
By: Setya Rahayu
🌼"Saya masih memiliki tanggung jawab pada mbak Kun. Karena dialah, saya bisa bertemu bapak."
"Sampai kapan kamu memanggilku bapak? Seolah-olah aku ini sudah uzur." protesnya.
Aku tergelak mendengar dia mengatakan sudah uzur.
Bukankah usianya memang sudah sangat tua?
Kalau dihitung dari jaman terakhir kerajaan Turki Usmani, maka dia sudah berusia lima ratus tahun.
Apa itu bukan usia uzur?
"Kenapa kamu tertawa,?
"Saya tidak tahu usia bapak. Karena hal itu sangat tidak sopan untuk di tanyakan."
"Usiaku belum ada lima ratus tahun. Di dunia manusia aku masih berusia sekitar tiga puluh tahun. Apa usia tiga puluh tahun termasuk uzur?" ketusnya.
"Bukankah ibu berasal dari jaman kerajaan Ottoman?"
"Benar, tetapi bukan pada tahun pertama berdirinya kerajaan Ottoman."
"Tapi, kenapa tuan Arkana terlihat lebih muda? Apakah tuan Arkana usianya lebih muda dari bapak?"
"Jadi, madsudmu. Aku memang sudah tua? Apa itu yang membuatmu selalu memanggilku bapak?" kekehnya.
"Saya melihatnya seperti itu."
"Kamu memang tidak bisa menjaga perasaan."
Aku tertawa melihatnya kesal tetapi dia tersenyum.
Dia memang menawan.
Garis wajah pria Turki, membuat wajahnya terlihat klasik dan angkuh.
"Sekarang, ibu pak Rasyid ada dimana?" tanyaku was-was.
"Ibu memilih menyepi di suatu tempat. Jauh dari sini."
"Lalu, siapa orangtua laki-laki bapak?"
Ntah kenapa aku menjadi begitu lancang menanyakan hal ini.
Pak Rasyid menatapku. "Kamu masih belum tahu, siapa ayahku?"
Kugelengkan kepala dengan mimik wajah serius.
Pak Rasyid menghela nafas berat.
"Ternyata tidak semua hal bisa kamu rasakan."
Untuk beberapa saat, kami sama-sama terdiam. Dia menatap kearah bawah perbukitan dengan wajah sedih.
Angin dingin bertiup kearah kami.
Membuatku terkejut dan mengigil.
"Apa itu? Kenapa dia lewat didepan kita?" tanyaku heran.
"Manggala," jawabnya.
"Siapa Manggala?"
Pak Rasyid tersenyum lebar.
Dia berdiri, lalu berjalan kearah tebing.
tanyanya pada sesuatu yang terlihat bergerak seperti titik-titik embun.
Sesuatu itu perlahan-lahan menunjukkan wujudnya dengan utuh.
Seorang pria tampan dengan pakaian berwarna putih kebiruan.
Pakaian yang dikenakan seperti seragam sebuah pasukan elit.
Pria itu melihat kearahku. Dia mengangguk dengan santun.
Aku membalas anggukannya.
Mereka berbincang sekitar lima menit menurut perkiraanku.
Tak lama kemudian pria tampan itu meninggalkan kami.
"Lira, Manggala sudah menemukan temanmu." kata pa Rasyid.
"Teman yang mana, pak?"
"Wanita itu, yang sering bersamamu."
"Mbak Kun? Jadi selama ini mbak Kun kemana?"
"Setelah mengantar kamu sampai gerbang astral, dia tertangkap para penjaga patroli."
"Pantas saja, kemarin aku tidak bisa menemukannya."
"Dia sekarang berada di tempat Manggala. Tapi kamu tidak bisa kesana."
"Kenapa? Apa disana berbahaya?"
"Tempatnya di dalam air. Manggala adalah komandan para pasukan bawah."
"Apakah mbak Kun dihukum?"
"Tidak Lira. Saat dia tertangkap. Manggala berusaha melepaskannya. Tapi, dia malah kabur. Akhirnya dia tertangkap lagi sama prajurit yang berpatroli."
"Trus, bagaimana dia bisa berada di tempat Manggala?"
"Manggala tidak menjelaskan secara detail. Tapi yang pasti. Saat ini dia aman berada disana."
Aku merasa bersalah pada mbak Kun. Untuk melindungiku dari anak buah Arkana, dia rela ditangkap mereka.
"Kenapa tuan Arkana mengawasiku? Dan meminta para penjaga menangkap kami?"
"Wilayah udara, adalah wilayah paling berbahaya didunia astral. Sering terjadi kekuatan dari tempat lain menerobos ke wilayahnya. Tuan khawatir, kamu akan diterjang banaspati atau kekuatan lainnya."
"Bukan karena kami melanggar wilayahnya?"
"Salah satunya itu. Tidak boleh sembarangan terbang diatas wilayahnya."
"Ternyata dunia astral lebih ketat dari dunia manusia."
"Kalau tidak seperti itu, ketenangan setiap wilayah akan terganggu. Semua ada aturan dan batas-batasnya."
"Lalu, kenapa para penjaga sangat patuh pada bapak? Begitu juga pepohonan di taman?" tanyaku penasaran.
"Karena dia putraku." tiba-tiba terdengar suara menggelar dari atas.
Aku terkejut mendengar suara itu. Dan berusaha mencari sumbernya.
Pak Rasyid menggenggam tanganku erat-erat.
Dia langsung berdiri di depanku. Berusaha melindungi dari suatu bahaya.
🍃🍃