SINTRU

SINTRU
SINTRU- 25



By: Tiara Sajanaka


🌼Mas Jantaka sudah menungguku. Wajahnya terlihat pucat dan lelah.


"Silahkan duduk, mbak." ucapnya lemah.


"Energi mas sangat lemah. Sebaiknya mas tidak melakukan astral projection."


"Mbak tahu, kalau saya sedang melakukan Astral projection?"


"Tahu, karena kemarin saya melihat mas sedang duduk bersila dikamar. Saya pikir itu kembaran mas. Tapi, saya ingat. Mas mengatakan kita tidak berdua. Dirumah ini ada istri mas. Artinya, tidak ada lagi orang lain selain mas dan istri."


"Mbak memang memiliki kehidupan di dua dunia. Bagaimana bisa seorang manusia berada di dunia Astral dalam waktu lama dan setiap malam mengembara."


"Saya juga tidak tahu mas. Sebaiknya kita mencari solusi buat istri mas."


"Istri saya mengalami syok hebat. Saya sudah meminta pamannya untuk mengembalikan energinya."


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"


"Masih sama seperti kemarin."


"Kalau saya membawa mbak Kun kesini, apa mas ijinkan?" tanyaku hati-hati.


Mas Jantaka terkejut mendengar pertanyaanku.


"Madsud mbak apa?"


"Apa mas tahu, kalau saat terlontar ke Dimensi lain, Sukma istri mas melewati gerbang dimensi?"


"Apa seperti itu mbak?"


"Benar, bukan hanya karena terkejut saja yang membuat istri mas seperti itu.Tetapi, sukmanya juga terlontar."


"Saya tidak pernah terpikirkan hal itu mbak. Jadi, Sukma istri saya ada dimana?"


"Saya belum bertemu dengan istri mas. Tapi, pasti ada di suatu tempat di dimensi kedua."


"Jadi, apa hubungannya dengan wanita itu?" tanya mas Jantaka.


"Saat terkejut, sebagian energi istri mas diserapnya. Hal itu yang membuat mbak Kun memiliki kemampuan memanggil saya."


"Apa dia bisa mengembalikan energi yang dipinjamnya?"


"Bukan seperti itu madsudnya mas, kalau mbak Kun bisa melihat istri mas. Dia akan menemukan frekuensi keberadaan Sukma istri mas."


"Besok saya diskusikan dengan paman istri saya ya mbak. Selain itu, apalagi solusi yang terbaik?"


"Tolong besok mas bersihkan ruang jemuran. Dan minta paman mas untuk memotong seluruh bagian tiang di ruang jemuran."


"Saya juga tidak tahu mas, tapi itu pesan yang saya terima. Ada empat tiang besar disitu. Memang terlihat artistik dan klasik. Tapi bahan dari tiang itu, menggunakan kayu pohon tempat tinggal mereka."


Mas Jantaka menunduk dalam-dalam.


Dia sepertinya sedang berusaha mengingat sesuatu.


"Orangtua saya yang meminta kayu pohon itu untuk di gunakan sebagai tiang di bagian belakang."


"Jadi, orangtua mas mengetahui tentang pohon itu?"


"Orangtua saya adalah bagian dari pengembangan villa disini mbak."


Sekarang aku mengerti. Kenapa banyak sekali kejadian yang dialami oleh keluarga mas Jantaka.


Walaupun mas Jantaka belum menceritakan tentang keluarganya. Aku bisa merasakan energi negatif yang mengikuti keluarga besar mereka.


"Baiklah mas, besok saya kembali untuk menjelaskan kenapa harus memotong tiang di ruang jemuran. Tolong, setelah dipotong, kayunya diletakkan ditempat yang kering dan bersih."


"Baik mbak, besok akan saya sampaikan pada paman."


"Oh ya, jangan lupa sebelum memotong kayu buat selamatan sedikit. Nasi tumpeng dengan pelengkapnya."


Aku mencoba untuk mengingat pesan yang kuterima.


Pesan itu kuterima sewaktu aku merasa sedang bermimpi yang aneh.


Ternyata itu bukan mimpi. Tetapi, pesan dari semesta melalui alam ilusi.


"Dan sewaktu memotong kayu, siapapun yang berada disekitar tempat itu, jangan putus berdzikir dan bersholawat. Memohon perlindungan ALLAH dan pengampunan."


Mas Jantaka menatapku dengan pandangan heran.


"Bagaimana mbak bisa memikirkan cara itu? Padahal usia mbak masih jauh di bawah saya."


"Saya hanya menyampaikan pesan semesta kepada mas. Selebihnya, mas yang akan melakukan eksekusinya. Saya hanya perantara buat orang-orang yang masih belum dapat merasakan getaran alam semesta."


"Terima kasih mbak. Ternyata saya salah menilai sosok wanita itu. Ternyata keluarga kami yang telah mengusik ketenangan mereka selama ini."


"Bersyukur mbak Kun menggunakan energi dari istri mas, untuk mencari bantuan. Bukan untuk menteror keluarga mas."


Mas Jantaka mengangguk. Dia sudah harus kembali ke tubuhnya. Sebelum kondisinya benar-benar lemah.


Aku berpamitan padanya, dan berjanji akan kembali lagi.


🍃🍃