
By: Tiara Sajanaka
🌼 "Sebaiknya bapak meminta pak Arkana memberikan tempat pada mereka di wilayah kekuasaannya. Bukan di dalam wilayah bangsa bapak."
"Tuan akan memberikan dimanapun tempatnya, kalau kamu bersedia menerima lamarannya. Anggap area itu adalah mas kawinnya."
"Ternyata, pak Arkana meminta bapak mengatakan hal ini ya? Baiklah pak, pembicaraan kita sepertinya tidak akan mencapai titik temu. Saya akan mencari mbak Kun dan membicarakan masalah mereka."
Pak Rasyid menarik nafas berat. Dia pasti akan mendapatkan banyak pertanyaan saat menghadap pada Arkana.
Langkahnya terlihat berat sewaktu berjalan ke mobil.
Sebelum pak Rasyid masuk kedalam mobil, aku memanggilnya.
"Apa kamu berubah pikiran?" tanyanya riang.
"Bukan itu pak. Saya ingin bertanya, apa sopir itu berasal dari dunia manusia?"
Pak Rasyid terkejut. Tiba-tiba saja dia sudah menutup mulutku.
Cepat sekali dia berada di dekatku.
Padahal, tadi sangat jelas terlihat dia sudah membuka pintu mobil.
"Kalau kamu sudah tahu, sebaiknya diam."
"Tapi pak, bagaimana dia bisa berada disini.
"Sebenarnya, kamu sudah tahu soal ini. Kenapa harus mengajukan pertanyaan?"
"Tadi, saya hanya menduga saja pak."
"Kamu mengenalnya?" selidik pak Rasyid.
"Tidak, tapi saya bisa merasakan kalau sopir itu, bukan dari bangsa bapak."
"Oh, saya kira kamu mengenalnya."
"Tidak pak." jawabku pasti.
Walaupun aku merasa mengenal sosok sopir itu. Tapi aku tidak ingat dia itu siapa.
Kalaupun nantinya aku bertemu dengan orang-orang yang pernah ku kenal, aku tidak boleh mengatakan mengenal mereka.
Sebab, mereka akan sangat malu dan pasti tidak ingin anggota keluarganya menjadi sedih saat mengetahui kalau seseorang yang mereka sayangi ternyata berada dialam bangsa jin.
Sebaiknya memang begitu.
Aku tidak boleh mencampuri urusan hukum semesta.
Para manusia yang berada di sini, tentunya sudah tahu, bahwa inilah konsekuensi yang harus mereka terima. Setelah mereka terlepas dari raganya.
Hal itu yang membuatku menolak dengan tegas lamaran Arkana.
Aku tidak ingin, nantinya akan berada disini Sampai batas waktu yang tidak dapat dipastikan.
"Lira,"
"I..ya.. pak," sahutku tergagap.
"Kamu saya tinggal disini. Sebentar lagi dia akan datang."
"Baik, saya akan menunggu dia disini."
Pak Rasyid memastikan terlebih dulu, keadaan disekitar sini aman buatku. Sebelum dia masuk kedalam mobil.
Aku bersedekap sambil melihat mobil yang melesat ke atas.
Di dunia astral, hal itu bukan sesuatu yang aneh ataupun menakjubkan.
Sebenarnya, sudah cukup lama aku berada disini. Tetapi aku tidak bisa pergi sebelum bertemu mbak Kun.
Masalah ini harus cepat selesai.
Agar aku tidak bertemu Arkana lagi.
🍃
Sayup-sayup terdengar suara tawa mbak Kun yang melengking.
Membuat telingaku terasa tidak nyaman.
Dia berkelebat kesana kemari. Mencari posisi untuk landing.
Persis seperti kain seprai berwarna putih.
Berkibar-kibar tertiup angin.
Dunia astral itu selain tidak tertembus panas matahari saat siang hari, anginnya cukup kuat dan dingin.
Apalagi malam hari, suasananya semakin suram dan dingin.
Dunia yang memang di ciptakan untuk mereka yang memiliki unsur api.
Sedangkan aku, sering hanya memakai baju tidur dan bertelanjang kaki saat berada disini.
Hal itu yang membuatku selalu menggigil dan mengalami rasa tidak nyaman sewaktu kembali ke dunia material.
Sebenarnya, aku pernah mencoba memakai jaket.
Memakai kaos kaki dan penutup kepala.
Tetapi, jaket, kaos kaki dan penutup kepala terbang tertiup angin. Begitu aku memasuki portal antar dimensi.
Akhirnya, hari itu aku hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong di dunia astral.
Serta tanpa alas kaki.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa berganti pakaian di dunia astral.
Setiap kali melewati portal dimensi, aku akan menggunakan kekuatan pikiran untuk mengontrol pakaian yang akan kukenakan.
Semua bisa dilakukan dengan latihan dan kesabaran.
Lalu, darimana datangnya pakaian yang kupakai saat berada disini?
Sebenarnya, tubuh astral kita memiliki pakaiannya sendiri.
Bahkan tubuh astral kita, bisa tidak mirip dengan tubuh material.
Kecuali Sukma dan jiwa telah memiliki ikatan yang kuat.
Maka tubuh astral kita dapat terlihat seperti perwujudan tubuh material.
Kita juga tidak akan berada dalam kondisi tanpa busana.
Dunia astral memiliki tata cara, etika, undang-undang dan hukumnya sendiri.
Mereka juga tidak akan membiarkan para pengelana dunia astral berkeliaran tanpa busana.
🍃🍃