SINTRU

SINTRU
SINTRU-75



By: Tiara Sajanaka


🌼Pak Rasyid tersenyum kecil. "Suatu saat, kamu akan paham dengan madsudku."


"Terserah, aku bukan manusia siluman ataupun manusia jadi-jadian. Itu artinya aku manusia utuh."


"Aku tidak akan berdebat soal ini. Kita turun sekarang."


"Kemana Manggala dan Mavendra?"


"Mereka tidur di dunia bawah. Setelah mengantarmu, aku akan kesana."


"Mereka bisa kemana saja tanpa memerlukan kendaraan. Apa itu menyenangkan?" tanyaku saat kami menuruni bukit.


"Jauh lebih menyenangkan menjadi manusia. Percayalah, kami lebih rela menjadi manusia dengan usia pendek. Daripada menjadi astral dengan usia panjang."


Setibanya di parkiran, dia duduk diatas motor.


Wajahnya menengadah menatap langit. Seperti ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanyaku setelah melihatnya diam selama beberapa menit.


"Kalau aku menjadi manusia dengan bentuk tubuh dan wajah seperti Arya, apa kamu akan mencintaiku?"


"Tergantung.."


"Tergantung dari apanya?"


"Begini, mungkin ada beberapa wanita yang tidak melihat dari segi fisik. Tetapi dia menerima apapun keadaan pria itu, karena kepribadiannya. Ada juga karena dari segi materi pria itu mapan. Atau disebabkan faktor lainnya."


"Jawabanmu melebar kemana-mana. Padahal pertanyaanku adalah mengenai dirimu."


"Aku sulit jatuh cinta. Tetapi aku suka berteman, menjalin hubungan dekat tanpa ikatan perasaan. Dan aku juga melihat dari segi fisik. Bukan materi."


"Tapi kamu mencintaiku. Dan aku bisa merasakan hal itu dengan sangat jelas. Apa aku hanya berangan saja?"


"Memangnya nggak ada tempat lain untuk membicarakan hal ini. Ini parkiran kendaraan lho.." kekehku.


"Hmm, baiklah. Kita membahas ini sambil sarapan. Aku jadi laper gara-gara kamu."


"Lha..kok aku?"


"Iya, kamu kalau ditanya, jawabannya muter-muter. Bikin capek aja." sungutnya


Aku tertawa geli melihatnya bersungut-sungut.


Wajah Arya menjadi sangat lucu, dengan pipinya yang chubby.


Duh Gusti..


Kenapa aku selalu mentertawakan Arya?


Padahal dia adalah sahabat terbaikku.


Agar dia memiliki tubuh yang proporsional.


Dan dia juga sudah harus mengendalikan nafsu makannya itu.


Kalau dia bisa menjaga bentuk tubuhnya, aku yakin dia pasti sangat keren.


Dan wanita tidak lagi melihatnya hanya dari segi materi.


Saat ini, Arya memiliki bisnis yang sangat baik. Rental mobil. Tempat kost elit. Dia juga menyewakan garasi ditanahnya yang seluas dua hektar di daerah strategis.


Selain itu, dia memiliki bisnis dengan pengusaha berlian di Kalimantan.


Tetapi dia terlihat sangat sederhana. Rendah hati dan suka membantu orang lain.


Walaupun tampilan fisiknya sering membuatku marah padanya, ternyata dia memiliki banyak kekasih.


Aku sering mengejeknya, kalau wanita-wanita itu hanya mau uangnya.


Dia tidak marah. Malah menasehatiku, kalau dia hanya membantu mereka untuk mendapatkan keinginan mereka.


Ya kehidupan Arya memang bebas. Tanpa ikatan pernikahan, dia bisa mendapatkan wanita manapun dengan sejumlah uang.


Sedangkan denganku, hubungan kami terjalin cukup baik tanpa melibatkan perasaan.


"Malah melamun, cepat naik." tegur pak Rasyid.


Aku tertawa melihatnya. Dia menggelengkan kepala melihatku tertawa.


"Ntah apa yang kamu tertawakan dari tadi."


"Aku jadi teringat pada kekasih-kekasih Arya. Apa mereka tidak menghubunginya ya?"


"Nomer yang dia gunakan aku simpan. Saat ini, aku tidak memakai nomernya."


"Ternyata semua laki-laki sama. Saat bersama wanita lain, mereka akan menggunakan nomer lain."


"Kamu cemburu?"


"Tidak, tapi kamu juga sama seperti laki-laki di dunia manusia."


"Hmm, aku tidak tahu. Kamu marah pada Arya atau kamu sedang kesal padaku."


"Pada kalian berdua!" teriakku ditelinganya.


Dia melihatku melalui spion, tersenyum bahagia.


Senyum yang membuatku kesal.


🍃🍃