
By: Tiara Sajanaka
🌼"Julurkan lidahmu, Lira." pintanya.
"Bapak tidak bermaksud.."
"Ya bermadsud memberi obat lidahmu. Memangnya bermadsud apa?" godanya.
Wajahku seketika terasa panas. Pikiranku terlalu lancang. Berani berfikiran negatif padanya.
"Lira," panggilnya.
"Eh, iya pak." sahutku gugup. Kemudian aku duduk bersandar ke dinding.
Menjulurkan lidah kearahnya.
Dia mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik bajunya. Membuka tutup botol dengan hati-hati. Lalu meneteskan cairan didalam botol itu diatas kapas yang diambilnya dari meja rias.
Dengan lembut, dia meletakan kapas di ujung lidahku yang melepuh. Menutulnya berulang kali. Sampai cairan itu benar-benar meresap mengenai bagian yang melepuh.
Setelah selesai, dia memintaku merasakan bagian yang melepuh itu.
"Sudah hilang. Hanya rasa manis madu yang tertinggal." kataku lega.
Dia menatapku lembut. Meletakkan botol itu diatas meja kecil yang sekaligus menjadi meja rias.
Dadaku kembali bergemuruh. Saat pak Rasyid memegang tanganku.
"Kamu takut?"
"Sangat takut,"
"Kenapa?"
"Apa harus saya jawab?"
Saat ini, aku memang sedang ketakutan.Perasaan juga bercampur aduk tidak karuan.
Seharusnya, aku fokus pada tugas dan tanggung jawab yang sekarang harus kuselesaikan.
Bukannya malah terjebak pada perasaan sesaat yang terlarang.
"Aku tahu, kamu tidak akan menerimaku sebagai kekasihmu. Tuan Arkana saja kamu tolak. Apalagi aku."
"Saya berhak menolak bangsa astral. Karena hubungan antara manusia dan para astral itu sesat."
"Siapa yang mengatakan hal mengerikan itu?"
"Dalam agama dilarang. Dalam hukum semesta juga ditentang."
"Kamu mendengar hal itu dari siapa? Nabi? Tuhan? Alam? Atau sesama manusia biasa?"
"Dalam kitab suci tegas dikatakan hal itu."
"Selama ini aku belum pernah membaca ayat yang mengatakan, hubungan manusia dan para astral itu sesat."
Aku terdiam. Karena tidak ingat ayat yang mana yang menulis tentang hal itu.
"Tetapi memang benar, hubungan antara manusia dengan makhluk astral itu dilarang pak."
"Kenapa kamu memanggilku pak? Apa aku terlihat sangat tua?"
"Saya pikir, bapak lebih tua dari saya. Dan panggilan pak itu, adalah cara saya untuk menghormati bapak."
"Sudah, jangan penuh formalitas. Panggil aku Rasyid. Dan jangan menyebut kata saya lagi."
Sekarang dia sudah mencoba mengatur caraku berbicara.
"Kamu salah, kalau menganggap aku mengaturmu. Aku hanya ingin, kita tidak menjadi canggung dan penuh formalitas." ucapnya datar.
Ya Tuhan, dia bisa membaca pikiranku.
Betapa mengerikan makhluk ini.
Sebaiknya, aku tidak membiarkan diriku terbuai padanya.
"Saya akan menjadi diri saya sendiri. Apapun anggapan bapak pada cara kita berbicara, semua bukan tanggung jawab saya. Jadi, biarkan saya tetap seperti itu."
"Kamu memang berhati beku."
Rupanya, dia juga mengetahui tentang julukan itu.
Ntah apa madsudnya dengan julukan itu.
Selama ini, sikapku pada para astral tidaklah dingin. Tetapi, kenapa mereka memberiku julukan seperti itu?
"Sebaiknya, sekarang kita menemui mas Jantaka."
"Dia sudah tahu, kamu tidak akan datang malam ini."
"Kenapa? Saya masih memiliki waktu sampai fajar."
"Karena, aku ingin bersamamu malam ini."
Aku benar-benar menjadi kesal padanya.
Dengan perasaan penuh amarah, aku berdiri dan berjalan menuju pintu.
Aku ingin keluar dari kamar ini. Untuk mencari udara segar.
Suasana dikamar ini terasa semakin pengap dan panas.
Sewaktu aku meraih gagang pintu, dia menarikku dengan cepat.
Menatapku tajam dengan mata berapi-api.
Aku juga balas menatapnya tajam.
Untuk sesaat kami saling berpandangan dengan penuh emosi.
Sampai akhirnya, kurasakan ciumannya yang hangat di bibirku.
Dia ******* bibirku dengan penuh kelembutan. Namun, sensasi hangat yang diberikannya seolah-olah membakar seluruh jiwaku.
Tubuhku bergetar, dadaku juga berdegup kencang.
Dia telah membuatku tidak dapat mencerna kalimat apapun didalam pikiranku.
Caranya menciumku, sangat berbeda.
Penuh perasaan dan kerinduan yang mendalam.
Seolah-olah dia sudah menantikan hal ini lama sekali.
Apakah mungkin, sebenarnya kami memang telah saling mengenal sejak lama?
Lalu, siapa aku sebenarnya?
🍃🍃