SINTRU

SINTRU
SINTRU - 7



By : Tiara Sajanaka


🌼Seperti yang sudah kami sepakati.


Aku kembali kerumah itu, menjelang waktu senja.


Wanita itu ingin aku melihat, apa yang dilakukan pria muda itu saat magrib.


Sebenarnya, waktu senja ini, sangat rawan. Dengan tubuh astral, aku bisa mengalami kebingungan karena peralihan waktu antara dua dunia.


Tetapi, rasa penasaran yang besar, membuat rasa khawatir itu hilang.


Aku sengaja berdiri disamping mobil yang terparkir di halaman villa. Dari tempat ini, bisa sedikit leluasa melihat kedalam rumah.


Pria itu sedang memegang sebuah wadah dengan penutup yang berlobang-lobang. terlihat asap lembut keluar melalui lobang-lobang itu.


Samar-samar tercium aroma gaharu dengan sedikit aroma kemenyan, Ambergris, cendana dan saffron menguar di udara.


Aromanya lembut dan enak sekali.


Aku seperti mengenal aroma ini dengan baik.


Pria itu berkeliling didalam rumah,membawa wadah itu.


Kupejamkan mata sambil menghirup aroma yang menyapaku sesekali.


Aroma itu, seperti datang dan pergi dengan lembut.


Membawa pikiranku kesuatu tempat yang selalu dipenuhi asap dari wewangian bukhur.


Banyak orang yang menganggap, membakar gaharu itu sesat.


Padahal, aroma gaharu di saat peralihan waktu itu memiliki energi positif.


Aku tersadar saat terdengar suara adzan magrib.


Sudah waktunya untuk melaksanakan sholat magrib. Tapi dimana aku bisa melaksanakan sholat magrib?


Kuarahkan pandangan ke sekeliling, mencoba mencari mushola atau tempat untuk menumpang sholat.


Dikejauhan, terlihat seperti ada asap yang melayang lembut. Jaraknya sekitar tiga meter dari tanah.


"Mungkin asap dari pembakaran di post security depan," bathinku.


Tapi, asap itu tidak terbang keatas. Asap itu melayang dengan posisi horizontal.


Bentuknya juga seperti sebuah bantal guling.


Setelah kuamati, samar-samar mulai terlihat wujudnya. Ternyata wanita itu.


Sepertinya dia ingin agar aku mengikutinya.


Kuikuti kearah mana dia terbang.


Lima menit kemudian, kami sampai disebuah hutan kecil. Perbatasan antara villa-villa dan sebuah sungai.


Ditepi sungai, terlihat sebuah gapura batu. Tingginya sekitar lima meter.


Gapura ini tertutup tanaman menjalar dibeberapa bagian.


Wanita itu memintaku masuk melalui gapura.


Aku menolak.


Melihat tempatnya saja, sudah sangat menakutkan.


Dia malah memintaku masuk kedalam gapura itu.


Tiba-tiba dari dalam gapura, keluar seorang pria setengah baya.


Dia tidak terkejut sewaktu melihatku berdiri menatapnya.


"Masuklah," ucapnya tegas.


Kugelengkan kepala.


Sebaiknya aku segera pergi dari tempat ini.


"Sholatlah dulu. Waktu magrib itu sangat cepat di dunia manusia." pria itu mengangguk ramah.


Setelah sempat ragu selama beberapa detik.


Akhirnya ku ikuti langkah pria itu.


Sedangkan wanita itu, dia akan menungguku diluar gapura.


Sewaktu melewati gapura, aku memperhatikan keseluruhan dindingnya.


Dinding gapura terbuat dari batu hitam yang disusun sangat rapi. Setiap sambungan membentuk garis abstrak yang artistik.


Sangat kontras dengan bagian luarnya yang terlihat kusam dan dipenuhi tanaman menjalar.


Gapura yang kami lewati, memiliki lorong cukup panjang. Lantainya berundak dan terbuat dari marmer putih.


Setiap kali kakiku menginjak lantai, lantai marmer memancarkan cahaya redup.


Tiba-tiba aku ingin bermain dengan cahaya yang memancar di lantai.


Sengaja aku melompat kecil saat menginjak lantai. Kemudian menginjak beberapa tempat disebelah kanan dan kiri.


Ternyata cahaya yang dipantulkan berbeda-beda.


Cahayanya sangat indah. Setiap beberapa langkah, selalu berbeda warna.


Untuk sesaat, aku lupa dengan tujuanku.


Aku tersentak, sewaktu mendengar suara deheman pria itu. Seketika wajahku seperti terbakar karena malu.


"Maafkan saya pak," ucapku penuh sesal.


Pria itu tidak menjawab, dia terus melangkah menuruni anak tangga.


🍃🍃