
By: Tiara Sajanaka
🍁 Bersyukur aku kembali sebelum adzan subuh. Setelah berganti pakaian, aku berbaring sebentar untuk melepaskan lelah tubuh astral.
Ingin rasanya dapat terlelap sejenak, agar saat subuh tiba, bisa mandi terlebih dulu.
Anehnya ingatan saat-saat bersama pak Rasyid, terus menerus bersliweran didalam pikiran.
Sebesar apakah perasaan kami berdua?
Sampai membuat kami saling terikat satu sama lainnya.
Dia tahu, kalau aku tidak berani berkata jujur tentang perasaanku padanya.
Tapi dia bisa melihat dari caraku setiap kali menatapnya. Serta signal yang kuberikan sewaktu kami bersama.
Dia terlalu menawan. Dan aku tidak menyukai pria menawan.
Lalu kenapa sekarang aku malah memikirkannya?
Andai saja dia adalah manusia, tentu aku akan selalu menempel padanya.
Tidak akan kubiarkan wanita manapun mendekati.
Sangat berbeda dengan wanita di dunia para astral.
Mereka sangat menjaga etika dan tata Krama pada sesamanya.
Tidak ada istilah pelakor atau wanita yang menggoda pria.
Kalaupun para pria memiliki banyak istri, mereka tetap saling menghormati.
Sebenarnya, astral jenis mereka ini dapat memiliki pasangan dari dunia manusia.
Karena kemampuan mereka untuk dapat berkamuflase selama di dunia manusia.
Tanpa manusia menyadari, kalau mereka ada diantara kita.
Kemampuan luar biasa dari makhluk yang telah berusia ratusan, bahkan ribuan tahun.
Sedangkan manusia tidak dapat mencapai usia sejauh itu. Sebab, tubuh material sangat rapuh.
Di usia tertentu, seluruh bagian dalam organ tubuh akan mengalami masa-masa kerusakan secara perlahan-lahan.
Apalagi saat muda, manusia tidak menjaga pola makan dan pola hidup dengan baik.
Kerusakan itu akan menjadi semakin cepat.
Akhirnya, aku dapat terlelap juga. Suara hujan membuatku tidur dengan nyenyak.
Sampai suara adzan subuh tidak membuatku bangun.
Aku benar-benar kelelahan secara psikis.
Hal itu membuat tubuhku menjadi lemas dan tidak bertenaga.
Untuk bangun mengambil botol air mineral di atas meja saja, aku tidak sanggup.
Betapa lemahnya tubuhku saat ini.
Seakan-akan semua energiku telah terkuras habis-habisan.
Saat handphone berbunyi, aku juga tidak sanggup meraihnya.
Ntah sudah berapa kali suara panggilan terdengar.
Akhirnya, dengan menggeser badanku pelan-pelan, aku bisa mengambil handphone.
"Lira, pagi ini ada rapat koordinasi semua supervisor. Jam delapan sudah harus absen." kata ibu manager dari sebrang telpon.
"Lira nggak bisa datang, ibu. Badan Lira lemah sekali."
"Kamu sakit? Kalau begitu, nanti kamu ikut rapatnya lewat zoom saja ya."
"Baik ibu. Terima kasih sudah membuat ibu kecewa."
"Tidak apa-apa, kamu istirahat dulu. Nanti usahakan, jam delapan sudah masuk Zoom."
"Baik ibu.."
Setelah selesai berbicara dengan ibu Manager, aku menghubungi Trisna.
Meminta bantuannya untuk membelikan bubur ayam di kedai bawah.
Serta meminta bantuannya untuk meminjam kunci cadangan kamarku pada bapak penjaga.
Tentu saja dia heran dan bertanya-tanya, kenapa harus meminjam kunci cadangan.
Setelah dia membawa bubur keatas. Baru dia mengerti.
Kalau dia harus membuka pintu kamarku menggunakan kunci cadangan itu.
"Ya Tuhan, mbak Lira. Sebaiknya kita ke rumah sakit ya mbak." bujuknya, sewaktu menyuapiku.
"Mbak kurang istirahat saja, Tris. Nanti kalau sudah tidur dengan cukup, kondisi mbak akan pulih."
Trisna menghela nafas berat.
Dia membantuku membersihkan wajah dan berganti pakaian.
"Terima kasih Tris, kamu kerja jam berapa?"
"Tris, masuk siang mbak. Pulang kerja nanti, Tris temani mbak ya.."
"Terima kasih Tris, sebaiknya pulang kerja, kamu istirahat. Mbak nggak apa-apa. Nanti siang sudah baikan kok."
Trisna menatapku sedih.
Selama ini, dia belum pernah melihatku sampai tidak berdaya seperti saat ini.
Aku sendiri juga heran. Bagaimana tubuhku menjadi sangat lemah sampai tidak dapat menggerakkan anggota tubuh dengan leluasa.
Apa patah hati juga dapat membuat seseorang menjadi serapuh ini?
Aku belum pernah merasakan patah hati.
Karena laki-laki di dunia manusia tidak dapat membuatku benar-benar jatuh cinta.
Aku selalu melihat mereka sebagai manusia yang menjijikkan dan menyebalkan.
Karena aku sering melihat laki-laki yang tidak bisa menghargai dan menghormati wanita dengan kesetiaan.
Hal itu membuatku tidak bisa merasakan kesungguhan dalam urusan hati.
Sendiri itu menyenangkan buatku.
Daripada harus bersama laki-laki yang tidak baik.
Walaupun tidak semua seperti itu.
🍃🍃