
By: Tiara Sajanaka
πΌDia menuntunku memasuki tenda.
Didalam tenda, dia memutar tubuhku agar menghadap kearahnya.
Sewaktu melihat wajahnya, hampir saja aku menjerit. Tapi dia cepat menutup mulutku.
Semua terasa berputar dan gelap.
Sampai akhirnya, aku tidak ingat apa-apa.
Saat sadar, aku sudah berbaring diatas matras.Dia segera mendekat.
Kemudian memberiku sebotol air mineral.
"Bagaimana kamu melakukan itu? Tega sekali membuatku menderita seperti ini."
"Aku bukan sengaja, Lira. Tapi, kalau kamu tidak melihat fisikku, kamu akan merasakan kehadiranku."
Kuhela nafas berat. Semua yang aku bayangkan saat bersamanya tadi, ternyata hanya bagian dari keinginanku.
Aku berharap akan melihat wajahnya sebagai Rasyid.
Ternyata dia masih berada didalam tubuh Arya. Hal itu yang membuatku tidak bisa menahan luapan kekesalan dan kekecewaan.
"Sebaiknya, aku pulang saja. Aku tidak sanggup menjalani hal seperti ini selama cuti. Bisa-bisa aku nanti berakhir di rumah sakit jiwa."
"Kita pulang ke kediamanku. Tuan Arkana telah memberiku ijin menikahimu."
"Apa?" aku segera duduk dan menatapnya tidak percaya.
"Iya, dia tahu bagaimana menderitanya dirimu karena kesepakatan kalian dan karena kesalahanku. Dia ingin menebus dengan melepaskan kesepakatan itu." Rasyid mengeluarkan sebuah gulungan yang terbuat dari kulit.
Menyerahkan kepadaku.
Didalam gulungan itu, Arkana menulis, kalau kesepakatan kami hanya berlaku didunia astral. Tidak berlaku di dunia manusia.
Sedangkan selama ini, perjanjian atau kesepakatan dengan mereka tetap berlaku dimana saja. Di dunia Astral maupun di dunia manusia.
Namun, setelah kupahami setiap kalimat didalam gulungan itu. Aku menjadi tertawa sendiri.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Tulisan didalam gulungan ini, tidak berarti apa-apa buatku."
"Kenapa?"
"Tentu saja tuan Arkana mengijinkan aku menikah denganmu. Tapi, dengan perwujudan sebagai Arya. Itu artinya, aku menikah dengan Arya bukan Rasyid."
"Saat menikah, aku dapat merubah wujudku."
"Setelah itu?"
"Ya aku kembali menjadi Arya."
"Duhai sang bijaksana. Kenapa kebijaksanaanmu menjadi pudar?"
"Aku tidak paham dengan madsudmu, Lira."
"Kamu terlalu gembira.Sampai tidak bisa memahami isi dari gulungan itu."
"Aku belum membacanya." dia membuka gulungan itu, kemudian membacanya dengan serius.
Sampai dia meletakkan kembali gulungan itu.
"Tuan tidak bermadsud menipumu, dia ingin agar kamu tidak lagi menderita."
"Aku terima kebaikan tuan Arkana. Tapi, aku tidak bisa menikah denganmu, kemudian aku bersama Arya. Itu dapat disebut suatu perselingkuhan."
"Apa Seperti itu?"
"Ya tentu saja. Nama yang terdaftar dalam pernikahan adalah Rasyid. Sedangkan laki-laki yang bersamaku adalah Arya. Hal itu tidak bisa dibenarkan dalam hukum manusia."
Aku tidak berfikir untuk menikah dengannya.
Tetapi aku ingin, kami memiliki hubungan dekat tanpa ikatan dan kesepakatan yang akan membuatku terikat pada dunia mereka.
"Kalau kita tidak bisa menikah. Maka hubungan kita tidak akan berjalan dengan baik. Aku menginginkanmu sebagai pendampingku. Memberiku keluarga yang utuh serta menjalani kehidupan tanpa penderitaan Seperti saat ini."
"Bukankah kita juga tidak dapat bersama? Aku tidak bisa tinggal bersamamu dalam jangka waktu yang lama."
"Lira, sebenarnya aku harus menjelaskan beberapa hal padamu.Aku harap, kamu bisa menerima keputusan ini dengan baik."
Pak Rasyid mengajakku duduk didekat pintu tenda.
"Kita akan menikah disuatu tempat netral. Bukan wilayah astral, juga bukan wilayah manusia." ucapnya lembut.
"Apa ada wilayah seperti itu?" tanyaku kaget.
"Ada, tempat ini dijaga oleh manusia setengah astral. Tapi, gerbangnya memiliki perubahan cuaca sangat ekstrim."
"Untuk apa kita harus melakukan hal itu? Aku tidak ingin kita memutuskan sesuatu dengan terburu-buru."
"Semua kembali kepadamu. Kalau kamu setuju. Kita akan menikah. Tetapi kalau kamu tidak setuju, aku akan sabar menunggu sampai kamu setuju menjadi istriku."
"Aku memang mencintai pak Rasyid. Tetapi sejujurnya, aku tidak ingin menikah dengan bangsa kalian. Kalau memang, perasaanku hanya akan membuatku menderita. Aku menerima hal itu."
"Lira, aku takut suatu waktu nanti, kita akan lepas kendali. Dan hal itu akan membuat kita jatuh dalam dosa."
"Haha, ternyata kalian takut dosa juga. Baiklah, aku tidak akan pernah membuatmu menjadi berdosa. Jangan khawatir soal itu. Aku dapat mengendalikan pikiran dengan baik."
Pak Rasyid menatapku putus asa. Dia menghela nafas dengan kesal.
Masalah seperti ini, memang tidak akan pernah ada titik akhir. Sampai aku bersedia bersamanya.
Dalam kehidupan pernikahan kami nanti, aku bisa tetap berada didunia manusia. Tetapi aku tidak boleh menikah dengan manusia.
Seumur hidupku akan selalu menjadi istrinya. Sampai akhir usiaku.
Setelah itu, aku tidak tahu akan seperti apa perjalanan sang Sukma.
Tetap bersamanya, atau pergi ke suatu tempat yang jauh.
"Apa nantinya aku akan selalu bersamamu?"
"Ya, tentu saja. Kamu juga bisa tetap berada didunia manusia."
"Lalu bagaimana jika aku mati? Kemana sukmaku pergi?"
"Aku tidak bisa menjelaskan hal ini." ucapnya datar.
"Apa aku akan menjadi pekerja di kediamanmu? Atau aku akan pergi ke sektor lainnya?"
"Apa kamu pikir, para pekerja ditempatku dulunya adalah istri-istriku?" tanyanya kesal.
"Aku tidak tahu itu. Tetapi bisa saja memang seperti itu."
sahutku. Akhirnya, aku bisa menanyakan hal itu padanya. Walaupun dengan cara yang berbeda.
"Aku belum pernah menikah. Dan aku masih suci. Apa kamu pikir, aku suka mengobral cinta?" ucapnya emosi.
Aku terdiam mendengar nada suaranya yang meninggi. Benar seperti kata Arkana. Pak Rasyid sangat sensitif jika membahas tentang perasaannya.
Pembicaraan ini, sepertinya tidak akan selesai kalau kami terus bertengkar.
Mungkin aku perlu melihat tempat yang dikatakan pak Rasyid.
Tempat dimana bukan sebagai wilayah dunia astral ataupun dunia manusia.
Apakah itu bagian dari dimensi Spasial?
ππ