
By: Tiara Sajanaka
🌼 Setelah membereskan peralatan makan.
Kubuatkan Trisna secangkir teh panas.
"Nih, minum teh manis dulu. Biar tenang hatimu." godaku.
Trisna menggeser cangkir didekatnya.
Membiarkan uap panas menipis perlahan.
"Masih kenyang mbak. Sebentar lagi aku minum."
Aku tersenyum padanya.
Tapi mataku selalu melirik jam di handphone.
Aku memiliki janji pada mas Jantaka. Hari ini, kami akan membahas masalah istrinya.
Sedangkan aku tidak mungkin meminta Trisna agar kembali ke kamarnya.
"Jadi, dia meminjam uang setiap kamu habis gajian? Darimana dia tahu tanggal gajianmu?" tanyaku heran.
"Dia tahu tanggal gajian semua penghuni lantai tiga ini mbak. Termasuk mbak juga."
"Ha? Hebat juga dia." aku benar-benar terkejut. Bagaimana ada orang yang bisa begitu teliti mengamati tanggal gajian orang lain.
"Ya dia lihat dari kebiasaan anak kost disini. Kalau habis belanja banyak. Artinya mereka sudah gajian." jelas Trisna.
"Ya ALLAH, dia berbuat sampai sejauh itu hanya untuk memudahkan saat meminjam uang. Padahal dia juga bekerja. Satu kamar ditempati bertiga. Artinya, untuk membayar sewa kamar kost, mereka patungan. Gaji dia juga katanya besar."
"Gaya hidupnya memang luar biasa, mbak."
"Sayang banget kalau hasil kerja keras di perantauan habis hanya untuk gaya hidup."
Trisna menatapku sedih, "Trus, sekarang Trisna harus bagaimana mbak? uang itu penting banget buat ibu Tris."
"Sudah, kamu jangan sedih. Kamu doakan agar hatinya dilembutkan ALLAH. Besok, mbak akan bicara sama dia."
"Mbak nggak takut dikata-katai sama dia?"
"Nggak, biar aja dia ngomong apa. Yang penting uang kita kembali."
Selama ini, Luna memang selalu memanfaatkan anak kost lainnya.
Beberapa anak kost juga ada yang seperti Luna, setiap bulan selalu meminjam uang.
Tapi mereka mengembalikan setelah gajian.
Sedangkan Luna, sepertinya memang sengaja pura-pura lupa dengan hutangnya.
Trisna tahu, kalau Luna suka berbelanja barang-barang KW dengan harga mahal.
Bukan untuk dijual lagi.
Padahal, kualitas hidup masih dibawah standard.
Sangat memaksakan diri. Dan yang menjadi korbannya adalah anak-anak kost lainnya.
Dengan mudah dia meminjam uang, tapi tidak ingat untuk mengembalikan.
"Baiklah Tris, besok kita bicara lagi. Kamu pasti sudah lelah."
Trisna mengangguk. Dia mengerti kalau sudah waktunya kembali ke kamarnya.
"Mbak, aku boleh minta dibuatkan bantal kayak punya mbak?"
"Boleh, asal kamu nggak keberatan dengan harganya."
"Siap mbak," dia menunjukkan kedua jempolnya sebelum membuka pintu kamar.
Aku tidak tahu, bagaimana caranya besok berbicara dengan Luna.
Tapi hal itu harus kulakukan.
Kalaupun nantinya dia menjadi marah dan mencak-mencak, aku tidak peduli.
Sehabis melaksanakan sholat Isya, aku segera menuju ke tempat mas Jantaka.
Namun, kali ini aku merasa ada yang mengikuti sejak dari gerbang astral.
Sebaiknya aku tidak terbang di kawasan ini.
Seperti kata mbak Kun, para penjaga Arkana akan menyambar saat aku berani melintasi area udara mereka.
Sebelum memasuki kompleks villa, bayangan yang mengikutiku menghilang.
Mereka tidak berani melewati batas wilayah masing-masing.
Akhirnya, aku bisa menarik nafas lega.
Setelah yakin, mereka tidak mengikutiku lagi.
Villa yang ditempati mas Jantaka dan istrinya memang terlihat Sintru dari luar.
Walaupun semua lampu dinyalakan dengan sangat terang benderang.
"Masuklah" terdengar suara mas Jantaka dari dalam rumah.
Kubuka pintu depan perlahan. Suara derit pintu memecah kesunyian.
Aroma gaharu tercium samar-samar. Sewaktu aku memasuki ruang tamu.
Artinya, dupa kayu gaharu sudah padam sejak setengah jam yang lalu.
🍃🍃