
By: Tiara Sajanaka
🌼"Sekarang istri mas semakin lemah. Apa karena energi istri mas digunakan oleh mbak Kun?"
"Benar mbak, waktu itu istri sedang mengambil jemuran di ruang cuci. Tidak sengaja dia menarik kain yang dipikirnya seprai. Ternyata wanita itu sedang duduk diatas jemuran."
"Memangnya jam berapa ambil jemurannya?"
"Sekitar habis Isya. Kami baru pulang dari acara keluarga. Istri buru-buru mengambil jemuran."
"Waktu itu, istri mas pasti terkejut sekali. Apa sempat tidak sadarkan diri?"
"Tidak sampai pingsan. Tapi dia terkejut cukup lama. Setelah saya tegur, baru dia tersadar."
"Sebelum menempati rumah ini, apa mas tidak menceritakan tentang kondisi rumah ini?"
"Saya tidak ingin istri menjadi kepikiran. Walaupun saya tahu, dia bukan penakut."
"Saya jadi tidak mengerti, bukankah wanita itu berada di dimensi kedua? Kenapa pakaiannya bisa disentuh oleh istri mas?"
"Rumah ini adalah tempat tinggal mereka bertahun-tahun. Energi mereka telah memenuhi seluruh ruangan."
"Tetapi, astral itu tidak dapat disentuh ketika kita berada di dimensi ketiga."
"Benar mbak, tapi jangan lupa kalau penghuni dimensi kedua itu perwujudannya kasar. Saat kita terlempar ke dimensi mereka, kita dapat bersentuhan dengan mereka."
Aku tertegun mendengar penjelasannya.
Berarti, sewaktu mengambil jemuran, istri mas Jantaka terlempar ke dimensi kedua?
Bagaimana hal itu bisa terjadi?
"Saya jadi berfikir, kalau di ruang jemuran itu memiliki pintu antar dimensi."
"Benar, itu sebabnya saat ini kami tidak menggunakan ruangan untuk menjemur."
Sekarang aku telah menemukan pusat energi astral di rumah ini.
Apa mas Jantaka mengetahui hal itu?
Sepertinya, pengetahuannya tentang dunia supranatural cukup luas.
Itu sebabnya, dia yakin bisa menempati rumah ini.
"Sebaiknya, istri mas dibawa ketempat lain dulu. Sebelum mas benar-benar dapat menyelesaikan masalah ini."
"Apa mbak bisa datang dengan tubuh material?"
"Oh ya, saya lupa menanyakan hal ini. Sebenarnya ini di daerah mana ya mas?"
"Jadi, mbak belum tahu nama tempat ini?"
Kuanggukkan kepala.
Mas Jantaka mejelaskan nama daerah ini.
Ternyata cukup jauh dari tempat tinggalku.
"Saya tidak tinggal di daerah ini mas. Kalau saya harus datang dengan tubuh material. Maka saya harus menyebrangi pulau. Biaya transportasinya juga lumayan besar."
"Maafkan saya mbak, karena masalah kami, mbak jadi ikut terlibat."
"Saya juga heran, ada manusia bisa berada di dunia astral dengan leluasa."
"Bukan suatu keistimewaan. Malah membuat saya menjadi tidak bisa berfikir secara realistis."
Kulihat mas Jantaka mengangguk lemah.
Matanya kembali terpejam.
"Maafkan saya mbak, sebaiknya besok saja kita melanjutkan pembicaraan ini." ucapnya pelan.
Mas Jantaka sepertinya mengalami kelelahan.
"Baiklah mas, saya akan kembali besok." jawabku segan.
Akupun berpamitan padanya.
Dia mempersilahkan dengan sopan.
Anehnya, dia tidak berdiri dari duduknya.
Setelah mengucapkan terima kasih, kutinggalkan dia diruang tengah.
Saat berjalan menuju ke ruang tamu, aku melewati sebuah ruangan dengan pintu sedikit terbuka.
Tidak sengaja mataku melirik kearah pintu itu.
Aku semakin terkejut, sewaktu melihat mas Jantaka sedang duduk bersila di ruangan itu.
Seketika aku membalikkan badan, melihat kearah ruang tengah.
Mas Jantaka masih dalam posisi duduk di sofa dengan mata terpejam.
Apa mereka kembar?
Atau hanya pikiranku saja yang melihatnya begitu.
Ah..sudahlah.
Sebaiknya aku segera menemui mbak Kun.
Untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya.
Kutelusuri jalan di sekitar komplek villa.
Mencari sosok wanita itu.
Sepertinya dia tidak dapat berada di area ini dalam waktu lama.
Itu sebabnya, dia sering menghilang dan tiba-tiba muncul.
Aku mencoba naik keatas salah satu villa.
Dari sini, bisa terlihat semua kawasan dengan lebih luas.
Tapi, tidak kutemukan keberadaannya.
🍃🍃