SINTRU

SINTRU
SINTRU- 67



By: Tiara Sajanaka


🌼"Kita masuk yuk.." ajakku.


Tapi dia menahan tanganku. Agar tidak beranjak dari depan pagar.


Dua menit kemudian, sebuah mobil berwarna silver berhenti didepan pagar.


Gadis itu tersenyum lebar sambil menunjuk kearah mobil itu.


"Tante sudah dijemput." ucapnya riang.


Aku terkejut mendengar ucapannya. Darimana dia tahu kalau ada seseorang yang akan menjemputku.


Gadis kecil ini akan menjadi teman yang mengasyikkan. Aku pasti akan sering mendengarkan ceritanya tentang dunia yang tidak diketahui anak seusianya.


Pintu depan mobil terbuka, terlihat kaki seseorang yang terjulur keluar memakai celana jeans warna coklat dengan pasangan sepatu sport masa kini.


Aku masih tertegun memperhatikan brand sepatu itu yang terlihat menyembul sedikit dari balik celana yang dikenakannya.


Bukan brand mahal. Tapi terlihat cukup keren.


"Ngapain ngelihatin kakiku?" suara itu mengejutkanku.


Aku melihat kearah suara itu. Seketika tawaku pecah tak tertahankan.


"Ngapain kamu kesini?" tanyaku diantara gelak tawa yang tak dapat berhenti.


"Mau jemput kamu."


"Memangnya kamu ada bilang, mau jemput aku?"


"Lima pesan aku kirimkan! Masih kurang banyak?"


Suara tawaku menghilang seketika.


Kupandang wajah polos gadis kecil didepanku.


"Siapa dia?" tanyaku gugup.


"Om hantu." jawabnya terkekeh.


"Kamu tahu, siapa om itu?" tanyaku sambil memegang kedua bahunya.


Dia mengangguk senang. Tidak ada ketakutan sedikitpun dari sorot matanya.


Walaupun dia tahu, makhluk jenis apa yang datang.


"Bagaimana? Jadi pergi apa nggak?"


"Aaaapa kamu mau masuk dulu?" tanyaku gugup.


Dia menggeleng. "Kamu tahu, aku tidak bisa melewati pagar rumahmu."


"Baiklah, aku ambil tas dulu."


Aku masuk kedalam rumah untuk mengambil tas ransel dan berpamitan pada mbak Warni.


"Mbak, tolong ajak masuk keponakannya. Nanti nggak ada siapa-siapa diluar. Saya khawatir dia main keluar pagar."


Mbak Warni menemaniku sampai depan pagar. Keponakannya masih memperhatikan kearah mobil itu.


"Mana om tadi?" tanyaku pada gadis itu.


"Sudah masuk kedalam mobil." jawabnya riang.


"Baiklah, Tante pergi dulu. Besok kita ketemu lagi."


Dia tersenyum sambil mengangguk senang.


Aku tertawa melihatnya bahagia seperti itu.


"Mbak, saya pergi dulu. Hati-hati di rumah ya."


"Iya mbak Lira, mbak juga hati-hati di jalan."


Kuanggukkan kepala sambil melambaikan tangan pada gadis kecil itu.


Aku memukul punggungnya bertubi-tubi.


Dia berusaha mengelak sambil tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa harus menjadi sahabatku?" sungutku.


"Aku tidak menyamar menjadi dia. Selama ini kita memang bersahabat." jawabnya santai.


"Apa madsudmu?"


"Kita sudah saling mengenal sejak kita masih sekolah, Lira. Aku selalu ada didekatmu sejak dulu."


"Lalu, kemana sukma dia?"


"Selama aku meminjam raganya, dia sedang menikmati kebahagiaan seperti keinginannya."


"Jahat kamu. Selama ini kamu sudah membuat dia diangap orang gila."


"Lebih baik begitu. Jadi orang tidak akan percaya dengan semua yang dia katakan."


"Trus sekarang aku harus memanggilmu dengan nama apa? Tidak mungkin aku memanggilmu pak Rasyid. Tampilanmu kucel begini." ketusku.


"Aku sudah keren lho, seperti anak muda jaman sekarang. Mosok masih dibilang kucel. Kalau kulit dia ya memang seperti ini. Coklat kusam." kekehnya.


Aku memandangnya dengan perasaan kesal.


Semua hayalan dan anganku tentang kebersamaan kami, seketika hancur lebur.


Walaupun didalam tubuh itu adalah Pak Rasyid. Tetapi secara tampilan dia adalah sahabatku.


Dan sejak dulu, hubungan persahabatan kami sangat murni.


"Apa kamu sengaja memakai tubuhnya, agar aku tidak menggodamu?"


"Kenapa? Apa tubuh ini benar-benar membuatmu mati rasa?" candanya.


"Biarpun aku rada gila, aku tidak akan menodai persahabatan kami."


"Hahha..ngaku juga kalau kamu rada gila. Padahal bukan hanya rada,kamu itu benar-benar gila." ledeknya.


Kali ini perasaan kesalku semakin memuncak.


Aku memukul lengannya berkali-kali. Dia berusaha menahan seranganku sampai mobil oleng ke kanan. Sebuah truk Fuso membunyikan klakson dari jauh, membuatnya membanting setir ke kiri.


Akhirnya, mobil terperosok ke saluran irigasi di pinggir jalan. Saluran itu berukuran satu meter. Bagian sisinya masih berupa tanah dan rerumputan. Membuat ban mobil terjebak tanah basah yang bercampur lumpur.


Kami berdua mencoba mengeluarkan ban mobil dari saluran irigasi. Tetapi usaha kami sia-sia.


"Kenapa nggak memakai kekuatanmu saja? Tinggal angkat, mobil sudah aman."


"Aku tidak boleh menggunakan kekuatan selama berada didalam tubuh ini. Nanti, saat aku tidak bersamanya, dia akan mengalami banyak masalah."


"Trus, apa kita minta bantuan saja?" usulku.


"Benar! bantuan. Baiklah, aku akan menghubunginya." dia menelpon seseorang, agar segera datang ke tempat kami.


"Tunggu ya, dia mesti cari sewa sepeda motor buat datang kesini."


"Memangnya siapa yang kamu hubungi?"


"Manggala.." jawabnya santai.


"Apa?" teriakku terkejut.


"Pelankan sedikit suaramu. Nanti penduduk disini pada datang semua."


Aku tertegun melihat kearahnya dengan wajah putus asa. Selama ini aku berfikir kalau mereka hanya berkeliaran di dunia Astral.


Mereka juga bisa berada didunia manusia tanpa seorangpun menyadari kalau sebenarnya, mereka bukanlah manusia.


Bukan hanya Arkana yang mampu melakukan hal itu.


Ternyata, pak Rasyid dan Manggala juga melakukan hal yang sama.


🍃🍃