SINTRU

SINTRU
SINTRU-42



By: Tiara Sajanaka


🌼"Siapa canim?" tanyaku kesal.


"Kamu cemburu?" godanya.


"Tidak. Hanya saya merasa tidak nyaman, kalau bapak menyebut nama wanita lain di depan saya."


Pak Rasyid tertawa renyah. Wajahnya seketika terlihat memerah.


"Kamu panggil aku Rasyid. Nanti aku jelaskan, siapa canim itu."


"Ya sudah, bapak tidak perlu jelaskan." kataku sambil berbaring.


Tapi aku segera duduk kembali. Karena menyadari masih mengenakan pakaian dari dunia astral.


"Bagaimana pakaian ini tidak terlepas saat melewati gerbang astral?"


"Pakaian itu telah menyatu dengan dirimu. Setiap kamu akan mengembara. Kamu bisa memakainya."


"Sebaiknya saya segera berganti pakaian. Pakaian ini cukup berat dan ribet."


Aku mengambil pakaian ganti didalam lemari.


Lalu berganti pakaian didalam kamar mandi.


"Tentu aneh sekali kalau saya mencuci pakaian ini ke laundry." kataku saat menggantung pakaian di lemari.


"Pakaian itu tidak perlu kamu cuci. Dia bisa mandi sendiri."


"Apa?" tanyaku sampai melotot kearahnya.


Pak Rasyid terkekeh sambil menutup mulutnya.


Dia tidak bisa berhenti tertawa melihat kebingunganku.


Aku semakin kesal dibuatnya. Kubaringkan tubuh diatas kasur sambil menarik selimut.


Pak Rasyid ikut berbaring disampingku.


"Kenapa tidur disini?" ketusku.


"Aku belum bisa pulang. Sebentar lagi aku akan menemui tuan."


Perasaan risih membuatku duduk kembali.Kemudian menyandarkan punggung ke dinding.


Pak Rasyid memelukku. Tak lama kemudian, terdengar suara dengkuran halus datang dari dirinya.


Baru kali ini aku melihat bangsa astral tidur. Ternyata mereka juga mendengkur saat terlelap.


Walaupun suara dengkuran itu, halus sekali.


Beberapa menit berlalu. Membuatku mulai merasa lapar.


Pelan-pelan kulepas pelukannya. Dan beringsut turun dari kasur.


Aku masih punya roti dan biskuit pemberian ibu manager.


Untuk teman makan roti, aku membuat dua mug keramik teh panas.


Siapa tahu pak Rasyid berkenan minum teh dari dunia manusia.


Suara petir mengejutkanku. Berbarengan dengan turunnya hujan yang sangat deras.


Kunikmati roti dengan teh panas. Tanpa membangunkannya. Aku segan untuk membangunkan.


Sepertinya hujan semakin lebat. Suara petir juga bersahut-sahutan. Seolah-olah berada tepat diatas atap.


Angin menderu-deru dengan sangat keras.


Terdengar suara ledakan dari ujung blok.


Saat terjadi ledakan, lampu kamar juga padam.


Tapi kamar tidak gelap.


Pakaian yang dikenakan pak Rasyid seperti menggunakan bahan sulfur.


Pakaian itu memancarkan cahaya ditempat gelap.


Kulihat dia bergerak dan duduk didepanku.


"Berisik sekali mereka." ucapnya kesal.


"Mereka siapa?"


"Petir dan hujan."


"Sudah tugas mereka seperti itu." sahutku.


"Benar, biarkan mereka menjalankan tugasnya."


"Apa bapak mau minum teh panas?"


"Aku tidak bisa minum itu."


"Kenapa? Apa tubuh para astral tidak bisa mengkonsumsi makanan manusia?"


"Benar Lira, tubuh kami tidak bisa menerimanya. Kecuali saat aku berada di duniaku."


"Tapi, saya dengar para astral makan dengan menghisap sari-sari makanan?"


"Haha..begitu ya? Aku belum pernah melakukan hal itu. Mungkin boleh dicoba." kekehnya.


Dia meraih mug keramik didepanku.


Mencium aromanya sebentar. Kemudian diletakkan kembali.


"Teh melati ini wangi sekali. Sayangnya aku tidak bisa meminumnya." desahnya.


"Saya tidak punya apa-apa untuk menjamu bapak."


Pak Rasyid tertawa. Dia mengeluarkan kotak berbentuk panjang dari jubahnya.


Dari kotak itu dia menjumput sepotong biskuit. Menikmatinya pelan-pelan.


Setelah menghabiskan sepotong biskuit, dia mengambil sebuah kantong kulit seukuran telapak tangan.


Dari kantong kulit itu, pak Rasyid meneguk air.


Aku terpana melihat melihat semua bawaanya. Dia seperti seorang anak sekolah yang selalu membawa bekal makan siang saat sekolah.


🍃🍃