SINTRU

SINTRU
SINTRU- 29



By: Tiara Sajanaka


🌼Menyusuri jalan tanah yang berdebu disertai desau angin dingin, membuatku ingin segera kembali ke dunia material.


Tempat ini terlalu menakutkan buatku.


Bagaimana dengan para Sukma yang harus melalui jalan ini untuk menuju sektor 15?


Mereka pasti tidak melihat cahaya saat melalui jalan ini.


Aku juga tidak tahu, sektor 15 itu tempat seperti apa.


Kakiku mulai terasa pegal. Ingin rasanya duduk sebentar untuk meringankan kaki.


Tapi aku tidak berani berlama-lama di jalur ini. Kupegang tongkat erat-erat, agar dapat berjalan dengan langkah lebih baik.


Sekitar tiga puluh menit dalam perkiraanku, aku sampai digerbang sektor lima belas.


Gerbangnya tidak berpagar dan tidak ada penjaga.


Setelah memastikan, kalau gerbang yang kulihat adalah gerbang sektor lima belas, aku masuk dengan berhati-hati.


Kucoba melihat ke segala penjuru.


Cahaya di sektor lima belas ini redup sekali.


Aku harus mengangkat tongkat lebih tinggi, agar bisa melihat dengan jelas.


Disini tidak banyak orang. Tempatnya terlihat sunyi.


Hanya ada beberapa orang yang sedang berjalan-jalan dengan wajah penuh kesedihan.


Disebuah pohon, terlihat seorang anak kecil sedang memukul-mukul batang pohon.


Dia menangis sambil memanggil kedua orangtuanya.


Sedih sekali melihatnya seperti itu.


Dan aku tidak boleh mendekatinya.


Tidak tahan melihat anak kecil itu, aku segera berjalan kearah sebuah sungai.


Ternyata di tepi sungai inilah, tempat mereka duduk sambil mengambil apa saja yang dibawa oleh aliran sungai.


Sekarang aku harus mencari istri mas Jantaka. Kira-kira ada dimana dia?


Tidak mungkin,aku menghampiri mereka satu persatu. Mereka banyak sekali jumlahnya ditepi sungai ini.


"Hentakkan tongkat itu tiga kali, dia akan mendekatimu." suara pak Rasyid terdengar jelas di telingaku. Rupanya dia selalu menemaniku dengan caranya.


Setelah mendengar instruksi dari pak Rasyid, aku menghentakkan tongkat ke tanah sebanyak tiga kali.


Seketika cahaya suar berpendar keseluruh area. Cahayanya terang benderang.


Dan benar seperti kata pak Rasyid, seorang wanita mendekat kearahku.


Dia menatapku dengan tatapan yang tidak dapat diterjemahkan. Namun, raut wajah kebingungan jelas terlihat.


Setelah dia berada pada jarak lebih dekat.


Kukatakan padanya, seperti pesan pak Rasyid.


Kalau dia belum waktunya berada disini. Dan dia harus segera kembali.


Wanita itu mengangguk. Dia meraih tongkat yang kupegang.


Tiba-tiba saja, cahaya yang menyilaukan mengelilingi kami berdua.


Kupejamkan mata karena tidak tahan dengan cahaya yang menyilaukan itu.


Setelah cahaya mulai redup, kubuka mata perlahan-lahan.sekaranh aku sedang berada diatas sebuah eskalator panjang.


Eskalator disini banyak sekali. Arahnya menuju ke segala penjuru. Terlihat ada beberapa orang diatas setiap eskalator.


Aku mencoba mencari istri mas Jantaka.


Dia berada di sebuah eskalator yang menuju ke atas. Kulihat dia menoleh kearahku, mengangguk sebentar, kemudian kembali berdiri dengan wajah lurus ke depan.


Kulambaikan tangan padanya, Sampai dia menghilang diantara pilar-pilar besar.


Sedangkan aku masih kebingungan, akan menuju kemana eskalator yang membawaku.


Eskalator menuju kesebuah lorong gelap.


Sekitar dua menit, berada di lorong ini. Membuatku sedikit sesak nafas.


Sampai terlihat sebuah cahaya diujung lorong.


Eskalator berhenti tepat diujung lorong yang menghubungkan sebuah Selasar dengan sebuah pintu besar.


Sampai disini aku masih kebingungan. Tapi aku tetap melangkah kearah pintu besar itu.


Sesampainya didepan pintu, pintu itu terbuka perlahan-lahan.


Seseorang berdiri di depanku dengan wajah dinginnya.


"Syukurlah, kamu kembali." ucapnya lega.


Dia mengulurkan tangannya, kuraih tangannya dengan perasaan linglung.


Aku tidak mengenali wajahnya. Tapi suaranya terdengar seperti suara pak Rasyid. Dia terlihat berbeda?


Ah, kenapa aku lupa. Kalau bangsa mereka bisa merubah wujudnya sesuka mereka.


Dan dalam kebingunganku, aku masih bertanya-tanya kenapa dia bisa menyentuhku?


Pak Rasyid membawaku masuk kedalam sebuah lift.


Lift dengan desain klasik dan indah. Membuatku terkagum-kagum melihatnya.


Selama didalam lift, kami tidak berbicara.


Tapi, pak Rasyid tidak melepaskan genggaman tangannya.


Seketika perasaanku menjadi tenang dan damai.


Aku merasa, dia sangat melindungiku.


Sewaktu pintu lift terbuka, dia memintaku keluar dengan sopan.


Aku keluar dari lift, dan segera berbalik melihat kearahnya.


Dia tersenyum. Senyum yang tidak pernah diberikannya selama kami bertemu.


Aku tertegun menatapnya, sampai pintu lift tertutup.


Untuk sesaat aku masih memandang kearah pintu lift.


Sampai akhirnya, aku merasakan kekosongan di sudut hatiku.


Ada rasa takut, kalau nantinya kami tidak akan bertemu lagi.


Kesedihan itu begitu menguasaiku.


Sampai akhirnya, aku terbangun.


Cahaya matahari telah menembus tirai jendela kamar.


Aku terlambat kembali ke dalam tubuh material.


Dan hal ini akan menimbulkan efek yang cukup lama pada tubuh material.


🍃🍃