar seperti gasing. Dan putaran itu pusatnya berada pada wajah pak Rasyid.
Aku terkulai didalam pelukannya.
Tubuhku seakan tidak memiliki tenaga lagi.
"Berbaringlah, aku akan menemanimu."
"Saya harus menemui mas Jantaka." hanya itu yang bisa kuucapkan. Mataku tidak dapat berpaling dari wajahnya.
Memandangnya tanpa berkedip dengan rasa tidak percaya.
Bagaimana, dia bisa menunjukkan wujudnya di dunia manusia? Tanpa meminjam tubuh seseorang.
Sekarang aku harus bisa mengendalikan pikiran dan perasaan untuk dapat melakukan astral projection kembali.
"Kita akan pergi bersama kesana. Kamu jangan khawatir soal itu." ucapnya lembut.
Kuhela nafas berat. Seakan-akan sebongkah batu telah menekan rongga paru-paruku.
"Lidahmu melepuh. Aku akan mengobati lidahmu."
Aku melotot kearahnya. Kenapa dia bisa tahu, kalau lidahku melepuh?
Apa dia memang benar-benar mengawasiku sepanjang waktu?
"Jangan melotot seperti itu. Matamu itu menakutkan." candanya.
Aku mendengus kesal. Berharap semua yang terjadi adalah bagian dari mimpi.
Atau sebenarnya adalah bagian dari astral projection yang gagal.
๐๐