SINTRU

SINTRU
SINTRU-92



By: Tiara Sajanaka


🌼"Aku tidak suka melihatmu kurang ajar seperti itu." ucapku marah.


"Kalau dia tidak membawa semua orang kedalam masalah ini, aku juga tidak akan kurang ajar. Dia yang membuatku menjadi seperti ini." teriaknya.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu kesal hanya karena pertanyaan pak Arkana?"


"Kamu tidak paham. Dia bertanya untuk membuatku tidak lagi punya pilihan lain selain menerima keputusannya."


"Pak Arkana memintamu menggantikannya lebih cepat?"


Pak Rasyid, menghela nafas berat. Dia memandang seluruh wilayah dengan wajah marah.


"Aku tidak menginginkan wilayah ini.Kamu lihat, apa semua ini dapat aku tukar dengan kebebasan?"


"Apa kamu pernah memikirkan hal ini, sebelum mengenalku?"


"Aku tidak memikirkan, karena aku tahu, dia akan hidup sangat lama. Itu sebabnya, aku tidak pernah berfikir akan menggantikannya secepat ini."


"Pak Arkana sangat bijaksana. Dia mengambil keputusan itu, agar kamu bisa fokus dengan kehidupan dan kesejahteraan penduduk di wilayah ini."


"Seharusnya, kamu mendukungku. Bukan malah membuatku seperti disudutkan dari semua arah."


"Bukankah sudah sangat jelas, kalau hubungan kita akan menghancurkan hidupmu?"


"Lira, maukah kamu bersamaku tinggal di wilayah netral? Kita tidak perlu lagi terikat pada hukum astral ataupun hukum manusia." pertanyaannya membuatku sedih. Dia sungguh keras kepala dalam hal ini.


Kuraih tangannya, menggenggamnya dengan penuh perasaan.


"Rasyid, ini aku! Dengarkan aku kali ini."


Dia membelalakkan matanya sewaktu mendengarku menyebut namanya.


"Kamu menyebut namaku. Aku akan dengarkan."


"Tugas kita adalah menjaga keseimbangan semesta. Dari tatanan, hukum, serta kehidupan semua makhluk. Itu artinya, kita bukanlah diri kita sendiri. Tetapi, banyak sekali yang menggantungkan harapan pada kita."


"Tapi, kita juga memiliki kehidupan yang harus kita perjuangkan." sahutnya.


"Kita tidak bisa egois. Aku akan tetap patuh pada hukum semesta. Dan kamu akan menjalankan semua tanggung jawab tanpa ada keraguan."


"Kenapa kamu jadi berubah?"


"Aku tidak berubah. Tetapi, semua harus kita pikirkan matang-matang. Jangan hanya karena untuk kesenangan dan kebahagiaan kita, kita malah mengorbankan banyak makhluk."


Rasyid menatapku tidak percaya. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Kamu, tidak benar-benar mencintaiku.


Kamu hanya ingin menyenangkan hatiku."


"Bukankah kamu pernah mengatakan, kalau kita benar-benar mencintai seseorang, maka kita tidak akan membuatnya merasa terikat dan sesak nafas."


"Masalah kita berbeda, Lira. Kamu tidak bisa menyamakan masalah kita dengan masalah kalian dulu."


"Sebaiknya, aku kembali. Kamu masih sangat marah. Apapun yang aku katakan, kamu tidak akan menerimanya."


Dia meraihku kedalam pelukannya.


"Jangan tinggalkan aku! Tetaplah disini sampai aku menjadi lebih tenang." bisiknya gusar.


"Disini anginnya kuat sekali, sepuluh menit lagi, aku akan mati membeku." kataku serius.


Dia membentangkan kedua tangannya. Lalu memintaku masuk kedalam jubahnya. Sebentar kemudian, suhu tubuhnya telah membuatku hangat.


"Apa kamu tahu, kalau aku takut ketinggian?" tanyaku.


"Kamu sudah sering berada di ketinggian saat terbang. Kenapa kamu masih takut?"


