SINTRU

SINTRU
SINTRU- 62



By: Tiara Sajanaka


🌼"Tapi, ada hal yang kuminta padamu.Aku harap, kamu setuju dengan permohonanku."


"Aku dengarkan." sahutku ketus.


"Aku ingin, kamu menemaniku selama dua Minggu waktu manusia."


Aku terkejut mendengar permintaannya. Ternyata dia tahu tentang cutiku itu.


Sungguh menyebalkan.


Sepertinya tidak ada lagi privasi dalam hidupku.


Semua hal dia dengar, semua hal dia tahu.


Bahkan untuk hal yang paling privasi dia juga mengetahuinya.


"Apa di duniamu tidak mengenal arti privasi?" ketusku.


"Kamu kekasihku, Lira. Apalagi yang perlu kita rahasiakan? Kamu tahu siapa aku. Begitu juga aku, sangat mengenal dirimu."


"Kekasih katamu? Apa seorang kekasih juga berhak merenggut nyawa orang yang dicintainya?"


"Lira, kamu tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Jangan membuatku semakin merasa bersalah."


"Kalau saja, waktu itu pak Arkana tidak datang. Apa kamu juga akan melakukan hal yang sama?"


"Lira, tidak akan ada yang terjadi padamu. Pakaian itu, akan melindungimu dirimu dengan baik. Walaupun aku melihatmu, aku tidak akan bisa menyentuhmu. Karena energi didalam pakaian itu akan menyatu dengan energi milikmu."


"Lalu, kenapa kekasihmu Akhirnya harus musnah dari kehidupannya?"


"Aku tidak bisa menjelaskan hal itu disini. Kalau kamu ingin mengetahuinya. Kamu harus memakai pakaian itu. Dan kita akan membuktikan tentang kebenarannya."


"Apa ini jebakan?"


"Mungkin." jawabnya dingin.


Kulirik dia sekilas. Makhluk jenis ini memang sangat cepat berubah suasana hatinya.


Tapi, apa mereka punya hati? Jantung? Paru-paru dan organ tubuh lainnya?


"Apa kalian punya hati?" tanyaku tiba-tiba.


"Hati dalam arti sebenarnya atau kiasan?"


"Arti yang sebenarnya."


"Kalau manusia tidak memiliki hati, apa mereka bisa hidup?"


"Setahuku tidak bisa."


"Sama! Perbedaannya hanyalah, kalian memiliki tubuh kasar. Kami tidak memiliki itu. Tetapi semua unsur didalam kehidupan kami, tidak jauh berbeda dengan manusia."


"Aku pikir, kalian tidak memiliki organ-organ tubuh seperti manusia."


Dia meraih tanganku. Aku berusaha menariknya. Tapi dia tetap memegang tanganku dan meletakkan didada bagian kanan.


Aku terkejut. Kenapa jantung mereka terletak disebelah kanan?


Jantung itu berdetak seperti layaknya detak jantungku


"Kenapa letaknya disebelah kanan? Apa semua astral juga seperti itu?"


"Aku tidak tahu. Tapi bangsa kami memiliki jantung disebelah kanan. Semua itu ada penjelasannya. Kamu bisa mencari informasi di perpustakaan yang ada di kediamanku."


Aku segera mencari informasi tentang posisi jantung manusia dari mesin pencari di internet.


Kalau manusia memiliki jantung di sebelah kiri, fungsinya sangat jelas untuk mengatur sirkulasi darah ke seluruh tubuh.


Apa jantung disebelah kanan juga sama fungsinya?


Tanpa sadar, aku menempelkan telinga ke dadanya. Mencoba mendengarkan detak jantungnya dengan lebih jelas.


Ternyata dia malah tertawa melihat kelakuanku.


"Apa aku perlu membuka baju, agar kamu bisa mendengarnya dengan lebih baik?" godanya.


Dengan cepat kutarik kepalaku dari dadanya.


Menggeser duduk menjauh darinya.


Lalu kembali fokus melihat ke layar handphone.


"Apa disana dijelaskan tentang posisi jantung para astral?"


"Tidak ada, aku hanya mencari fungsi jantung disebelah kiri. Apa sistem kerjanya sama ya?"


"Kalau kamu jeli saat berkelana, kamu akan melihat kalau kehidupan dunia astral itu seperti dunia pararel tetapi berada didalam cermin."


"Madsudnya, selama ini apa yang terlihat di dunia Astral, adalah kebalikan dari dunia manusia?"


"Tidak seperti itu..tetapi kamu melihat pantulan cahaya. Mata Ajna milikmu, sistem kerjanya sama dengan mata material. Itu sebabnya, kamu melihat dunia kami seperti saat kamu melihat dunia manusia."


"Jadi, sebenarnya seperti apa cara kerja mata Ajna itu?"


"Mata ketiga milik manusia, umumnya bekerja berdasarkan intuisi dan bathin.Membuat kebijaksanaan tanpa perlu menganalisa ataupun menggunakan logika.


Dia bekerja tanpa perlu adanya suatu alasan."


"Sebentar, aku coba memahami penjelasan ini. Biarkan aku berfikir sejenak."


"Aku jelaskan dengan bahasa yang lebih mudah. Mata Ajna dapat melihat bathin seseorang dengan lebih jernih. Apa kamu paham dengan madsudku?"


"Apa aku boleh menterjemahkan dengan pikiranku?"


"Ya, tentu saja."


"Yang aku tangkap dari madsud bapak, seperti ini.. seseorang yang memiliki mata ajna yang terbuka, adalah seseorang yang memiliki kemampuan bathin yang sangat peka pada sekitarnya?"


"Benar, dan tentunya memiliki kebijaksanaan dalam bertindak, berpikir dan bersikap."


"Lalu apa kaitannya mata ketiga dengan dunia astral?"


"Bathin yang peka dan tajam, tentu saja dapat melihat dengan lebih jelas dan jernih. Walaupun itu datangnya dari dimensi lain."


"Apa semua bisa terlihat?"


"Bukan seperti itu. Tetapi mereka lebih dapat memaksimalkan talentanya masing-masing. Tidak semua dapat melihat makhluk astral, walaupun mata ketiga itu telah terbuka sempurna."


"Lalu apa yang membuat mata ketigaku berbeda?


"Seperti yang aku katakan tadi, mata milikmu melihat dunia astral, seperti melihat dunia manusia. Kamu tidak lagi menggunakan mata bathin. Tetapi mata ketiga milikmu, terhubung langsung dengan mata material."


"Apa hal itu yang membuatku dapat melihat makhluk astral Seperti melihat manusia?"


"Lebih jelasnya, kamu melihat dunia astral, dunia! Bukan hanya makhluknya. Kamu melihat dunia astral, seperti melihat dunia manusia. Apa kamu paham madsudku?"


Aku mencoba mencerna kata-katanya.


Artinya, selama ini aku melihat dunia astral seperti cara kerja lensa pada sebuah kamera. Menerima cahaya kemudian memantulkannya kembali.


Seperti cara kerja mata manusia melihat obyek disekelilingnya.


Aku jadi semakin bingung dengan penjelasan pak Rasyid. Selama ini, aku berfikir kalau melihat mereka melalui mata bathin.


Ternyata selama ini, aku memang melihat mereka dengan mata material yang terhubung dengan mata ketiga.


🍃🍃