
By: Tiara Sajanaka
πΌDia meraih tanganku dan meletakkan diatas kepalanya.
Dengan lembut, aku membelai kepalanya.
Sepertinya dia sedang mengalami beban pikiran yang cukup berat.
"Ada apa, pak?" tanyaku lembut.
"Tidak ada, aku hanya ingin bersamamu."
Kusandarkan kepala ke nakas. Bagian nakas tempat tidurnya besar dan tinggi. Dengan ornamen klasik dan indah.
Seleranya memang sangat berkelas. Sangat kontras ketika dia berada di dunia manusia.
"Lira, apa dalam dunia manusia, kita dapat dikatakan sedang berselingkuh?" tanyanya ragu.
Aku terkejut mendengar pertanyaannya.
"Kenapa menanyakan hal itu?"
"Bukankah dalam dunia manusia, kalau kamu menikah dengan pria lain, tetapi kamu bersama pria yang lainya, itu disebut perselingkuhan?"
"Aku paham madsudmu. Lalu, saat ini dimana pria yang menjadi suamiku? Bukankah dia telah melepaskanku?"
"Dia melepaskan dirimu untuk menjalani kehidupan sebagai manusia. Bukan berarti hubungan kalian telah berakhir."
"Aku tidak tahu dengan hukum di dunia kalian. Tetapi, di dunia manusia, seorang suami yang tidak memberi nafkah lahir bathin selama tiga bulan berturut-turut, sang istri sudah bisa mengajukan gugatan perceraian."
"Di dunia kami tidak ada perceraian."
"Lalu, aku dianggap apa? Aku terikat pada pernikahan itu. Tapi aku tidak mendapatkan hak sebagai istri. Pernikahan seperti apa itu?"
"Sebenarnya, aku tidak bisa memikirkan cara apapun untuk bersamamu. Tapi, aku selalu merindukanmu. Perasaanku kosong,setiap kali tidak bisa melihatmu."
"Apa karena masalah itu, kamu berpamitan padaku?"
Dia diam. Hanya terdengar helaan nafasnya yang terasa berat.
"Kita memang tidak bisa menikah. Tetapi kita bisa tetap menjadi teman. Memiliki satu sama lainnya tanpa saling mengikat." ucapku tulus.
"Apa kamu bisa menerima hal itu?"
"Tentu saja, aku tidak akan melarangmu menikah atau memiliki hubungan dengan wanita manapun. Dan aku berharap, hubungan kita tetap terjalin dengan baik."
"Aku tidak akan menikah, sampai batas usiamu. Seratus tahun bukan waktu yang lama buatku."
"Jangan seperti itu. Kamu juga harus memikirkan masa depan wilayah pak Arkana."
"Tuan Arkana akan hidup sangat lama, sampai aku benar-benar menggantikannya."
"Menyenangkan sekali dapat hidup sampai ratusan tahun. Bisa melakukan banyak hal yang baik dan bermanfaat."
"Tidak semua berfikiran sepertimu. Bahkan banyak yang malah bersikap seenaknya. Tanpa memikirkan hukum semesta."
"Bukankah ada konsekuensinya untuk itu?"
"Ya, dan rata-rata mereka dimusnahkan. Atau di turunkan ke tempat paling bawah."
"Aku sekarang mengerti, kenapa kamu sangat takut lepas kendali saat bersamaku. Kamu takut dengan hukum yang mengerikan itu?"
"Bukankah para astral, suka berselingkuh dan memiliki banyak pasangan?"
"Iya, banyak. Tetapi kami tidak dapat melakukan kebebasan seperti itu. Kami sangat taat pada hukum dan aturan."
"Ternyata tidak semua astral itu jahat ya?"
"Kamu sudah pernah bertemu astral jahat?"
"Tidak, tapi di dunia manusia selalu mengatakan kalau bangsa jin itu jahat."
"Mereka menemukan apa yang mereka cari. Kalau mereka memiliki hati yang tidak baik, niat yang jahat, tentu saja mereka akan bertemu dengan perwujudan yang seperti mereka inginkan."
"Syukurlah, selama ini aku tidak pernah bertemu astral yang jahat."
"Apa aku tidak jahat?"
"Tidak, kamu tampan, keren, macho, menawan dan..."
"Dan apa?"
"****."
"Ngaco.. laki-laki kok ****." kekehnya.
Dia bangun dari pangkuanku. Kemudian duduk disampingku.
"Bisakah kamu tinggal bersamaku?"
"Tentu saja, hal itu tidak mungkin. Kita tidak memiliki ikatan yang membuatku mendapat ijin untuk menetap bersamamu."
"Kalau aku yang tinggal bersamamu, bagaimana?"
"Apa kamu akan dapat bertahan sebagai manusia? Harus bekerja keras untuk membeli makanan. Tidak memiliki pekerja. Harus bekerja keras untuk membeli sebidang tanah atau rumah."
"Apa seberat itu?" tanyanya terkejut.
"Tentu saja, aku harus bekerja untuk membeli makanan, membayar uang sewa kamar dan membeli kebutuhan lainnya."
"Aku bisa menggunakan kemampuanku untuk menjadi manusia."
"Bagaimana kamu akan melakukan hal itu di dunia manusia?sedangkan menggunakan kekuatan saja tidak boleh."
Pak Rasyid menatapku dengan bingung.
Selama ini, dia hidup di dunia astral dengan kenyamanan dan kemudahan.
Bisa menggunakan kekuatan sihir dan kemampuan sebagai makhluk astral.
Tentunya sangat sulit kalau harus menjalani kehidupan sebagai manusia.
Di dalam tubuh Arya, dia juga tidak benar-benar menjalani kehidupan sebagai manusia.
"Bagaimana? Masih ingin bersamaku?" aku tersenyum padanya.
"Akan aku lakukan. Setidaknya, aku memiliki petualangan baru sebagai makhluk abadi."
Aku tertawa geli. Semoga saja dia hanya bercanda. Dunia manusia bukanlah tempatnya. Dengan sikapnya yang dingin dan keras seperti itu, dia akan kesulitan untuk beradaptasi dengan manusia.
ππ