
By: Setya Rahayu
🌼Kami berjalan menyusuri beranda yang menghubungkan kamar dengan area diluar.
Kami juga berpapasan dengan para pekerja. Mereka berdiri dengan sopan dan menganggukkan kepala pada kami.
Aku melakukan seperti pesannya tadi. Tersenyum pada para pekerja yang berpapasan dengan kami.
Semua pekerja wanita yang kulihat, mereka mengenakan pakaian lengan panjang dan rok panjang.
Pakaian bagian atas berwarna abu-abu muda . Warna abu-abu tua untuk bawahannya.
Mereka memakai penutup kepala berupa kain segitiga yang diikat simpul dibagian belakang leher. Warna penutup kepalanya berwarna hitam.
Rambut mereka dikepang rapi kebelakang. Dengan panjang rata-rata sepunggung.
Terlihat bersih dan apik.
Mereka memakai alas kaki terompah kulit yang terlihat cukup kuat.
Sedangkan para pekerja pria memakai Hem lengan pendek berwarna krem, celana panjang berwarna coklat tua.
Mereka juga mengenakan penutup kepala seperti peci bulat berwarna putih.
Alas kaki memakai terompah dengan bahan yang sama.
Banyak sekali pekerja di tempat ini.
Pasti mereka sangat sibuk setiap harinya untuk membersihkan dan merawat tempat seluas ini.
Pak Rasyid membawaku ke sebuah taman kecil.
Taman ini tempatnya cukup tinggi.
Dari taman ini, kami bisa melihat area dibawah taman.
Suasananya tenang dan menyenangkan.
Disekeliling taman ditanami beberapa jenis pohon peneduh.
Kami menuju ke sebuah bangku taman yang terletak dibawah sebuah pergola. Buah anggur merah menggantung bergerombol dibagian atas. Disela-selanya terlihat bunga-bunga Peony yang sedang bermekaran. Indah sekali.
"Kita duduk disini." ajaknya sambil meletakkan selembar kain diatas bangku.
Aku duduk dengan tenang.
Pak Rasyid duduk disebelahku.
Dia terlihat begitu bersahaja.Mengenakan pakaian dan jubah ala kerajaan Turki Usmani.
Aku juga melihat, desain bangunan ditempat ini, seperti desain jaman kerajaan Turki Usmani.
Dengan banyak ornamen, mozaik warna-warni yang terpasang disetiap kubah. Serta gradasi biru dan keemasan sangat mendominasi setiap bangunan.
"Tempat ini dibangun untuk menghormati ibu kandungku."
"Apa ibu kandung bapak berasal dari Turki?"
"Ibuku memiliki darah campuran."
"Turki dan Indonesia?"
"Turki dan Astral."
Aku tidak mengerti dengan ucapannya.
Apa ibu pak Rasyid adalah wanita yang memiliki orangtua manusia dan astral?
"Saya tidak paham madsud bapak. Sebaiknya saya tidak terlalu ikut campur masalah hubungan kekerabatan bapak."
"Aku hanya menjawab pertanyaanmu, Lira." ucapnya serius sambil menoleh kearahku.
Darahku berdesir melihat tatapannya. Mata birunya itu memancarkan cahaya seperti safir.
Segera kualihkan pandangan kearah perbukitan.
"Tentu para wanita akan menyukai tempat ini." kataku sopan.
"Ibu sangat menyukai tempat ini. Sedangkan wanita lain, aku tidak tahu soal itu."
"Apa bapak tidak memiliki pasangan?"
"Selama ini, aku menunggumu Lira."
"Lalu, kenapa bapak membiarkan tuan Arkana melamar saya?"
"Tuan Arkana berhak melakukan itu. Kamu wanita bebas. Bagaimana mungkin aku melarangnya."
"Saya tidak mengerti dengan jalan pikiran bapak. Kalau bapak memang menunggu saya, seharusnya bapak tidak membiarkan tuan Arkana melamar saya."
"Tuan Arkana adalah penguasa wilayah disini. Waktu itu, aku juga belum tahu, apa kamu menyukaiku atau tidak. Kamu berhak untuk menentukan pilihan."
"Apa tuan Arkana tidak akan marah, kalau mengetahui hal ini?"
"Aku tidak tahu Lira. Bagaimana reaksi tuan Arkana nanti. Yang pasti, aku akan menjelaskan masalah ini dengan baik."
Kuhela nafas berat. Aku juga tidak tahu, apa yang akan dilakukan tuan Arkana setelah mengetahui hubungan kami.
UPS..kami?
Apa kami telah benar-benar menjadi pasangan kekasih?
🍃🍃