SINTRU

SINTRU
SINTRU-19



SINTRU- 19


By: Tiara Sajanaka


🌼Aku teringat kejadian sewaktu pak Rasyid menutup mulutku. Kenapa pak Rasyid tidak mengalami penolakan dari tubuh astralku?


Apa sebenarnya pak Rasyid adalah manusia? Atau dia adalah astral dengan energi positif?


Karena hanya tubuh astral manusia yang dapat menyentuhku.


Serta para astral yang memiliki energi positif.


Mereka tidak akan tersengat atau terpental.


Sepertinya di tempat ini, akan banyak hal menakjubkan yang bisa kutemukan.


Terutama aku ingin melihat bagian bawah jembatan gantung penghubung taman.


Tapi, bagaimana caraku bisa kembali ke tempat itu tanpa diketahui Arkana?


Ternyata, banyak hal yang membuatku bersemangat untuk datang ke wilayah kekuasaan Arkana.


Dimana hal-hal yang terjadi di dunia astral, tidak kutemukan di dunia material.


Betapa beruntungnya aku.


Saat aku merasa semua yang kualami adalah beban, ternyata aku mendapatkan kesempatan untuk melihat dan mengalami kejadian yang tidak dialami semua orang.


Tiba-tiba kurasakan angin dingin menyapu tengkukku.


Segera kubalikkan badan untuk melihat kearahnya.


Mbak Kun turun dengan lembut seperti biasanya.


Dia menghampiriku dan berhenti dalam jarak yang sudah di ketahuinya.


"Aku akan membawamu kesuatu tempat," katanya sambil melemparkan selendang kepinggangku.


Seketika selendang itu melilit di pinggang dengan kuat.


Belum sempat menanyakan kemana tujuan kami, dia langsung menarikku keatas.


Kami melayang di udara seperti truk gandeng.


Dia didepan, sedangkan aku dibelakangnya.


Sepertinya dia membawaku berkeliling dari udara.


Sesekali dia menunjukkan sesuatu padaku.


Tetapi aku tidak paham, kenapa dia menunjuk beberapa titik area dibawah kami.


Sekitar sepuluh menit berputar, mbak Kun menurunkanku diatas sebuah bukit.


Dia juga melepaskan ikatan selendang.


"Kenapa membawaku mengitari tempat ini?"


"Semua yang tadi kamu lihat, adalah wilayahnya."


"Wilayah Arkana?"


Dia mengangguk.


"Apa hubungannya denganku?"


"Di dunia manusia, wilayah itu tidak terlalu luas."


"Tidak luas bagaimana? Dari perbukitan sini, lembah, sungai dan sampai separuh kabupaten begitu."


"Menurutmu luas, tapi di dunia Astral, wilayah itu bisa sepuluh kali lipat luasnya."


"Wajar saja,kalian semakin banyak jumlahnya.Belum lagi kelahiran bangsa jin setiap tahunnya."


Sebenarnya aku merasa aneh dengan perbandingan wilayah itu. Luas dunia material, ternyata berbeda dengan dunia astral.


Bahkan, ruang kecil seukuran 2x2, bisa terlihat seluas lapangan sepak bola di dunia astral.


"Kamu bisa memilih area mana saja untuk kami."


"Apa kamu ingin aku menerima lamarannya?"


"Tidak,"


"Lalu kenapa kamu melibatkan mereka?" tanyaku dengan perasaan kesal.


"Mereka mengetahui kedatanganmu. Itu sebabnya bapak tua itu memberikan tumpangan untukmu. Dan mereka menawarkan diri jika kamu bersedia menjadi istri Arkana, kami akan diberi area untuk tinggal."


"Dan kalian, ingin menukar hidupku dengan tempat tinggal? Jahat sekali kalian. Aku berniat membantu. Tetapi malah dijadikan alat pertukaran." kataku lirih.


Sebenarnya aku ingin marah, namun hal itu akan membuatku kesulitan melewati portal antar dimensi.


"Awalnya kami sangat senang mendengar tawaran itu. Setelah itu kami diundang makan malam di tempatnya. Tidak semua makhluk di wilayah ini bisa mendapatkan kesempatan bertemu tuan, apalagi makan bersama."


"Lalu, apa kalian berubah pikiran?"


"Ya, sewaktu melihatmu menolak memakai cincin pemberiannya. Kami sadar akan menjerumuskanmu kedalam sebuah persekutuan tanpa akhir."


"Syukurlah kalau kalian masih memiliki sisi baik." ucapku sambil duduk dihamparan rumput yang lembut.


"Kenapa kamu menyebut pak Rasyid bapak tua? Sedangkan kata Arkana, dia masih muda."


"Didunia kalian sebenarnya dia sudah tua. Tapi disini, seusianya sudah pasti masih muda."


"Apa pak Rasyid adalah manusia?" tanyaku hati-hati.


Mbak Kun mengalihkan pandangannya kearah kejauhan.


Dia tidak mau menjawab pertanyaanku.


Sama seperti Arkana.


Mereka tidak berani menjelaskan banyak hal padaku.


Tetapi, aku adalah orang yang selalu ingin mencari tahu.


Cepat atau lambat, aku akan tahu siapa pak Rasyid sebenarnya.


Kuhela nafas panjang.


Melepaskan semua kegelisahan yang kurasakan saat ini.


Sambil menikmati pemandangan yang menakjubkan, aku melihat ke arah sekeliling.


Dari bukit ini, terlihat seluruh komplek villa dari yang diatas bukit sampai ke bagian lerengnya.


Ada lembah yang berada didekat hutan kecil. Sungai selebar delapan meter membelah antara bukit di kompleks villa dan bukit dimana sekarang aku sedang duduk bersama mbak Kun.


Mbak Kun duduk diatas sebuah pohon dekat tebing.


Pohon itu satu-satunya yang tersisa di bukit ini.


Tingginya sekitar lima meter, dengan batang kayu besar dan cabang-cabang yang kokoh.


Sedangkan daunnya sangat sedikit.


Dibukit ini, cukup berangin. Mungkin hal itu yang membuat daun-daunnya mudah gugur.


"Sangat kokoh dan perkasa." kataku takjub, sewaktu melihat pohon yang sendirian itu.


"Ya, tuan sangat perkasa. Diwilayahnya tuan adalah pemimpin yang di segani." sahut mbak Kun.


"Halloooo, aku tidak berbicara tentang Arkana. Tapi, tentang pohon sendiri itu." kekehku sambil menunjuk kearah pohon yang didudukinya.


Mbak Kun ikut terkekeh. Suara tawanya itu memekkan telinga.


Segera kututup telinga rapat-rapat.


Aku tidak mau telingaku berdenging sepanjang hari, saat sudah kembali ke dunia manusia.


🍃🍃