
By: Tiara Sajanaka
🌼 Sebenarnya aku takjub melihat hamparan pasir putih yang terlihat indah itu
Tapi, pak Rasyid mengatakan pasir itu cukup panas untuk diinjak.
Sedangkan aku tidak menggunakan alas kaki.
Kulihat pak Rasyid menggunakan terompah kulit cukup tebal.
"Kamu tidak bisa memakai alas kakiku." katanya, sewaktu melihatku sedang memperhatikan alas kakinya.
"Kenapa? Kebesaran?"
"Alas kaki ini hidup." Dia melepas terompahnya. Kemudian dilempar kearah lautan pasir.
Terompah itu bergerak ke arah pak Rasyid.
Sudah pasti, terompah itu akan menolak saat kupakai.
"Oh Tuhan, dunia astral ini sangat menakutkan." pekikku.
"Sudah, kita lanjutkan perjalanan." Dia berjalan meninggalkanku tanpa menghiraukan keterkejutanku.
Aku masih ragu menginjakkan kaki ke pasir.
Tapi, mengingat seseorang yang sedang kucari itu, rasa ragu itu menghilang seketika.
Perlahan-lahan, kuletakkan kaki diatas pasir.
Pasirnya kasar dan tajam.
Saat telapak kaki menyentuh pasir, memang terasa sangat panas.
Benar-benar panas.
Seketika aku menjerit kesakitan. Lalu menarik kakiku kembali.
Kupanggil pak Rasyid, agar membantuku melewati lautan pasir.
Dia tidak menoleh, jalannya lurus dengan pandangan fokus ke depan.
Baiklah, mungkin seperti itu caranya melintasi lautan pasir putih.
Kulangkahkan kaki dengan pasti.
Pandangan fokus ke depan.
Pikiran tertuju hanya pada garis batas diujung sana.
Dan ajaib! Rasa panas itu tidak kurasakan.
Sampai akhirnya aku bisa melewati lautan pasir.
Batas lautan pasir berakhir disebuah jalan berlapis marmer.
Saat melihat lantai marmer, aku langsung merebahkan diri dilantai.
Terasa nyaman dan dingin.
Membuatku bisa meluruskan badan.
Pak Rasyid menatapku sambil bersedekap.
Dia tidak menegur atau memintaku menuju ke arah persimpangan.
Hal itu membuatku heran.
"Kenapa bapak tidak menegurku?"
"Untuk apa? Kamu punya tanggung jawab disini. Apa kamu akan tetap berbaring atau segera mencari wanita itu? Semua tergantung keputusanmu."
"Wanita? Dia mbak Kun?" tanyaku.
"Bukan, kamu akan melihatnya sendiri."
"Baiklah pak, mari kita menuju ke persimpangan." kataku sambil berdiri. Dan membenahi pakaianku.
Pak Rasyid memberiku sebuah Hoodie.
Akhirnya, aku memiliki pakaian cukup tebal disini.
Anehnya dia tidak memberi alas kaki.
Apa di dunia astral, alas kaki adalah barang mewah?
"Terima kasih pak," kuraih Hoodie pemberiannya. Kemudian memakainya.
"Nanti disana, kamu tidak boleh ikut campur urusan orang lain.Fokus dengan tanggung jawabmu." tegasnya. Dia juga memberiku sebuah tongkat dengan suar diatasnya.
"Baik pak, trus kalau saya sudah bertemu wanita itu, apa yang harus saya lakukan?"
Kuterima tongkat pemberiannya. Sedangkan aku tidak tahu, untuk apa sebenarnya tongkat ini?
"Kamu katakan padanya, kalau dia harus kembali. Disini bukan tempatnya." kata pak Rasyid.
"Hanya itu pak?"
"Iya,"
Kalau hanya mengatakan hal itu, kenapa pak Rasyid tidak melakukannya sendiri?
Bahkan dia tidak pergi bersamaku.
Pasti dia punya alasannya sendiri.
Di persimpangan, pak Rasyid menunjukkan arah yang harus kuambil.
Sebenarnya persimpangan ini cukup membingungkan. Ditambah anginnya yang kencang dan berdebu.
Bentuk persimpangan ini, seperti simpang siar-siur di kotaku.
Hanya saja, disini tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang.
Namun, banyak sekali orang-orang yang berjalan mondar-mandir mencari arah tujuannya. Dan mereka tidak saling bertabrakan satu sama lainnya.
Sorot mata mereka terlihat kosong. Raut wajah menunjukkan kelelahan dan tanpa harapan.
Melihat keadaan mereka, ingin sekali aku menunjukkan arah yang akan mereka tuju.
Agar mereka tidak terjebak di persimpangan ini dalam waktu lama.
Sayup-sayup terdengar suara pak Rasyid diantara deru angin.
"Jangan ikut campur urusan mereka!"
Uff, hampir saja aku melakukan kesalahan fatal. Kuurungkan niat untuk membantu mereka.
Setelah membaca penunjuk arah, aku mengikuti tanda penunjuk sektor yang ku tuju.
Sektor 15 memiliki tanda bendera berbentuk segitiga. Setiap satu tiang diberi dua helai bendera. Satu bendera segitiga kecil diikat diatas. Satu bendera besar diikat dibagian bawah.
Bendera-bendera itu berjajar di sisi kanan dan kiri sepanjang perjalanan menuju sektor 15.
Angin kencang membuat bendera-bendera itu berkibar-kibar dan menimbulkan suara seperti kepakan sayap kelelawar besar.
Blug..blug..blug..bleg..bleg..bleg..
Suara-suara itu membuatku takut.
Jalan menuju sektor 15 sepi, gelap dan dingin. Sekarang aku tahu, kenapa pak Rasyid memberiku tongkat dengan suar dibagian atasnya.
Tanpa suar, aku tidak bisa melihat jalan yang kulalui.
Tubuh astralku mulai menggigil kedinginan.
Walaupun telah mengenakan Hoodie cukup tebal.
🍃🍃