SINTRU

SINTRU
SINTRU- 83



By: Tiara Sajanaka


🌼Pak Rasyid membuka selimut yang menutupi tubuhku.


"Kenapa kamu menangis?" tanyanya khawatir.


Aku langsung memeluknya dan kembali menangis.


"Lira, katakan. Apa yang membuatmu seperti ini?"


"Aku tidak ingat apapun tentang dia. Tapi perasaanku sangat sakit sewaktu dia menceritakan tentang kami. Apa suatu saat nanti, kamu juga akan menghilangkan ingatanku tentangmu?"


Pak Rasyid memelukku erat, "Tidak, aku tidak akan melakukan hal itu. Itu terlalu menyakitkan untukku. Aku tidak sekuat dia."


"Jangan tinggalkan aku tanpa alasan yang jelas. Jangan pernah lakukan itu, pak."


Pak Rasyid menarik nafas panjang. Dia mencium keningku. Kemudian memintaku menenangkan diri.


Kuraih botol air mineral diatas meja. Meminumnya setengah. Kemudian mengembalikannya keatas meja.


"Aku ingin kembali ke tempatmu. Aku ingin bertemu temanku."


"Ada apa? Kalau ada yang ingin kamu ceritakan. Aku akan mendengarkan."


"Kamu tidak akan sanggup menjadi pendengar buatku. Semua terasa menyakitkan."


"Bicaralah,"


"Kamu yakin?" tanyaku ragu.


"Katakan saja."


"Aku merasa, tidak bisa menemukan pria seperti dirinya."


"Dirinya? Madsudmu, suamimu dalam dunia astral?"


"Benar. Selama menjalani kehidupan sebagai manusia. Aku tidak pernah merasa dekat dengan pria manapun. Mereka hanya memikirkan hasrat dan keakuannya. Tidak ada yang bisa menjadi teman diskusi."


"Itu karena kamu memiliki ekspektasi tinggi pada semua orang. Terlebih pada laki-laki."


"Benar pak. Secara tidak langsung, aku memiliki ingatan kuat tentang pria muda itu."


"Apa yang kamu ingat?"


"Kecerdasannya, wawasan dan pengetahuannya. Caranya menjelaskan saat berdiskusi. Semua itu, ternyata adalah bagian dari ingatanku."


"Usianya jauh dibawahku. Usia bangsa mereka hampir sama dengan hitungan usia manusia. Tetapi mereka dapat mencapai usia seribu tahun. Sedangkan manusia tidak."


"Mereka bangsa apa?"


"Sebenarnya, kamu sudah tahu. Kamu adalah bagian dari mereka."


"Aku tidak memiliki kemampuan apapun. Aku manusia biasa, pak."


"Sekarang aku tanya padamu. Kalau kamu diminta memilih mencintai seseorang, kamu memilih dari dunia manusia atau dunia astral?"


"Laki-laki atau perempuan?"


"Tentu saja laki-laki." ucapnya lembut.


"Aku tidak tahu, pak. Tapi, laki-laki di dunia manusia tidak ada yang bisa membuatku benar-benar jatuh cinta. Seperti aku jatuh cinta padamu."


"Hal itu menjelaskan, kalau kamu sebenarnya adalah bagian dari dunia astral. Walaupun kamu sekarang menjadi manusia."


Aku tertawa mendengar kata-kata pak Rasyid. Bagaimana mungkin hal itu terjadi.


Aku merasa manusia sesungguhnya dan benar-benar terlahir dari orangtua yang diciptakan sebagai manusia.


"Lira, dia memberimu pilihan agar kamu bisa menjalani kehidupan sekarang ini dengan lebih baik. Itu sebabnya, mereka menghapus ingatanmu tentang dunia mereka."


"Aku bersyukur, dia memberiku kesempatan untuk menjadi manusia yang sesungguhnya."


Pak Rasyid tersenyum lebar. "Sudah pagi, aku lapar. Gimana kalau kita jalan-jalan kepasar?"


"Aku belum tidur, rasanya berat banget mataku."


"Baiklah, aku cari makanan dulu ke pasar. Kamu bisa istirahat."


Pak Rasyid turun dari tempat tidur. Dia memakai jaket dan syal. Serta memakai kaos kaki.


Tubuh Arya, tetap membutuhkan perlindungan dari udara dingin. Walaupun pak Rasyid dapat membuatnya aman dari cuaca dingin.


Setelah dia pergi, aku benar-benar tertidur nyenyak sekali. Sampai pak Rasyid pulang dari pasar, aku masih malas untuk membuka mata.


Sewaktu dia meletakan segelas kopi yang masih mengepulkan asap di atas meja, aku akhirnya membuka mata dan mendekati aroma itu sampai di dekat meja.


🍃🍃