
By: Tiara Sajanaka
🌼Tiga hari ini, pak Rasyid seperti menempel terus padaku. Aku jadi risih dan kesal padanya. Tidak bebas rasanya selalu diikuti kemana-mana.
"Kenapa nggak pulang?" tanyaku kesal.
"Kamu sudah bosan lihat aku?"
"Risih rasanya diikuti kemana-mana."
"Seharusnya kamu senang, ada pria tampan didekatmu." sahutnya sambil tertawa lebar.
"Narsis."
"Sedikit,"
Kenapa pria selalu bersikap seperti itu saat sedang jatuh cinta?
Nempeeeeel terus sampai bikin susah bergerak.
"Aku akan pergi menemui mereka."
"Aku temani."
"Bukannya kamu harus pulang dan bekerja?"
"Aku sudah mengajukan cuti pada tuan Arkana. Jadi, bisa menemanimu beberapa hari ini."
Ada rasa curiga dengan sikapnya kali ini. Sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu padaku.
"Katakan, ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu mengajukan cuti?"
"Kan sudah kukatakan. Aku ingin menemanimu."
"Tidak pak, ada sesuatu yang kamu sembunyikan."
"Kamu itu curigaan. Nggak ada apa-apa." jawabnya datar.
"Ya sudah, aku bereskan kamar dulu. Kemudian berganti pakaian. Malam ini, aku harus berpakaian sedikit tebal. Cuaca terasa semakin dingin."
"Pakailah kaos kaki, agar kakimu aman."
Aku setuju. Kuambil kaos kaki dari lemari pakaian. Mencari yang tebal dan panjangnya sampai lutut. Kaus kaki ini nyaman sekali.
Kami melewati gerbang astral bersama. Sesampainya di wilayah Arkana, kami telah ditunggu dua orang prajurit.
Mereka meminta kami menemui Arkana.
Pak Rasyid terlihat tenang. Dia tidak khawatir dengan penjemputan yang tidak seperti biasanya.
Aku memilih tidak bertanya padanya. Sewaktu kami memasuki kediaman Arkana.
Kulihat wajah pak Rasyid mulai terlihat tidak senang.
Kami diantar oleh kedua prajurit ke ruang pertemuan. Disini telah berkumpul semua pejabat di wilayahnya. Serta para istri-istri Arkana duduk pada singgasananya masing-masing.
Semua putra dan putri Arkana juga berada di ruang pertemuan ini.
Seorang pekerja, mempersilahkan kami duduk di deretan depan tempat adik-adik pak Rasyid. Manggala juga ada di deretan depan.
Setelah kami duduk, hidangan segera disajikan. Para pekerja wanita dengan cekatan meletakkan hidangan disetiap meja orang yang hadir.
Sewaktu kuperhatikan hidangan diatas mejaku, berupa buah-buahan yang telah dibuat manisan dan dikeringkan.
Serta sebotol air mineral.
Tentu saja, aku tidak bisa menikmati kue-kue itu. Sedangkan buah-buahan aku bisa mencicipinya satu atau dua, sebagai penghormatan.
Arkana meminta kami semua untuk menikmati hidangan.
Kami menikmati hidangan dari meja masing-masing yang berada disamping sebelah kanan.
Beberapa pejabat, memberikan laporan tentang situasi diseluruh wilayah Arkana.
Dari laporan keamanan, kesejahteraan, pertanian, peternakan, sampai ke hal detail lainnya.
Kulihat, pak Rasyid berwajah murung. Dia tidak menyentuh sama sekali hidangan diatas mejanya.
Kecurigaanku semakin besar. Pasti semua ini berkaitan dengan hubungan kami.
Itu sebabnya, pak Rasyid terus menerus bersamaku selama beberapa hari ini.
Tetapi, dia tidak mau mengatakan padaku.
Arkana terlihat tersenyum lebar setiap kali, laporan itu memuaskan hatinya.
Namun, dia akan terlihat kesal saat mendengar laporan yang tidak baik.
Sampai akhirnya semua pejabat selesai membacakan laporan kerjanya.
Arkana meminta perwakilan dari putra-putrinya memberikan laporan tentang perkembangan areanya masing-masing.
Seorang pemuda membawa gulungan kain.
Dia membacakan laporan area setiap nama yang disebutnya.
Aku sedikit heran, kenapa mereka masih menggunakan gulungan kain untuk setiap laporan?
Bukankah mereka memiliki alat-alat modern juga? Atau semua masih menggunakan tata cara jaman dulu?
Kalau itu benar, artinya mereka tetap mempertahankan tradisi saat berada di ruang pertemuan besar.
Setelah semua laporan selesai dibacakan, Arkana bertanya pada pak Rasyid.
Dia menanyakan apa pak Rasyid, sudah menyimak semua laporan.
Tapi pak Rasyid terlihat mengatupkan gerahamnya. Tangannya mengepal didepan perutnya. Dia sepertinya tidak bisa menerima
Acara pertemuan saat ini.
Dia juga tidak mau menjawab pertanyaan Arkana.
Tiba-tiba dia berdiri, kemudian menarik tanganku. Dan langsung membawaku keluar dari ruang pertemuan.
Dia sudah tidak memperdulikan adat dan etika serta tata Krama di ruang pertemuan.
Tentu saja aku menjadi kesal dengan sikapnya yang diluar kebiasaan.
Aku memintanya untuk melepaskan tangannya.
Dan mulai berbicara tentang masalah ini.
Dia membawaku keatas puncak menara tertinggi di wilayah Arkana.
Disini, dia menunjukkan semua wilayah Arkana. Wilayah yang sangat luas dan tidak terusik manusia.
🍃🍃