
By: Tiara Sajanaka
🌼 Satu bulan telah berlalu sejak kejadian malam itu.
Pak Rasyid tidak pernah menemuiku ataupun mengirim seseorang untukku.
Aku tidak berharap dia akan menemuiku di dunia manusia.
Walaupun setiap kali teringat padanya, aku akan meneteskan air mata.
Selera makan juga seakan menghilang.
Hanya dalam waktu satu bulan, berat badanku turun drastis.
Hal itu membuatku sering mengalami sakit kepala dan asam lambung.
Manager memintaku cuti untuk memulihkan kondisi.
Awalnya aku menolak cuti. Setelah kupikirkan, sebaiknya aku mengambil cuti dan beristirahat di kampung.
Akhirnya, aku setuju mengambil cuti tahunan.
Siang tadi sebelum Trisna berangkat kerja, aku sudah berpamitan padanya. Begitu juga pada bapak penjaga kost. Mengatakan pada mereka, kalau aku akan pulang kampung selama dua Minggu.
Trisna mengingatkan agar aku kembali ke tempat kost ini lagi.
Dia khawatir, aku tidak kembali ke tempat kost kami. Sebenarnya, kekhawatirannya sangat beralasan.
Dia tahu, kalau aku tidak suka suasana bising.Sedangkan ditempat kost kami sering terdengar penghuni kamar lainnya menyalakan musik dengan suara keras.
Untungnya, jaman sekarang sudah ada headset yang dapat meredam kebisingan dari luar.
Aku tinggal memasang headset dan mendengarkan musik kesukaan tanpa terganggu suara dari luar.
"Mbak hanya pulang dua Minggu kok Tris. Ijin cuti tahunan saja."
"Janji balik kesini ya mbak,"
"Iya, mbak janji." kataku sambil mengaitkan jari kelingking kami.
Trisna tertawa terpingkal-pingkal. Dia teringat masa kecilnya dulu.
Setiap kali mengucapkan janji, pasti mengaitkan jari kelingking.
Masa kecil itu memang tidak akan pernah terulang lagi. Tapi kenangannya tak akan terlupakan sampai usia senja.
Malamnya aku mengemas pakaian kedalam sebuah koper kecil. Membawa pakaian seperlunya saja, serta beberapa kebutuhan pribadi.
Setelah merapikan kamar, aku berbaring sebentar. Sambil mendengarkan musik menggunakan headset.
Tapi aku segera melepaskan headset dan mematikan musik yang kuputar dari handphone. Jantungku berdegup kencang sewaktu melihatnya sedang menatapku didekat jendela.
"Apa Khabar, Canim?" sapanya lembut.
Aku tertegun memandangnya. Tidak bisa berkata-kata.
Rasa rindu, takut, kecewa dan hati yang hancur. Membuatku tidak dapat menerima kehadirannya saat ini.
"Lira, apa kamu masih marah?"
Aku tetap diam sambil menatapnya tanpa ekspresi.
Dia mendekat kearahku. Menggeser duduknya disamping tempatku berbaring.
Aku segera duduk dan bersandar disudut dinding.
Sewaktu dia ingin meraih tanganku, aku memberi isyarat padanya agar jangan menyentuhku.
"Kita baikan ya.." ucapnya tulus.
Ternyata mudah sekali dia mengatakan itu. Setelah hampir membuatku mengalami sesuatu yang buruk, dia sudah ingin berbaikan.
Kalau saja waktu itu Arkana tidak datang, aku tidak tahu bagaimana selanjutnya kisah hidupku.
Aku teringat pada kotak pakaian dan tabung itu. Sebaiknya sekarang aku berikan kedua benda itu padanya.
Kalau dia tidak bisa menerima isi kotak itu.
Setidaknya, dia tidak bisa merubah wujudnya seperti waktu itu.
Di dunia manusia, para astral tidak bisa seenaknya merubah wujudnya.
Dunia manusia memiliki partikel halus yang akan menghantam mereka, ketika mereka menggunakan kekuatan penuh.
Seperti sistem kerja antibodi pada manusia.
Dan hal ini, tidak diketahui oleh manusia.
Kuambil tabung pemberian Arkana serta kotak penyimpanan pakaian itu dari dalam lemari.
Kemudian kuletakkan keduanya didepannya.
"Tabung penyimpanan? Lalu apa isi kotak ini?" tanyanya lembut.
Kubuka kotak itu tanpa berbicara. Menunjukkan isi didalamnya.
Sewaktu melihat pakaian itu. Seketika wajahnya berubah muram.
Dia memandangku dengan sedih.
"Pakaian ini, aku buat khusus untukmu. Dengan seluruh cinta yang kumiliki. Kenapa kamu menolaknya?"
Kuhela nafas berat. Bagaimana cara menjelaskan padanya. Kalau aku tidak bisa menyimpan pakaian itu di dunia manusia.
"Aku telah berjanji pada diriku sendiri. Tidak akan pernah menyakitimu. Tetapi, tolong jangan memprovokasiku."
Kemarahan dan kekecewaan yang terpendam selama ini, membuatku tidak sabar untuk melampiaskan padanya.
Sayangnya aku sudah tidak memiliki kata-kata lagi untuk kulontarkan padanya.
Aku kembali memakai headset dan memutar lagu kesukaan dari handphone.
Bersandar di dinding sambil bersenandung.
Membiarkannya menatapku dengan kesal.
Tiba-tiba saja aku merasa sangat lelah berurusan dengannya. Selama satu bulan energiku terbuang sia-sia hanya untuk memikirkan dia. Makhluk yang telah membuat hatiku hancur berderai.
Bukan salahnya kalau aku tidak bisa menjaga hati dan prinsip yang kupegang selama ini.
Kalau saja aku tidak semudah itu mencintainya. Tentu tidak akan ada rasa sakit seperti saat ini. Memang bukan salahnya.
Semua karena kebodohanku sendiri.
Dia terdiam cukup lama, sampai akhirnya dia menghela nafas. Dan membuka headset di telingaku.
"Baiklah, aku akan menyimpannya untukmu. Dengan penyimpan keduanya, artinya kita akan tetap terhubung. Kamu, tabung tempat kepemilikan area itu, serta pakaian ini adalah satu kesatuan. Aku akan menjaganya untukmu."
Seketika kemarahanku mereda. Dia telah mengendalikan dirinya dengan sangat baik.
Setidaknya, dia bisa menerima kalau aku memang tidak akan sanggup menjaga pakaian itu di sini.
🍃🍃