"Saat terbang, aku tidak menginjak apapun. Kakiku melayang, hatiku bahagia. Aku tidak takut jatuh. Tapi, ditempat ini, aku seperti akan jatuh. Kakiku juga gemetar."


Dia hanya diam.Tidak menjawab kata-kataku. Tetapi, aku merasakan kalau kami sedang melayang dan turun perlahan.


Aku memeluknya erat, dia juga memelukku dengan penuh perasaan.


Rasanya kejadian itu baru terjadi kemarin.


Aku mulai menyadari, ternyata waktu itu, dia sudah mencintaiku. Dengan sikap dinginnya itu, dia memberiku perlindungan.


Arkana telah menunggu kami di bawah.


Dia memandang kami dengan tatapan sedih.


"Rasyid, aku akan berbicara pada Lira. Kamu kembali ke ruang pertemuan dan bersikaplah selayaknya seorang pemimpin." ucapnya penuh ketegasan.


Rasyid memegang tanganku erat. Dia enggan melepaskan tangannya.


"Aku harus bicara, Rasyid." ucapku lembut.


"Aku tidak mau, kamu nanti berubah pikiran." ketusnya.


"Bukankah kamu sudah tahu, apa yang menjadi keputusanku. Jadi, tidak akan ada yang berubah."


Dia terlihat ragu, sewaktu akan melepaskan tanganku. Tapi aku tersenyum dan meyakinkan dia. Kalau aku akan baik-baik saja.


Arkana berjalan mendahuluiku. Aku segera menyusulnya bersama beberapa prajurit.


Dia membawaku ke bangunan yang dulu akan dia berikan padaku.


Kami berbicara di ruang tengah yang luas dan terbuka.


"Rencananya, aku akan membuat taman dibagian ini." kata Arkana. Dia menunjukkan sebuah gambar taman bunga dengan desain yang indah.


"Bukankah, bapak bisa meneruskan rencana itu?"


"Ya, kalau kamu bersedia menempati istana ini. Aku belum memberi nama istana yang ku rencanakan untukmu."


Aku tersenyum tipis. Tidak pernah terpikirkan dalam hidupku, untuk menempati sebuah istana di dunia Astral.


Di dunia manusia, bisa hidup layak dengan sewa satu kamar, bisa cukup makan, adalah sebuah keberkahan dalam hidupku.


"Ada apa, bapak membawa saya kesini? Apa hanya ingin mengatakan tentang taman itu?"


Arkana menatapku kesal. "Kamu memang kurang ajar. Aku selalu bersikap baik dan melindungimu. Tapi kamu semakin tidak memiliki sikap hormat padaku." suaranya terdengar kalau dia sangat marah.


"Saya tidak bermaksud kurang ajar." sahutku dingin.


Arkana menghela nafas panjang. Dia mengalihkan pandangan kearah atas.


"Rasyid memiliki masa depan yang baik dan panjang. Aku memintanya menggantikan kedudukanku, agar dia bisa lebih fokus pada tanggung jawabnya."


"Saya setuju itu."


"Kamu tidak marah?"


"Tidak pak, memang sudah seharusnya, Rasyid fokus pada kehidupannya di sini."


"Apa kamu tahu, kalau dia meminta ijin untuk hidup bersamamu di dunia manusia?"


"Saya tidak tahu soal ijin itu. Tetapi dia memang mengatakan ingin hidup sebagai manusia."


"Lira, Rasyid adalah pewaris wilayah ini. Aku tidak ingin dia menjadi semakin menderita kalau terus berada di dekatmu."


"Saya mengerti pak. Saya juga berharap, Rasyid tidak melakukan kesalahan."


Arkana menoleh kearahku sebentar.


Kemudian dia kembali melihat ke langit.


Dia pasti sangat mencintai Rasyid.


Sampai berusaha membuat, aku dan Rasyid terpisah dengan cara yang elegan.


Dia, Arkana memang layak menjadi pemimpin bangsa mereka.


🍃🍃