
By: Tiara Sajanaka
🌼Baju yang kukenakan seperti dalam dongeng Cinderella. Dapat merubah tampilan sesuai dengan yang dibutuhkan.
Andai di dunia manusia ada busana seperti ini, aku tidak perlu membeli banyak pakaian.
Cukup dua atau tiga helai saja. Dapat memenuhi kebutuhan kita.
Tentu saja, dunia manusia dengan dunia para astral sangat berbeda.
Disini sihir dapat digunakan dengan leluasa.
Sedangkan di dunia manusia hal itu akan menimbulkan kesalahpahaman dan kekacauan besar.
Mbak Kun terbang dengan lembut dari pohon tempatnya tersangkut.
Dia mendarat didepan kami.
"Bagaimana Manggala, apa kita dapat ijin masuk?" tanyanya pada Manggala.
"Tentu saja, siapa yang melarangku masuk?" tegasnya.
Dia terlihat berbeda saat berada disini.
Tegas, disiplin dan bersahaja.
Senyum cengengesan saat di dunia manusia, tidak ditunjukkannya disini.
Sekarang aku tahu. Dia bersikap manja dan usil hanya saat didekatku. Mungkin juga saat bersama ibunya.
"Ayo kita masuk." ajaknya.
Kami melewati para astral yang berdiri diluar gedung. Mereka merasa pengadilan kali ini sangat tidak tepat.
Bagaimana bisa, seorang ayah membuka meja persidangan hanya karena putranya mencintai wanita yang dia sukai.
"Kenapa mereka begitu menyayangi pak Rasyid?" tanyaku pada Manggala.
"Ibu kandung Rasyid, selalu membela dan berjuang untuk mereka. Begitu juga Rasyid."
"Tapi, bagaimana seorang putra mahkota diperlakukan seperti itu?" sungut mbak Kun.
Putra mahkota?
Jadi, pak Rasyid calon pengganti ayahnya?
Oh tidak. Aku tidak boleh membiarkan diriku semakin terlibat dalam kehidupan mereka.
Memasuki ruang persidangan, aku dibuat terkejut dengan suasana didalam ruangan.
Tempat duduk disini, tingginya lima meter.
Mereka akan terbang dari lantai untuk menuju ke tempat duduk.
Sedangkan meja pengadilan, tingginya mencapai sembilan meter.
Seseorang atau makhluk yang sedang diadili, akan tetap berdiri dilantai ruang persidangan.
Bisa dibayangkan, betapa kecilnya sang terdakwa saat berada didepan para sesepuh.
Mbak Kun melempar selendang kearahku.
Lalu membawaku terbang menuju sebuah bangku.
Disetiap bangku telah ada para saksi dan pendengar.
Di meja persidangan, duduk lima orang sesepuh.
Dibagian sebelah kanan, Arkana duduk diatas singgasananya.
Disebelah kiri, terlihat pak Rasyid duduk di sebuah kursi dengan penutup kain beludru berwarna maroon.
Dia terkejut sewaktu melihatku datang.
Arkana menatapku kesal.
Dia tidak menyangka aku akan datang ke pengadilan.
Karena sebenarnya, dia ingin aku menjadi terdakwa.
Tetapi, Manggala telah menempatkan aku sebagai saksi.
Sekarang, seorang ayah telah ditentang oleh dua orang putranya.
Hanya karena seorang wanita dari dunia manusia.
Sebenarnya, aku merasa lucu dengan situasi saat ini.
Kenapa mereka harus membesar-besarkan masalah yang sepele ini?
Padahal, mereka tahu dengan sangat baik.
Kalau aku tidak akan pernah menikah dengan bangsa mereka.
Persidangan dimulai dengan pembacaan peraturan selama berjalannya persidangan.
Kemudian ada pembacaan berita acara yang harus aku simak baik-baik.
Karena namaku disebutkan sebagai saksi utama.
Mereka menggunakan bahasa Indonesia selama persidangan.
Agar aku mudah memahami jalannya persidangan.
Sedangkan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari,tidak dapat kupahami.
Dengan usia mereka yang panjang, mereka dapat menguasai banyak sekali bahasa manusia.
Terutama bahasa dimana mereka tinggal.
Pembacaan dakwaan telah dimulai.
Seorang pria muda, membacakan beberapa dakwaan kepada pak Rasyid.
Tapi, semua terdengar sangat mengada-ada.
Ternyata seorang pemimpin seagung Arkana dapat melakukan hal seperti itu.
Semua hanya karena ego dan keangkuhan sebagai seorang pemimpin.
Setelah dakwaan dibacakan.
Ada sesi dengar pendapat tentang dakwaan itu.
Para astral yang duduk di bangku saksi, bergantian memberikan pendapatnya.
Semua menolak dakwaan itu.
Sampai waktunya, pak Rasyid mengajukan pembelaan diri.
Pak Rasyid menjelaskan tentang awal pertemuannya denganku. Perjumpaan di mushola tempatku menumpang sholat.
Serta permintaan Arkana, agar pak Rasyid mengawasiku.
Semua dijelaskan dengan sangat terperinci.
Pak Rasyid juga menjelaskan kalau sebenarnya, aku adalah reinkarnasi dari kekasihnya yang telah tiada.
Aku jadi mengerti, kenapa pak Rasyid mengatakan pada Arkana kalau aku adalah samsara.
Semua berhubungan dengan kekasihnya itu.
🍃🍃