
By: Tiara Sajanaka
🌼"Kalau saja manusia bisa berfikir seperti kakak, tentu tidak ada orang yang tersesat dalam mencari kesenangan sesaat." ucapnya sedih.
"Kenapa kamu merasa sedih?"
"Sebenarnya, sebagai bangsa astral, kami juga tidak selalu senang menyakiti manusia. Itu sebabnya, kami memilih menyingkir jauh dari dunia manusia. Agar antara manusia dan makhluk astral tidak saling menyakiti."
"Bukankah manusia yang sengaja mencari kalian? Sampai ke goa terpencil, gunung tertinggi, hutan paling angker juga di datangi demi apa coba? Padahal sudah sangat jelas, kalau semua itu hanya sesaat saja."
"Ya, dan pada akhirnya mereka akan mengatakan kalau bangsa astral yang telah menyesatkan mereka. Padahal mereka yang mencari serta berusaha ngobok-ngobok dunia astral untuk dianggap hebat, sakti. Ada juga untuk mencari kekayaan semu." ucapnya geram.
"Ya sudah nasib kalian selalu dijadikan kambing hitam." kekehku. Manggala terlihat lucu saat mengomel. Apalagi ucapan ngobok-ngobok itu tanpa menggunakan kata sambung me, membuatku semakin terkekeh.
"Kenapa tertawa?" sungutnya.
"Bahasa Indonesiamu bagus. Tapi sering tidak menyertakan kata sambung atau kata bantu."
"Kenapa harus baku begitu? Memangnya bicara harus menggunakan tatanan baku begitu ya?"
"Nggak juga, hanya saja setiap kata kan memiliki arti berbeda. Ngobok-ngobok, mengobok-obok, di obok-obok, semua memiliki arti yang berbeda."
"Bahasa manusia memang rumit.Terlalu banyak susunan kata yang baku dan kaku."
"Kalau menggunakan bahasa gaul malah lebih bingung lagi. Aku malah pusing dengar bahasa gaul anak sekarang."
"Kok jadi membahas bahasa? Kakak sengaja mengalihkan pembicaraan ya?" tatapnya tajam.
"Nggak, kebetulan tadi aku merasa lucu mendengar caramu berbicara."
"Memangnya aku pelawak? Kok jadi lucu."
"Sudah marahnya. Kapan kita akan menemui Rasyid?"
Manggala melengos, kemudian berjalan mendahuluiku. Aku segera mengikuti langkahnya melewati Selasar menuju kamar Rasyid.
Beberapa pekerja terlihat berdiri dengan santun, setiap kali kami melewati mereka.
Para pekerja yang membuatku merasakan energi manusia pada diri mereka.
Walaupun energi itu sudah sangat redup.
Artinya, mereka dulunya adalah manusia.
Tetapi mereka jauh lebih baik berada di tempat ini. Daripada berada di alam penebusan.
Aku tidak tahu, bagaimana Rasyid bisa menempatkan mereka disini. Apa mereka memiliki kriteria khusus atau mereka memiliki perjanjian dengannya?
Hanya mereka yang tahu. Kenapa mereka bisa berada di kediaman Rasyid dan menjadi pekerja disini.
Dia mengetuk pintu dengan beberapa ketukan. Seperti sebuah kode atau tanda buat penjaga di dalam kamar.
Pintu kamar terbuka perlahan, penjaga tadi mempersilahkan kami masuk ke kamar Rasyid.
Setelah kami berada di dalam, penjaga yang berada di dalam ruangan menutup pintu kamar.
Aku agak sedikit bingung dengan situasi yang terasa dipenuhi kewaspadaan.
Manggala tersenyum melihat kebingunganku.
Dia menunjuk kearah dimana Rasyid sedang duduk menunggu kami.
Perasaanku menjadi sangat lega, melihatnya duduk dan tersenyum.
"Bagaimana keadaanmu canim?" tanyanya lembut.
Aku duduk didekatnya. Menatapnya penuh kerinduan. Serta memegang tangannya dengan hati-hati.
"Kenapa? Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir." ucapnya pelan.
Manggala duduk didekat Rasyid. Dia mengambil sepotong buah,menikmatinya sambil melihat Rasyid.
"Buah apa ini? Rasanya aneh sekali." Manggala memuntahkan buah yang telah digigitnya. Kemudian membuangnya ke tempat sampah kecil.
Rasyid tertawa melihat Manggala terkejut, sewaktu memakan buah itu.
"Itu buah langka. Kamu sudah membuang satu potong buah berkhasiat." kata Rasyid.
"Apa khasiatnya? Rasanya sungguh aneh."
"Banyak khasiatnya, terutama untuk memperbaiki jaringan didalam tubuh."
"Bukankah itu untuk manusia. Memangnya bisa digunakan untuk tubuh astral?"
"Tentu saja, apalagi aku masih memiliki gen manusia, walaupun sangat tipis."
Manggala mengambil wadah tempat buah di atas meja. Dia mengamati potongan buah serta buah yang masih utuh.
"Aromanya juga aneh. Bagaimana kamu bisa makan buah seperti ini?"
Rasyid tersenyum. Dia menatapku teduh.
"Kamu pasti tahu nama buah itu."
Aku mengangguk sopan. Tadinya aku tidak terlalu memperhatikan buah itu. Tapi, saat mereka membahasnya, aku jadi tahu buah apa yang dimaksud Rasyid.
🍃🍃