SINTRU

SINTRU
SINTRU- 100



By: Tiara Sajanaka


🌼Rasyid memegang tanganku, dia meminta maaf karena telah membuatku sedih.


Aku terdiam cukup lama. Sampai tidak mendengar sewaktu dia meminta maaf. Ucapan yang terasa aneh saat berada di dunia Astral.


"Lira, kamu marah?" tanyanya.


"Tidak, aku hanya berfikir tentang perjalanan manusia."


"Semua memiliki fungsi dan porsinya masing-masing. Kalaupun nantinya perjalanan kita tidak mencapai harapan yang di tuju. Artinya memang hanya sampai disana perjalanan kita."


Aku terkejut, ternyata dia sudah mulai bisa menerima kenyataan kalau hubungan kami tidak akan sampai pada tujuannya.


"Syukurlah, kamu sudah mulai bisa menerima hal itu." ucapku lega.


"Aku tidak ingin membuatmu semakin menderita. Dengan kisah masa lalumu saja, hidupmu sudah sangat berat. Kamu juga sudah menjalani penghapusan ingatan pada dunia astral. Sebenarnya, memory yang kamu miliki sudah terhapus sebagian."


"Hal itu lebih baik terjadi. Aku tidak terbebani dengan kepedihan karena perpisahan. Walaupun aku sering bermimpi tentang hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu itu."


"Sebenarnya, kamu memiliki kekuatan untuk melepaskan semua kepedihan. Namun, ingatan itu masih tersimpan didalam alam bawah sadarmu. Meskipun telah dihapus dari ingatan. Program didalam otak manusia memiliki kemampuan untuk membangkitkan kembali ingatan yang telah hilang atau di hapus."


"Rasyid, terima kasih atas penjelasannya. Selama ini, aku sedang menata ulang setiap file didalam pikiran. Aku sedang menyusunnya perlahan-lahan. Agar semua ingatan itu tidak tumpang tindih."


"Kamu memang unik Lira. Tanpa siapapun yang mengarahkanmu, kamu dapat menata ulang semua file didalam pikiranmu."


"Aku tetap membutuhkan bantuan seorang psikolog. Dia yang akan menuntunku menuju ke arah alam bawah sadar. Setelah itu, aku akan menyusunnya satu persatu. Serta merangkainya dalam sebuah catatan panjang."


Rasyid tersenyum. "Aku tidak tahu, apakah nantinya akan ada namaku didalam deretan file-file itu."


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Tidak apa-apa."


"Ya, aku tahu. Aku akan menjalani penghapusan ingatan untuk kedua kalinya. Tapi, percayalah..aku akan dapat mengingatnya kembali dengan sangat baik. Bahkan sangat detail."


"Jangan terlalu yakin. Selama ini, belum pernah ada manusia yang dapat mengingat kembali kejadian di dunia Astral, saat ingatannya itu sudah dihapus."


"Aku memiliki cadangan memory yang tersembunyi." kekehku.


Rasyid tertawa kecil. Dia menepuk punggung tanganku berulang kali. Aku menghitung tepukan itu. Serta mencoba meresapi sentuhan yang dia berikan. Iramanya, tekanan pada punggung tangan, juga aroma lembut yang terbawa setiap kali dia mengibaskan tangannya. Semua itu, tersimpan didalam ingatanku dengan cukup rapi.


Aku bersyukur diberi kelebihan mata ketiga yang dapat melihat dunia astral seperti kamera foto.


Sungguh suatu anugrah yang tidak terhingga. Walaupun anugrah itu tidak membuatku kaya raya di dunia manusia.


Namun, aku memiliki perjalanan yang luar biasa di dunia Astral. Pengalaman yang tidak dapat di alami oleh semua orang.


Aku bersyukur atas pemberianNYA.


"Oh ya, darimana kamu dapat buah mengkudu itu?" tunjukku pada buah diatas meja.


"Kami punya Dokter yang memadukan pengobatan tradisional dengan pengobatan modern. Kebetulan di kediamannya di tanam berbagai tumbuhan untuk obat. Termasuk buah mengkudu ini."


"Apa buah mengkudu dapat membantu proses penyembuhan tulang belakang?"


"Khasiatnya sangat banyak. Tapi tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan. Ada takaran dalam perharinya. Aku mengkonsumsi buah mengkudu untuk memulihkan jaringan sel yang rusak serta mengurangi rasa nyeri."


"Aku pikir hanya untuk mencegah kolesterol dan kanker. Ternyata dapat membantu memperbaiki sel-sel dalam tubuh."


"Benar, bau yang langu serta rasanya yang sedikit pahit, membuat orang enggan memakannya."


"Apa Manggala tidak pernah melihat buah mengkudu?" tanyaku terkekeh.


"Tidak, buah itu termasuk langka disini. Hanya di tanam di kediaman Dokter kami. Manggala tidak pernah ke sana."


"Haha, pantas saja dia langsung memuntahkannya. Karena rasanya memang sungguh tidak enak."


"Kamu pernah mencobanya?"


"Tidak, mencium aromanya saja aku sudah tidak suka."


"Sesekali coba yang sudah menjadi ekstrat, sudah dikemas didalam kapsul. Bagus buat pemulihan stamina."


"Ya, kapan-kapan aku akan mencobanya. Tapi tidak sekarang." kataku sambil tertawa kecil.


Rasyid tersenyum, dia memintaku untuk menyuapinya. Kuambil wadah buah mengkudu.


Menyuapinya menggunakan garpu buah.


Dia menikmatinya dengan santai. Seperti sedang menikmati buah apel atau buah melon. Dia benar-benar tahan dengan aroma dan rasa buah mengkudu.


🍃🍃