SINTRU

SINTRU
SINTRU- 79



By: Tiara Sajanaka


🌼 Manggala dan Mavendra pamit untuk berjalan-jalan. Sebenarnya, ingin sekali bepergian bersama mereka. Sayangnya pak Rasyid sedang tidak ingin menikmati suasana malam diluar.


Aku menemaninya menonton televisi di kamar. Tapi dia terlihat tidak benar-benar menonton televisi.


Mungkin dia masih memikirkan kata-kata Mavendra. Atau dia sedang memikirkan hal lain.


Aku ke kamar mandi. Membersihkan diri dan berganti pakaian.


Udara di tempat ini cukup dingin. Membuatku tidak ingin berlama-lama berada di dalam kamar mandi.


Keluar dari kamar mandi, kulihat dia sudah berbaring diatas tempat tidur.


"Nggak membersihkan diri? Sikat gigi dulu kalau mau tidur." tegurku.


Dia malah berbalik membelakangiku sambil memeluk guling.


Aku tertawa geli melihatnya merajuk seperti itu. Benar-benar seperti anak kecil.


Aku berbaring disampingnya, mencoba mengganggunya dengan menggelitik pinggangnya. Dia tidak bergerak sama sekali.


Aku beralih menggelitik telinga dan hidungnya bergantian.


Dia hanya menepis tanganku sesekali.


Aku jadi malas membujuknya. Kubiarkan saja dia berbaring memunggungiku.


Aku juga ikut memunggunginya.


Udara terasa semakin dingin. Aku mengambil kaus kaki dari dalam tas.


Serta memakai syal dan cardigan.


Menarik selimut sampai menutupi kepala.


Membuatku merasa sedikit hangat.


Aku terlelap untuk beberapa saat. Dan terbangun sewaktu merasakan tangannya melingkar di perutku.


Pelukannya itu, membuatku terasa hangat dan nyaman. Tetapi pikiranku menjadi tidak terkendali. Dan dia merasakan vibrasi dari pikiranku.


"Kendalikan pikiranmu Lira." bisiknya.


"Kamu bisa membaca pikiranku?"


"Tidak, tapi vibrasinya terasa begitu liar."


"Aku ingin seperti ini, bersama Rasyid. Bukan Arya."


Dia tidak menberiku jawaban. Karena sebenarnya aku tidak membutuhkan jawaban. Terlalu berlebihan memintanya menjadi dirinya di pulau ini. Hal itu sama saja seperti ingin menghabisinya.


"Pejamkan matamu. Aktifkan alam bawah sadar, dan katakan kalau saat ini kamu sedang bersama Rasyid."


Aku mencoba melakukan hal yang dimintanya. Lima menit kemudian, kurasakan dia mulai menciumku dengan lembut.


Menyentuhku pelan-pelan dan mengupasku helai demi helai.


Sampai tangannya mulai menyentuh kulitku. Aku berusaha menahan tawa dengan mengatupkan bibir.


Tapi gerak badanku membuatnya menghentikan sentuhannya.


"Kamu membuatku tidak fokus!" kekehnya.


Akhirnya aku tidak dapat menahan tawaku.


Aku tertawa terpingkal-pingkal sampai meneteskan air mata.


Pak Rasyid melihatku sambil menggelengkan kepala berulang kali.


"Kamu benar-benar aneh!" ucapnya.


"Tadinya aku bisa merasakan kehadiranmu. Membayangkan betapa machonya dirimu.


Tapi, tangan Arya yang besar dan kasar, membuatku benar-benar mengingat bentuk tubuhnya."


"Kamu tidak berhasrat padanya?"


"Jujur, aku tidak bisa memaksakan pikiranku. Dengan begitu, kamu tidak tersesat bersamaku."


"Mau minum?" tanyanya.


"Tidak pak, aku malas ke kamar mandi kalau banyak minum."


Kukenakan kembali pakaianku didalam selimut. Agar dia tidak melihatku saat memakai pakaian.


"Bagaimana caramu mengendalikan pikiran?" tanyaku dari dalam selimut.


"Aku tidak tahu. Tapi aku memiliki masalah dalam hal ini."


"Madsudnya, kamu sulit merasakan hasrat itu?"


"Tidak, aku bisa merasakan dengan baik. Apalagi saat dekat denganmu. Tapi, perasaan bersalah sering membuatku kehilangan keinginan itu."


Setelah selesai berpakaian, aku keluar dari dalam selimut. Duduk bersila diatas kasur sambil melihat kearahnya.


"Disana ada Psikolog?"


"Tidak ada, dan aku tidak membutuhkan seorang psikolog."


"Kamu membutuhkan bantuan psikolog. Pergilah ke psikolog manusia. Nanti, kamu akan menemukan masalah sebenarnya "


"Aku punya kamu, yang bisa menjadi pendengar sekaligus pemberi solusi."


"Aku tidak bisa membantumu dalam hal ini. Apalagi ketakutanmu pada dosa dan rasa bersalah itu, sudah sangat mengganggu pikiranmu."


"Ya, kamu benar. Tapi aku akan ke psikolog di dunia netral."


"Wah, disana ada psikolog?" tanyaku takjub.


"Dunia netral itu seperti dunia yang memiliki kesamaan dengan dunia manusia dan dunia astral."


"Oh, dunia paralel?"


"Benar, tapi disana tidak menggunakan hukum dunia manusia dan tidak menggunakan hukum dunia astral."


"Apa disana bebas?"


"Bukan seperti itu, disana tetap ada aturan dan undang-undang global. Artinya, undang-undang itu untuk seluruh wilayah tanpa terkecuali."


Kucoba membayangkan seperti apa dunia netral itu. Apa disana bisa tinggal dalam jangka waktu lama?


Atau hanya untuk tujuan-tujuan tertentu saja?


"Sebenarnya seperti apa dunia netral itu?"


"Dunia yang tenang dan damai. Walaupun begitu, tidak banyak yang ingin tinggal disana."


"Kenapa?"


"Disana tidak diijinkan ada kendaraan. Hanya kuda alat transportasi disana. Hewan ternak hanya ayam untuk diambil telornya.


Mereka tidak mengkonsumsi daging, tapi ada ikan salai. Karena mereka tidak mengkonsumsi ikan segar. Susu terbuat dari sari kacang kedelai.


Disana tidak diijinkan minum-minuman keras, berjudi, ataupun membuat keributan.


Semua tertata dengan baik dan tenang."


"Siapa yang mengatur sistem disana?"


"Semua aturan dibuat bersama, diawasi bersama. Tidak memaksa dan mengikat.


Kalau kamu tidak tahan dengan kondisi yang ada, kamu boleh meninggalkan tempat itu dengan sukarela."


"Wajar kalau tidak banyak yang bertahan hidup ditempat itu. Seperti sebuah tempat pengasingan."


"Bukankah kamu menyukai tempat seperti itu?"


"Mungkin, jika bersamamu disana. Tapi, aku pembosan. Seminggu masih bisa tahan. Kalau satu bulan, aku bisa histeris tanpa kehidupan normal." kekehku.


"Kita hanya melakukan legalisasi dokumen pernikahan. Setelah itu, kita bisa kembali."


Aku terdiam mendengar dia membahas tentang pernikahan. Dia pasti tidak ingin mendengar penolakanku tentang rencananya itu.


Tapi aku menginginkan dia selalu bersamaku. Aku memujanya. Dan mencintainya. Hanya saja, untuk menikah aku sungguh-sungguh tidak siap.


🍃🍃