SINTRU

SINTRU
SINTRU- 90



By: Tiara Sajanaka


🌼 Pagi ini, rasanya malas sekali untuk bangun. Tapi pak Rasyid memintaku bangun.


Agar kami bisa segera melaksanakan sholat subuh.


Udara dingin membuatku mandi dengan cepat. Berganti pakaian kemudian bersiap untuk melaksanakan sholat subuh.


Pak Rasyid sepertinya sudah selesai mandi. Dia membentang sajadah didepanku.


Kemudian kami sholat subuh berjamaah.


Selesai sholat, kulihat dia masih berdoa dengan sangat khusyuk.


Aku melipat mukena dan sajadah tanpa menunggunya selesai berdoa.


Kemudian memasak air panas menggunakan teko elektrik.


Memasak nasi untuk bekal makan siang.


Pak Rasyid sudah selesai berdoa, sewaktu aku menyeduh teh bunga didalam cangkir.


"Mandi dimana tadi?" tanyaku penasaran.


"Aku pulang, mandi dan berganti pakaian." jawabnya datar.


Aku tertawa geli. Ternyata dia masih harus pulang untuk mandi dan berganti pakaian.


Mustahil rasanya dia akan sanggup menjadi manusia.


"Puas?" dia menatapku lembut.


"Puas kenapa?"


"Karena aku pulang untuk mandi dan berganti pakaian."


"Hanya merasa sedikit lucu."


"Kamu benar, tidak mudah menjadi manusia. Karena selama ini, aku terbiasa mendapatkan semua dengan segala kemudahan."


"Sebenarnya manusia kalangan atas juga sama sepertimu. Manusia yang terbiasa mendapatkan fasilitas. Hidup dengan segala kemudahan. Disaat dia harus berada di bawah. Dia akan mengalami kesulitan."


Pak Rasyid mendengarkan penjelasanku dengan serius. Dia terlihat sedang mempertimbangkan keputusannya untuk tinggal bersamaku.


"Oh ya, aku dengar kamu marah pada penghuni di areamu?" tanyanya.


"Aku tidak marah, hanya meminta mereka membersihkan tempat tinggalnya."


"Apa ada masalah?"


"Mereka terbiasa tinggal di pepohonan. Lalu sekarang harus tinggal diatas tanah. Sepertinya mereka masih sulit untuk beradaptasi."


"Begitu rupanya. Itu sebabnya, Manggala mencari pohon di pegunungan."


"Dia pergi ke pegunungan? Wah, ternyata sulit juga mencari pohon siap huni." kekehku.


Aku membuat sarapan roti panggang dengan sedikit madu.


Kami sarapan bersama dengan menu masing-masing.


"Temani aku hari ini." pintanya.


"Aku harus bekerja. Jaman sekarang tidak mudah mencari pekerjaan. Aku harus disiplin."


"Kalau begitu, aku akan menemanimu di tempat kerja." katanya tenang.


Aku terkejut. Kenapa dia jadi aneh begitu.


Tapi biarlah, toh tidak akan ada yang bisa melihatnya di dekatku.


Akhirnya dia benar-benar menemaniku sepanjang hari. Bersyukur tidak ada yang menyadari kehadirannya.


Sampai aku pulang kerja, dia juga masih bersamaku.


Hari ini sedikit melelahkan. Setelah mandi dan minum segelas coklat panas, aku tidur lebih cepat.


Pak Rasyid memijatku lembut, sampai aku tertidur.


Tengah malam, aku terbangun karena lapar.


Pak Rasyid masih membaca buku. Ditemani segelas air madu.


Aku makan sedikit biscuit dan segelas air hangat. Kemudian melanjutkan tidur lagi.


Beberapa menit terlelap, aku merasakan dia memelukku dan mencium tengkukku.


Setelah itu, terdengar suara dengkuran halus darinya.


Ada rasa iba sewaktu teringat akan kesedihannya jauh dari ibunya.


Aku baru menyadari, kalau sebenarnya dia sangat kesepian dan menderita. Itu sebabnya, saudara-saudaranya sering berkumpul dikediamannya.


Dengan cara seperti itu, mereka ingin saudara tertuanya tidak merasa sendiri.


Setiap kali bersamaku, dia dapat tidur nyenyak dan tenang. Dia butuh teman berbagi. Teman disaat dia merasa rapuh.


Serta yang dapat dipercaya tanpa ada keinginan untuk menjatuhkannya.


Kita akan selalu berbagi beban, pak.


Aku tidak memiliki seseorang yang dapat menjadi teman bicaraku.


Tapi berada di dekatmu, membuatku bisa melepaskan segala kegelisahan diri.


Aku tidak tahu, sampai kapan kami akan selalu dapat bersama seperti ini.


Karena hubungan kami, bukan lagi hubungan yang memiliki tujuan pada pernikahan.


Tetapi, kami saling membutuhkan, saling merindukan dan akan selalu saling menguatkan.


Tak terasa hatiku menjadi hangat. Memiliki dia dalam hidupku, adalah anugrah dari Tuhan untuk perjalananku sebagai manusia.


🍃🍃