SINTRU

SINTRU
SINTRU-107



By: Tiara Sajanaka


🌼Rasyid menungguku di halaman tengah. Sewaktu aku sampai di kediamannya.


Dia tersenyum lebar dengan kedua tangannya yang mengembang.


Tentu saja, hal itu adalah isyarat untukku agar berlari kearahnya.


Aku segera berlari dan memeluknya.


Dia memelukku erat. "Rasanya sudah satu abad aku menunggumu."


Aku tertawa sambil melonggarkan pelukan.


Dia menatapku lembut.


Kemudian menarik tanganku, membawaku masuk kedalam kamarnya.


"Bagaimana hari-harimu diluar sana?" tanyanya sewaktu kami sudah duduk di sofa panjang.


"Melelahkan. Tetapi membuatku bahagia."


"Ceritakan padaku." pintanya antusias.


"Bukankah kamu bisa melihatku melalui cermin bejana?"


"Aku belum bisa mengaktifkan cermin bejana, disaat sedang fokus dengan pemulihan."


"Apakah, membutuhkan energi yang besar untuk mengaktifkan cermin bejana?"


"Tentu saja Lira, energi yang dibutuhkan itu seperti jaringan internet yang membutuhkan bantuan seperti WiFi atau kuota."


"Oalah, ternyata kalian memiliki WiFi dan kuota sendiri." kekehku.


"Kamu meledekku?"


"Bukan begitu. Tetapi aku jadi teringat saat berbicara dengan mbak Kun soal energi."


"Apa kamu sedang mencari informasi tentang itu?"


"Ya tentu saja. Aku sedang mencari solusi untuk mengembalikan energi istri mas Jantaka. Tanpa perlu menarik kembali energi yang sudah bersama Mbak Kun."


"Kemarilah," Rasyid menarikku kedalam pelukannya.


"Kalau masalah itu, nanti aku minta Manggala mengambil akar laut."


"Apa itu akar laut?"


"Sejenis hewan laut, tetapi dia berbentuk seperti ganggang."


"Terumbu karang?"


"Bukan, bentuknya menyerupai ranting pohon kering."


"Apa mereka benar-benar hidup? Apa mereka makan? BAB? Dan seperti apa warnanya?"


Rasyid menjentik hidungku. "Kebiasaan! Setiap kali bertanya selalu beruntun. Coba tanya satu-satu."


Kuusap ujung hidung perlahan. Tidak sakit, hanya sedikit geli.


"Kamu tidak rindu padaku?" godanya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan." ucapku kesal.


"Tidak, malah kamu yang selalu mengalihkan pembicaraan. Bukankah kamu datang untukku?"


"Iya.." jawabku dengan perasaan tidak enak.


"Lalu, kenapa sekarang kita harus membahas masalah orang lain? Seharusnya kamu fokus dengan urusan kita." ucapnya lembut.


"Aku hanya ingin, tugasku ditempat ini bisa cepat terselesaikan."


"Lalu, kalau sudah selesai kamu berharap tidak datang lagi ke tempat ini?"


"Bukankah, aku tidak bisa datang lagi?"


"Kamu bisa datang, Lira. Kalau aku memanggilmu dan menuntunmu kemari."


"Bagaimana dengan hukum wilayah Pak Arkana? Aku akan mendapatkan kesulitan. Kamu tahu kalau aku memiliki perjanjian dengan pak Arkana."


"Ya aku tahu. Tapi perjanjian itu kamu buat untukku dan untuk menolong mereka."


"Jadi, kamu sudah tahu perjanjian kami?"


"Tuan mengatakan padaku. Dia melihat kamu sangat tulus dalam menjalin hubungan dengan para astral. Kamu tidak memperalat kami. Kamu juga tidak memanfaatkan kami."


"Lalu, hubungan seperti apa yang bisa kuberikan selain rasa menghargai sebagai sesama makhluk?"


"Hal itu yang membuat tuan Arkana mengasihimu."


Kupandang Rasyid dengan rasa tidak percaya. Astral jenis jin merah memiliki rasa kasih? Apa sebenarnya mereka juga memiliki perasaan yang jauh lebih baik daripada manusia?


"Jadi, perjanjian itu bagaimana?" tanyaku gusar.


"Kita akan tetap memiliki hubungan yang baik antar dunia. Dan areamu akan tetap menjadi milikmu. Untuk mereka. Tuan tidak akan menarik kembali pemberiannya."


"Syukurlah!" pekikku gembira sambil memeluknya erat. Hatiku lega sekali.


Para astral dimensi kedua itu, mereka akan menjadi penghuni area itu selamanya.


Semoga mereka bisa hidup rukun dan damai di tempat itu.


"Kamu bahagia?"


"Tentu saja. Aku tidak perlu khawatir lagi tentang kehidupan mereka di masa yang akan datang. Wilayah pak Arkana sangat aman dan tidak terusik manusia. Artinya, mereka juga tidak akan mengganggu manusia."


"Kamu tidak mengkhawatirkan aku?"


"Pak Rasyid yang terhormat..bapak adalah penerus wilayah ini. Apa yang harus saya khawatirkan? Bapak adalah penguasa kedua setelah pak Arkana." ucapku serius.


"Mulai..kumat kamu!" ketusnya.


Seketika aku tertawa terbahak-bahak melihatnya kesal, sewaktu kusebut pak Rasyid.


Dia tidak menyukai panggilan itu. Panggilan yang membuatnya merasa sangat tua.


🍃🍃