SINTRU

SINTRU
SINTRU- 63



By: Tiara Sajanaka


🌼"Apa penyebabnya sampai aku seperti itu? Bukankah hal itu tidak normal?"


"Ya, memang tidak normal. Karena sebenarnya, sejak didalam kandungan, kamu telah memiliki energi dari dunia astral."


"Aku tidak tahu soal itu. Tetapi, aku memang mengenal dunia lain sejak kecil. Dan hal itu membuatku selalu berada diantara dua dunia."


"Hal itulah yang membuat mata ketiga dan mata material memiliki koneksi yang baik."


"Sebenarnya, aku lelah menjalani kehidupan diantara dua dunia. Tetapi, disaat-saat tertentu aku merasa sangat nyaman sewaktu berada di dunia Astral."


"Sekarang kamu mengerti madsudku?"


"Ya, mungkin memang sudah jalanku Seperti ini. Selalu berkelana di dunia lain."


Pak Rasyid tersenyum. Dia memasukkan tabung dan kotak kedalam saku pakaiannya.


Memandangku dengan wajah lega.


"Aku senang, Akhirnya kita sudah berbaikan."


"Aku tidak merasa begitu. Perasaanku masih berjarak denganmu."


"Tidak apa, selama kita bersama nanti, jarak itu akan hilang."


"Kenapa tidak membiarkanku menikmati kesendirian?"


"Aku tidak mau melihatmu selalu menangis diam-diam. Badanmu sampai kurus begitu. Aku merasa bersalah padamu. Itu sebabnya, akan kukembalikan lagi hari-hari ceriamu."


"Aku bahagia saat sendiri."


Dia tersenyum sambil mengelus kepalaku lembut.


"Aku pamit ya, sampai bertemu di kampungmu."


"Apa? Bapak mau datang ke kampungku? Apa mereka mengijinkan bapak memasuki wilayah mereka?" tanyaku heran.


"Lihat saja nanti. Kalau aku tidak bisa masuk ke wilayah mereka. Artinya, kamu yang harus berada di dunia astral selama dua Minggu."


Ucapannya membuatku ketakutan.


Mustahil untuk seorang manusia berada disana dengan waktu selama itu.


Kecuali aku dalam keadaan koma atau mati suri.


Kugelengkan kepala berkali-kali, untuk meyakinkan diri sendiri. Apa dia sanggup melakukan hal itu?


Melihat kebingunganku, dia tertawa lembut.


"Sudah, jangan dipikirkan. Kita lihat saja nanti. Yang pasti, kita akan selalu bersama selama dua Minggu."


"Lalu, apa kita tidak akan lepas kendali?"


"Lira, kenapa pikiranmu selalu kesana?"


"Tentu saja, aku menanyakan hal itu. Karena sebagai manusia, mustahil bagiku dapat mengendalikan diri saat bersamamu."


"Hal itu tidak perlu dipikirkan sekarang. Kita jalani saja hari-hari itu dengan kebahagiaan dan kebersamaan."


"Oh, tidak. Bukan itu madsudku. Sebaiknya, aku segera kembali, sebelum kita mulai berdebat."


Dia mencium keningku. Kemudian meninggalkanku sendirian.


Aku hanya bisa memandang tempatnya berdiri ketika akan pergi.


Kalau benar, kami akan bersama selama waktu itu. Mustahil kami tidak akan lepas kendali.


Dengan wajah dan tubuhnya yang begitu indah, apa sanggup aku menahan diri?


Oh manusia..manusia..


Dimana letak urat malumu saat ini?


Sampai Berani menanyakan hal itu pada seorang laki-laki.


Walaupun laki-laki itu bukan manusia.


Lalu, apa aku harus berpura-pura suci?


Dan bersikap seolah-olah seperti anak gadis yang belum pernah tersentuh laki-laki?


Sedangkan didalam diriku begitu menginginkan dirinya.


Semoga saja, aku tidak menjadi setan penggoda saat bersamanya.


Bukan hanya laki-laki saja yang mudah kehilangan kendali.


Namun, hal itu juga bisa terjadi pada wanita.


Dengan suasana kampungku yang terkenal sebagai pulau paling romantis dan paling indah. Aku tidak yakin kalau dia tidak terbawa suasana saat berada disana.


Aku tersenyum membayangkan kemenangan yang akan tergenggam nanti.


Arkana pasti tidak pernah menyangka, kalau aku bisa melakukan hal itu.


Seorang wanita yang terlihat tenang, polos dan penuh pertimbangan dapat mengalahkannya kali ini.


Andai saja, Arkana tidak membuat kesepakatan seperti itu, tentu aku tidak akan memikirkan rencana seperti saat ini.


Ternyata, manusia dan makhluk astral, masih tetap lebih cerdik manusia.


Malam ini, aku akan tidur nyenyak.


Tidak ada lagi kesedihan yang harus kutanggung.


Tidak ada lagi air mata karena cinta yang hancur.


Setelah ini, aku akan menyelesaikan tanggung jawab pada istri mas Jantaka.


Semoga villa yang dibangun ulang itu sudah selesai. Dan mas Jantaka bisa membawa istrinya kembali menempati villa itu.


Setelah semua tanggung jawab itu telah dijalankan.


Maka semua tugas di wilayah itu telah selesai.


🍃🍃