
By: Tiara Sajanaka
🌼Rasa penasaran, membuatku mencari tahu tentang berbagai jenis makhluk astral. Sebenarnya pak Rasyid itu masuk kedalam bangsa apa?
Apalagi di dalam dunia mereka, usia pak Rasyid termasuk masih muda.
Namun, dia memiliki kemampuan melebihi makhluk lainnya.
Makhluk astral dimensi kedua memang bisa berkeliaran di dunia manusia. Tetapi mereka tidak bisa merubah bentuk menjadi manusia.
Hanya sampai batas menyerupai saja.
Berbeda dengan bangsa jin yang sangat piawai dalam merubah wujudnya secara keseluruhan.
Namun, mereka tidak bisa berada didunia manusia dalam waktu lama.
Sedangkan pak Rasyid, dia mengetahui tentang dunia bawah. Serta dapat membawa benda dari dunianya ke dunia manusia.
Hal seperti itu, sangat sulit terjadi.
Hanya para astral yang memiliki kemampuan tingkat tinggi yang dapat melakukannya.
Dari mesin pencari di internet, aku tidak mendapatkan informasi apapun.
Tidak ada satupun penjelasan tentang makhluk astral yang sering kutemui.
Rata-rata hanya menjelaskan kalau mereka adalah makhluk jahat dan suka mengganggu manusia.
Serta tulisan penuh dengan prasangka negatif.
Membuatku yakin, kalau sebenarnya penulisnya itu tidak pernah benar-benar bertemu dengan para astral.
Hanya dari katanya dan cerita-cerita masa lalu.
Waktu terasa lama sekali berjalan kalau kita tidak melakukan aktivitas yang berarti.
Dalam kebingungan dan rasa bosan, kucoba menghubungi guru.
Bersyukur guru berkenan mendengar masalahku di tempat mas Jantaka.
Beliau memberi beberapa saran yang dapat dijadikan tambahan pengetahuan dalam menyelesaikan masalah mas Jantaka.
Mungkin, sebaiknya aku meminta nomer HP mas Jantaka. Agar kami tetap bisa saling terhubung di dunia manusia.
Setelah berdiskusi dengan guru. Kugunakan waktu untuk meditasi dan menyelaraskan kembali energi yang telah terkuras di dunia astral.
Nanti malam, aku harus kembali menemui mas Jantaka.Serta mencari keberadaan mbak Kun.
Sebelum magrib, aku menemui Luna.
Menjelaskan tentang pinjamannya yang sudah seharusnya dia kembalikan.
Pinjaman padaku juga pinjaman kepada Trisna.
Kami sempat beradu argument soal pinjaman itu.
Bahkan dia meminta bukti kalau pinjamannya sebesar yang kukatakan.
Begitu juga denganku. Selalu memiliki catatan semua orang yang meminjam uang saat mereka membutuhkan.
Melihat cara bicara Luna, sepertinya dia keberatan untuk menyelesaikan hutangnya.
"Kalau mbak keberatan untuk melunasi. Sebaiknya mulai bulan depan mbak mengangsur pinjaman itu." kataku sambil berusaha menahan emosi.
"Terserah kau saja, kalau ada duitku kubayar. Kalau tak ada, macam mana?" ketusnya.
"Baiklah,jangan salahkan saya kalau nantinya makin banyak mbak kehilangan."
"Kamu ngancam aku?"
"Itu peringatan!" tegasku.
Dengan perasaan menahan kesal, kuajak Trisna meninggalkan kamar Luna.
"Mbak, gimana kalau dia nggak mau bayar hutangnya?" tanya Trisna setelah kami berada didepan kamarnya.
"Kamu doakan supaya rezekinya lancar. Biar dimudahkan dia membayar hutang-hutangnya."
"Baik mbak, aku telpon ibu dulu ya. Biar ibu nggak ngarep-ngarep kiriman uang itu." jawabnya sedih.
Kuhela nafas berat. " Besok mbak kasih uang yang kamu butuhkan itu."
"Mbak darimana uang sebanyak itu?"
"Besok mbak mengajukan kasbon ditempat kerja."
"Ya ALLAH, jangan mbak. Nanti Tris takut nggak bisa kembalikan."
"Sudah, jangan pikirkan itu. Sekarang kamu telpon ibu. Katakan lusa akan dikirim uangnya."
Trisna menatapku dengan mata berkaca-kaca.
Segera kupeluk dia seperti memeluk saudara perempuanku.
Trisna menangis tersedu-sedu didalam pelukanku.
Anak-anak kost yang baru pulang kerja, memandang kami dengan tatapan penuh tanda tanya.
Aku hanya mengangguk pada mereka.
Dan meminta Trisna untuk masuk ke kamarnya.
Setelah Trisna menutup pintu kamarnya.
Aku segera kembali ke kamarku.
Mencoba untuk berfikir jernih dan memaafkan Luna.
Aku sangat khawatir, kalau Luna akan mengalami teror dari kekuatan astral.
🍃🍃