SINTRU

SINTRU
SINTRU-17



By : Tiara Sajanaka


🌼"Aku bukan memanfaatkan mereka. Tapi itu adalah solusi yang terbaik buat mereka."


"Kenapa saya harus mengorbankan diri? Mereka bukan siapa-siapa saya. Dan kalau akhirnya mereka tidak menemukan solusi yang terbaik, itu bukan urusan saya pak." jawabku tenang.


"Kamu!" hardiknya.


Dia mulai kehabisan kata-kata.


Aku tahu, dia tidak akan menyakiti dan memaksaku.


Karena bagaimanapun jahatnya mereka, mereka juga tidak bisa sembarangan menyakiti manusia.


Harus ada alasan untuk pembenaran, saat mereka menyakiti manusia.


Itu sebabnya, ada kalimat "Jangan mengusik mereka, kalau tidak ingin diganggu."


Kalimat itu benar. Mereka tidak akan menggangu manusia, kalau manusia tidak mengusik mereka.


"Sebaiknya saya kembali. Masalah ini sudah sangat jelas. Kalau bapak benar peduli pada mereka, bapak akan memberikan mereka wilayah yang netral untuk tempat tinggal."


Dia tidak menjawab. Matanya tajam menatapku.


Disaat seperti ini, semua menjadi serba salah.


Kalau aku tidak melihat kearahnya, dia akan mengatakan aku membuang muka.


Sedangkan melihatnya, akan semakin membuatku tidak nyaman.


Mereka memang jenis yang sangat sensitif.


Tak berapa lama, dia memanggil pak Rasyid.


Memintanya untuk mengantarku kembali.


Kutinggalkan Arkana tanpa berpamitan ataupun membungkukkan badan.


Hal itu, pantang kulakukan saat bertemu mereka.


Manusia yang membungkukkan badan dan bersikap berlebihan pada bangsa jin, hanya akan membuat mereka menjadi jumawa. Dan tertawa bahagia.


Mereka bahagia telah membuat manusia berada lebih rendah dari posisinya.


Bahkan banyak manusia yang menjadi hamba bangsa jin.


Pak Rasyid memintaku mengikutinya. Dia tidak membawaku ke taman. Tapi kami langsung menuju ke mobil yang menjemputku tadi.


Didalam mobil, tidak ada yang berbicara.


Pak Rasyid seperti ingin mengatakan sesuatu padaku, tapi di urungkannya.


Sebenarnya, aku juga ingin bertanya.


Apakah para tamu sudah meninggalkan taman. Hanya saja, suasana terasa kaku.


Sebaiknya aku tidak menanyakan hal itu.


Kali ini, penutup pembatas antara sopir dan kursi belakang tidak dinaikkan.


Membuatku bisa melihat sosok sopir itu dari samping.


Tapi ingatanku sangat buruk saat berada di dunia astral.


Sepertinya sopir itu tidak mengenalku.


Dia terlihat fokus pada pekerjaannya dan tidak bersuara sedikitpun.


Sambil memejamkan mata, kucoba mengingat-ingat. Siapa dia sebenarnya.


Samar-samar ingatan itu datang, tapi tiba-tiba hilang seketika.


Sampai kami tiba didekat jalan masuk menuju kompleks villa, aku tidak bisa mengingatnya.


Pak Rasyid menemaniku turun, dia menunjukkan tempat dimana nanti mbak Kun akan menemuiku.


Sebelum pergi, pak Rasyid mengajakku berbicara.


Kami agak menjauh dari mobil.


Mungkin, pak Rasyid tidak ingin sopir itu mendengar pembicaraan kami.


"Lira, saya harap kamu bisa menghargai apa yang telah dilakukan Tuan Arkana."


Aku terkejut. Pak Rasyid menyebut namaku.


Darimana pak Rasyid mengetahui namaku?


Padahal kami baru bertemu hari ini.


Mereka cepat sekali mendapatkan informasi tentangku.


"Saya harap, bapak juga paham dengan sikap saya. Tidak ada kesepakatan apapun antara saya dan bangsa bapak. Apa karena bapak telah mengijinkan saya menumpang sholat magrib, sehingga itu dianggap sebagai sebuah pemberian?"


"Bukan begitu. Tuan sampai bersedia menerima para astral dimensi kedua di wilayahnya, itu semua dilakukan untukmu."


"Bapak tahu, sebenarnya hal itu dilakukan hanya untuk kepentingannya. Seolah-olah semua itu adalah bantuan. Tetapi semua ada harga yang harus dibayar."


Pak Rasyid terkejut mendengar ucapanku.


Dia terlihat jadi serba salah.


Tentu pak Rasyid mengetahui kalau bangsa mereka sangat pandai dalam memanipulasi manusia.


Namun, bangsa jin yang telah menerima didikan dan pengajaran, mereka akan lebih memiliki empati. Serta bisa membedakan mana hal yang benar dan mana yang salah.


"Tuan menyukaimu sejak lama." ucapnya serius.


"Saya tidak tahu itu pak.Karena saya baru dua kali ke kawasan ini. Dan hal itu tidak boleh diteruskan."


Aku harus tegas dalam menangani masalahku dan Arkana.


Tidak boleh terlihat ragu atau meminta waktu buat berfikir.


Bagi mereka, keraguan dan cara manusia mengulur waktu, adalah suatu kepastian kalau manusia bersedia menerima bantuan mereka.


Selama ini, aku melihatnya begitu.


🍃🍃