SINTRU

SINTRU
SINTRU- 15



By: Tiara Sajanaka


๐ŸŒผArkana mendekat. Dia menatapku dalam-dalam.


"Hanya ini yang bisa kamu lakukan untuk membantu mereka. Kamu bisa membawa mereka ke tempat ini. Agar mereka memiliki tempat tinggal tetap."


"Tapi tidak dengan menjadi istri bapak. Saya tidak akan menikah dengan bangsa jin." tolakku halus.


"Kamu bisa tetap berada didunia manusia. Dan kamu bisa datang kapan saja. Disini kamu akan menjadi wanita utamaku." ucapnya lembut.


"Saya sudah bisa melakukan itu. Datang dan pergi ke dunia astral. Saya memiliki portal sendiri, pak."


Aku harus berhati-hati menjaga intonasi. Jangan sampai nada suaraku meninggi.


Karena kalau hal itu terjadi, maka energiku seketika akan habis ditempat ini.


"Kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu mau."


"Bukankah bapak memiliki keyakinan yang baik? Seharusnya bapak tahu, kalau hal itu tidak boleh saya lakukan."


"Ini berbeda, kamu memiliki niat untuk membantu mereka."


"Ya, saya tahu. Tapi mereka juga tidak akan merasa nyaman berada disini. Energi mereka, dengan energi bangsa jin akan bertabrakan. Sebaiknya,mereka berada ditempat yang netral, pak."


Istri Arkana mendengar perdebatan kami.


Dia menghampiriku.


"Apa kamu tidak ingin menjadi wanita yang dapat memiliki segalanya?"


"Madsud ibu, bagaimana? Bukankah ibu takut kehilangan posisi sebagai istri utama?"


"Ya, karena beliau sangat memujamu. Kamu akan menjadi wanita utama disini. Serta memiliki kehidupan yang baik di dunia manusia."


"Saya tidak akan berterima kasih dengan tawaran ini. Karena hal ini salah. Sebagai manusia, saya tidak akan bersekutu dengan para jin."


"Kamu keras kepala. Kami bukan bagian dari golongan sesat." ucapnya gusar.


"Ya, saya tahu.Tetapi tetap saja itu salah. Sebaiknya, saya kembali sekarang."


Arkana berbicara pada istrinya. Sebentar kemudian, istrinya meninggalkan kami.


Para wanita yang kulihat tadi, juga berjalan mengikuti istri Arkana.


Mereka terlihat sangat patuh pada Arkana.


Apa para wanita itu, juga istri-istrinya?


"Kita berbicara di taman," ajaknya.


Dia berjalan mendahuluiku.


Kami melewati sebuah jembatan yang terlihat cukup tinggi.


"Jangan melihat kebawah," tegurnya, sewaktu melihatku sedang mengamati di pinggir jembatan.


"Ada apa dibawah?"


"Kalau kamu tinggal disini, kamu akan mengetahui semua kawasan tanpa terkecuali."


Aku tersenyum tipis.


Bukan hanya laki-laki di dunia manusia yang suka membujuk dengan iming-iming.


Dunia laki-laki para jin juga begitu.


Diujung jembatan, kami bertemu pak Rasyid.


"Apa mereka sudah tiba di sini?" tanyanya pada pak Rasyid.


"Sudah, Tuan. Mereka datang seperti yang tuan minta. Ada sekitar dua puluh orang."


Arkana berjalan paling depan. Aku berjalan disamping pak Rasyid.


Kami memasuki taman dengan desain yang menyeramkan bagiku.


Pohon-pohon terlihat tua dan rimbun.


Cabang-cabangnya meliuk kesana kemari.


Ada yang sampai menyentuh tanah dan menjalar-jalar.


Pohon-pohon di taman ini hidup.


Ya pohon memang hidup.


Tapi ini benar-benar hidup.


Walaupun begitu, mereka tidak dapat pergi kemana-mana.


Beberapa bagian di dalam taman juga tidak kalah menyeramkan.


Seperti makam-makam tua di dalam filem horor.


Ntah kenapa taman ini tidak dibuat indah dan menarik.


Apa mereka memang menyukai desain klasik yang suram?


Ditengah taman ada area pertemuan dengan meja batu granit besar. Dan tempat duduk dari batu granit dengan sandaran cukup tinggi.


Batu granit dapat menahan suhu panas dengan baik.


Para tamu undangan sedang berbincang-bincang di dekat pohon bonsai tua.


Arkana mendekati mereka, menyapa satu persatu, kemudian mempersilahkan mereka untuk duduk.


Dua puluh penghuni rumah itu, sekarang ada disini. Termasuk mbak Kun.


Pak Rasyid memintaku duduk didekat Arkana.


Setelah dia menggeser tempat duduk itu sejauh tiga meter.


Pak Rasyid duduk disebelah kiri ku, dengan jarak yang sama.


Sekarang posisiku berada diantara Arkana dan pak Rasyid.


Para astral penghuni rumah itu, juga duduk di meja yang sama.


Tak berapa lama, kami disuguhi hidangan yang terlihat begitu menggiurkan.


Para pelayan pria dan wanita datang silih berganti meletakkan hidangan diatas meja.


Sebentar saja, meja besar telah tertutup berbagai sajian yang menggoda dengan aroma yang membangkitkan selera.


Aku menoleh ke arah mbak Kun.


Dia menatapku tanpa berbicara.


Tapi, aku tahu kalau dia sedang mengirim pesan padaku.


Dia melarang aku menyentuh ataupun memakan makanan yang disajikan.


Tentu saja aku tidak akan menyentuh semua hidangan yang berada diatas meja.


Semua hidangan itu, bukan untuk manusia.


Meskipun tampilannya sangat menggoda, tapi aku tahu darimana dan terbuat dari apa saja bahan yang digunakan.


Dan mbak Kun berani mengambil resiko untuk memperingatkan hal itu melalui tatapannya.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