SINTRU

SINTRU
SINTRU- 27



By : Tiara Sajanaka


🌼"Lira, keluarlah." kata pak Rasyid.


Kemudian dia memerintahkan pohon yang menutupiku untuk membuka ranting-rantingnya.


Setelah semua ranting terbuka, kuucapkan terima kasih pada pohon itu.


"Dia tidak tahu bahasamu."


"Lalu, bagaimana caranya mengucapkan terima kasih?"


Pak Rasyid tertawa, dia berbicara pada pohon itu menggunakan bahasa yang tidak kupahami.


Kemudian mengajakku keluar dari taman.


Sebelum keluar dari taman, aku memeluk pohon itu dengan erat.


Dia merespon dengan meletakkan rantingnya dipunggungku.


"Terima kasih," bisikku.


Pohon itu kembali meliuk-liuk dengan gemulai.


Kulambaikan tangan padanya, saat kami meninggalkan taman.


"Kenapa kamu menerobos masuk?"


"Sewaktu saya akan kembali, saya memutuskan untuk terbang. Tapi para anak buah pak Arkana malah mengejar."


"Kamu tidak bisa berbohong pada saya, Lira. Kamu memang sengaja membuat mereka mengejarmu."


"Bagaimana bapak bisa tahu saya ada disini?"


Kami berhenti tepat ditengah jembatan.


Para penjaga disini sepertinya tidak terusik dengan keberadaan kami.


Mereka bukan para penjaga yang mengejarku tadi.


"Tuan memintaku untuk mengawasimu."


"Apa dia tahu, saya ada disini?"


"Hari ini, tuan sedang bepergian. Aku belum melaporkan tentang kejadian hari ini."


"Lalu, kenapa bapak melindungi saya?"


Pak Rasyid tidak menjawab pertanyaanku. Dia melihat ke sekeliling. Memastikan tidak ada yang datang.


"Kita kebawah," ajaknya.


Dia merangkul pinggangku tanpa ijin.Kemudian membawaku turun ke bawah jembatan.


Caranya turun sangat halus dan anggun.


Aku dapat melihat jelas bentuk wajahnya.


Memang benar, dia masih muda.


Sekilas terlihat usianya hampir menginjak kepala lima.


Tetapi saat berada begitu dekat dengannya, dia terlihat masih muda.


Raut wajah yang tegas, bentuk mata, hidung dan bibir yang serasi. Membuatnya terlihat menawan.


Mungkin di dunia astral, dia bukan pria yang tampan.


Sedangkan di dunia manusia, dia akan membuat banyak wanita terpesona padanya.


Sayangnya, aku tidak tertarik dengan pria yang menawan.


Pak Rasyid melihat kearahku.Dia menggelengkan kepalanya.


Aku malah membalas dengan menganggukkan kepala.


"Lepaskan pelukanmu, Lira." tegasnya.


Aku terkejut. Ternyata kami sudah sampai di bawah. Segera kulepas tanganku yang memeluknya erat.


"Perasaan, tadi bapak yang memeluk saya." kekehku.


"Bukan memeluk. Tapi merangkul, agar kita bisa turun bersama. Dan tadi, kamu memelukku erat sekali." ucapnya dingin.


"Kamu tidak sedang memikirkan sesuatu kan?"


"Memikirkan apa?"


"Kamu berfikir, kalau saya cukup menarik."


Aku hampir tertawa terbahak-bahak.


Dengan cepat kututup mulutku dengan dua tangan.


"Ternyata, mahkluk seperti bapak juga punya rasa GR, ya."


Pak Rasyid menggelengkan kepala sambil menghela nafas.


Dia mungkin sedikit kesal padaku.


"Kita dimana ini pak?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Ini area luar untuk menuju ke beberapa sektor."


"Sektor apa pak?" tanyaku heran.


"Kamu sedang mencari seseorang kan? Sebaiknya kamu cepat menemukannya. Sebelum fajar."


Pak Rasyid berjalan mendahuluiku. Kami melintasi area Padang Sabana.


Sekitar sepuluh menit kami berjalan, akhirnya kami tiba disebuah area dengan banyak pepohonan.


"Apa sudah sampai pak?"


"Kita masih harus menyebrangi lautan pasir. Setelah itu akan ada beberapa persimpangan. Saya akan menunggumu di persimpangan."


Pak Rasyid mengajakku melanjutkan perjalanan. Kami tidak bisa melalui udara di kawasan ini.


Satu-satunya cara untuk sampai ke tempat tujuan hanya dengan berjalan kaki.


Pepohonan disini seperti pohon di dunia manusia.


Ada berbagai macam jenisnya. Dari pohon kayu keras yang memiliki diameter cukup besar.


Sampai pohon buah-buahan. Dan aneka pepohonan lainnya.


"Buahnya besar-besar dan sudah siap dipetik." tunjukku pada pohon apel.


"Kalau kamu makan buah-buahan disini. Kamu tidak akan bisa kembali ke dunia manusia."


"Kenapa begitu pak?"


"Hutan ini adalah pintu dimensi alam manusia dengan sektor yang telah dipilih manusia saat mereka ada didunia."


Aku terkejut, dengan cepat meraih tangan pak Rasyid.


"Apa ini adalah alam penebusan?"


"Belum, dari Padang Sabana sampai persimpangan adalah gerbang atas dan gerbang bawah."


"Jadi, madsud bapak, kita sedang berjalan menuju ke perut bumi?"


Pak Rasyid mengangguk.


Aku benar-benar terkejut kali ini.


Tidak pernah terpikirkan kalau sebenarnya kami berjalan ke bawah.


"Kita harus cepat, Lira." Dia menarik tanganku sambil setengah berlari.


"Tunggu pak. Kenapa bapak bisa menyentuh saya?" tanyaku dengan nafas tersengal.


"Sekarang bukan waktunya untuk tanya jawab." Dia kembali menarikku.


Aku harus mengikuti langkahnya yang cepat.


Agar kami bisa sampai di lautan pasir.


Dipinggir area pepohonan, kami berhenti.


Pak Rasyid menunjukkan lautan pasir yang luas di depan kami. Pasir putih yang menyilaukan mata.


🍃🍃