
By: Tiara Sajanaka
🌼"Lihat penjaga itu, dia tertawa melihatmu menjewer telingaku." ketusku.
"Kamu pantas ditertawakan. Sikapmu ini sangat kekanak-kanakan."
"Ih, kamu itu aneh! Sebaiknya aku turun dari sini."
Aku berjalan kearah tangga. Meninggalkan Rasyid yang masih berdiri dengan wajah marahnya.
Dia menyusul dan menjejeri langkahku.
Ternyata dia tidak membawaku turun dengan caranya. Tapi mengikutiku menuruni anak tangga.
"Kenapa baru datang?" ucapnya sedih.
Aku tersenyum dalam hati. Ternyata dia kesal karena beberapa hari aku tidak menemuinya.
Apa aku akan menggodanya?
Atau mengatakan hal yang sebenarnya?
"Aku lelah, jadi ingin tidur dengan lebih berkualitas."
"Aku pikir, kamu sudah melupakanku. Ingin sekali aku menemuimu. Tapi semua usahaku untuk pulih akan sia-sia."
"Ya, memang sudah seharusnya kita mulai menjaga jarak. Bukankah setelah ini, kita juga harus saling melepaskan.
"Ada waktunya. Tapi jangan secepat itu."
"Secepat apa?"
"Secepat keinginanmu."
Kuhela nafas berat. Andai saja dia tahu.
Bagaimana caraku berjuang untuk mengatasi perasaan yang nantinya akan sungguh-sungguh menyiksaku.
"Kita membicarakan hal lain saja ya." ucapku lembut.
"Kamu mengalihkan pembicaraan."
"Ya. Aku tidak mau energiku habis hanya untuk menangis."
Rasyid menghentikan langkahnya. Dia menatapku marah.
Seketika perasaanku menjadi dingin dan beku. Hal ini reflek terjadi setiap kali aku merasa sakit. Tetapi para astral menganggap aku memiliki hati yang beku. Sebab sikapku akan berubah seketika.
Dingin, angkuh dan Beku.
Melihat perubahanku, Rasyid mulai melunak.
Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kuat.
Aku melangkah menuju kedalam kediamannya. Menyusuri koridor dengan perasaan sekeras batu.
Sesampainya didepan kamar Rasyid, aku langsung masuk dan duduk di dekat meja makan panjang.
Rasyid menarik sebuah kursi, dia duduk didepanku.
"Apa kamu akan bersikap seperti ini terus?"
Disana terdapat sebuah ranting kayu berwarna jingga.
Ranting itu diletakkan diatas sebuah nampan emas.
"Itu akar laut jingga. Sangat langka. Dan tidak boleh diambil semua. Hanya boleh diambil seperlunya saja." jelasnya tanpa kuminta.
Tidak ada apa-apa kurasakan saat menyentuh ranting itu.
Lalu, dimana khasiatnya?
"Tubuh astralmu tidak bisa menyerap energi dari akar laut. Hanya tubuh material manusia yang dapat menyerap energi positif akar laut."
"Tapi kalian dapat merasakan kekuatan energi akar laut."
"Tentu saja, semua makhluk astral dapat merasakan hal itu."
"Oh, aku paham madsudnya." sahutku. Aku mengerti akan hal itu.
Makhluk astral yang memiliki energi negatif, sangat takut pada akar laut.
Sebab, energi akar laut dapat meluruhkan kekuatan mereka.
Tiba-tiba tanganku seperti tersengat aliran listrik, sewaktu meletakkan akar laut di nampan.
"Uff, kenapa dia menyengatku?" teriakku spontan.
Rasyid tertawa melihatku menghentakkan tangan dengan marah.
Dia memanggil seorang pekerja untuk membawa ranting itu ke kediaman mas Jantaka.
"Kenapa dia menyengatku?" tanyaku kesal.
"Akar laut tidak menyengat, walaupun masuk dalam jenis fauna."
"Tapi, aku seperti disengat arus listrik."
"Itu reaksi penolakan dari benang silver penghubung tubuh materialmu."
"Kenapa tubuhku menolaknya?"
"Hahaha..Lira, Lira. Kamu benar-benar tidak sadar kalau sebenarnya tubuhmu memiliki ribuan makhluk astral."
"Aku tidak pernah melihat mereka. Bukankah semua makhluk astral dapat terlihat olehku. Kenapa yang berada di tubuhku aku tidak bisa melihatnya?"
"Lira, mereka bukan benar-benar berada didalam tubuhmu. Tapi mereka selalu ada bersamamu. Disekitarmu. Dan setiap kali ada sesuatu yang tidak sesuai dengan frekuensi mereka, maka mereka akan bereaksi."
"Aku tidak mengenal mereka. Jadi mereka terasa asing buatku."
"Tanpa mereka, kamu tidak bisa seenaknya keluar masuk portal dunia astral."
"Ternyata ada penjaga lain selain penjaga yang kuketahui."
"Ya, setiap manusia memiliki penjaganya masing-masing. Diakui ataupun tidak diakui."
Aku termenung mendengar penjelasan Rasyid. Begitu besar kasih sang maha pencipta kepada manusia, sampai setiap manusia diberi penjaganya masing-masing.
Sedangkan manusia sering abai serta tidak bersyukur karena ketidak tahuannya.
🍃🍃