
By : Tiara Sajanaka
🌼 Perasaan saat dapat terbang bebas melayang, membuatku tidak bisa menahan diri.
Aku meluncur keatas dengan bahagia.
Kemudian berputar, meliuk dan membuat gerakan-gerakan seperti menari, melompat, serta salto beberapa kali.
"Hentikan!" teriaknya kesal.
"Kenapa? Aku sedang menikmati perasaan bebas lepas ini."
"Itu sangat konyol. Hanya anak-anak yang melakukan hal itu."
Aku berhenti berputar. Menatapnya tajam.
"Orang dewasa juga berhak untuk bahagia. Melepaskan perasaan yang mengekang diri dengan bermain."
"Kamu datang, bukan untuk bermain."
"Baiklah, satu lompatan lagi." sahutku riang.
Setelah menyelesaikan lompatan terakhir, aku melayang lembut ke arah kompleks villa.
"Apa kamu punya nama?" kulirik dia sekilas.
"Makhluk seperti kami apa masih membutuhkan nama?"
"Jadi, kalian tidak punya nama? Bukankah jenis kalian banyak sekali. Bagaimana cara kalian saling memanggil?"
"Tidak usah dipikirkan. Kamu tidak akan paham. Walaupun kujelaskan."
"Selama ini, saat bertemu dengan jenis sepertimu, mereka selalu menunduk dan diam. Hanya tawa mereka saja yang terdengar menyayat hati."
"Kalaupun kami berbicara, kalian tidak akan mendengar suara kami. Didunia manusia, kamu juga tidak bisa mendengar suaraku."
"Jadi, kenapa suara tawa kalian bisa menembus tabir dua dimensi?"
"Tidak semua pertanyaan harus mendapatkan jawaban." dengusnya.
Ternyata mudah sekali membuatnya kesal.
Aku juga seperti itu.
Sering kesal dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban.
Tetapi sebagai manusia, kita memiliki sopan santun.
Walaupun sering kesal dengan hal itu, aku tetap harus menjawab dengan lembut.
"Kenapa kamu tidak pernah menyebut namaku?"
"Tidak perlu. Cukup menyebutmu manusia."
"Itu nggak sopan, tahu. Manusia punya nama."
"Kami memiliki julukan untukmu."
"Kami? Jadi kalian tahu tentangku?"
"Ternyata, kalian penggosip ya.." kekehku.
Dia melengos kesal. Kemudian turun perlahan-lahan seperti sehelai bulu yang melayang diudara.
Tetapi, aku tidak bisa melakukan hal itu. Saat akan turun mencapai tanah, harus berdiri tegak terlebih dulu.
Membuat posisi kaki lebih kokoh.
Agar saat mencapai tanah, tidak tergelincir atau jatuh terjerembab.
Aku sudah pernah mengalami kejadian itu.
Jatuh tersungkur sampai berguling-guling. Hanya karena tidak tahu cara mendarat dengan baik.
Tentu saja, aku tidak mau hal itu terulang lagi.
"Kalian memberiku julukan apa?" tanyaku penasaran.
Saat kami berjalan kearah rumah diatas bukit.
"Kamu tebak sendiri. Aku tidak akan memberitahumu." jawabnya angkuh.
"Jangan-jangan kalian memberiku julukan yang jelek." ketusku.
"Walaupun kami adalah bagian dari astral yang jahat, kami tidak menjuluki seseorang dengan hal jelek."
"Ternyata, kalian sadar kalau bagian dari astral dengan energi negatif."
"Tentu saja kami sadar. Kami tidak seperti kalian. Selalu merasa menjadi orang baik. Padahal kelakuan sangat mengerikan."
"Aku tidak suka seperti itu. Itu munafik namanya."
"Kamu tidak bisa melakukan itu. Tapi, banyak yang seperti itu."
"Apa madsudnya aku tidak bisa seperti itu? Aku bisa menjadi jahat. Bahkan bisa sangat jahat." sahutku dengan wajah angkuh.
Dia tertawa melengking.
Membuat telingaku menjadi berdenging.
"Sudah, hentikan tawamu itu. Ini masih sore." tegurku.
Dia mengelilingiku dalam jarak tiga meter.
Selama ini, para astral selalu menjaga jarak denganku sejauh tiga meter.
Kalau mereka mendekat satu langkah saja, mereka akan mengalami penolakan dari energi yang kumiliki.
"Ada apa?" tanyaku heran. Sewaktu melihat tingkah- lakunya.
"Tidak salah,mereka memberimu julukan itu." ucapnya serius.
Aku tertawa, mencoba menerka-nerka.
Kira-kira julukan apa yang mereka berikan padaku.
🍃🍃