SINTRU

SINTRU
SINTRU- 11



By : Tiara Sajanaka


🌼Tidak terlihat siapapun disekitaran tempat ini. Tentu saja, aku menjadi heran.


Kenapa dia pergi secepat itu?


"Kenapa masih berdiri disitu?" suara pria muda itu mengejutkanku.


Sepertinya aku akan sering dibuat terkejut saat berada disini.


"Mas bisa melihatku?" tanyaku gugup.


Pria muda itu menatapku tanpa ekspresi.


Ternyata kedatangan pria muda itu yang membuat wanita itu pergi.


"Kita bicara didalam rumah saja." ajaknya.


Dia berjalan mendahuluiku.


Langkahnya tenang dan penuh percaya diri.


Kami melewati beberapa villa yang berada di lereng bukit.


Villa yang kami tuju berada diatas bukit. Jauh dari villa-villa lainnya.


Tempatnya lebih menjorok kedalam dengan sekelilingnya ditanami berbagai jenis bunga dan buah.


Walaupun selama ini, villa itu kosong.


Tapi, penjaga di area ini merawatnya dengan baik.


Namun, kesan Sintru yang ditampilkan tidak dapat dipungkiri.


Kami sampai dihalaman depan.


Carport berbatasan langsung dengan jalan kompleks.


Konsep villa-villa disini memang tidak memiliki pagar.


"Silahkan masuk," ucapnya ramah, sambil membuka pintu.


Suara deritan pintu yang melengking, membuatku kembali terkejut.


Kemarin, aku tidak mendengar suara deritan pintu saat pria muda itu keluar dari rumah.


Kenapa sekarang, aku mendengar suara deritan pintu?


"Silahkan duduk," pria itu memintaku duduk di sofa ruang tengah.


Ruang antara ruang tamu dan pantry.


"Terima kasih mas," ucapku takjim.


"Jangan sungkan. Kita tidak berdua. Ada istri saya di rumah ini."


"Istri mas dimana?"


"Sedang beristirahat di kamar. Kondisinya semakin lemah."


"Kondisi itu terjadi sejak mas dan istri pindah kesini?" tanyaku hati-hati.


Pria itu mengangguk. Terdengar suara helaan nafasnya yang berat.


"Panggil saja Jantaka,"


"Baiklah, saya paham itu."


Untuk sesaat, suasana menjadi hening.


Mas Jantaka seperti sedang bermeditasi.


Posisi duduknya tidak berubah.


Duduk dengan kaki tetap berada dilantai.


Punggung bersandar pada sandaran sofa.


Mata terpejam dengan nafas teratur.


"Kalau mas Jantaka sudah tahu, kenapa tidak pindah dari rumah ini?" ucapku pelan, memecah keheningan.


"Kita akan bahas hal itu nanti. Sekarang, apa tujuan mbak datang kesini?"


"Bukankah mas sudah tahu kenapa saya datang?"


"Saya tidak tahu, apa yang menjadi tujuan mbak sebenarnya. Saya hanya tahu, kalau mbak sedang mengawasi kami."


"Sejak kapan mas tahu kedatangan saya?"


" Kemarin malam. Tapi saya masih ragu. mbak manusia atau bukan."


"Lalu, bagaimana mas yakin, kalau saya manusia?"


"Nanti saya jelaskan. Sekarang, tolong katakan, apa tujuan mbak sebenarnya?"


"Penghuni rumah ini, meminta saya untuk berbicara dengan mas." jawabku cepat.


"Apa mereka meminta kami pergi?"


"Mereka ingin bisa kembali ke rumah ini."


"Hal itu tidak boleh terjadi." tegasnya.


"Kenapa? Bukankah mereka memang para astral yang menempati rumah ini?"


"Kalau mereka tetap tinggal disini, rumah ini jadi sintru. Penghuni di kawasan ini, merasa resah Dengan bangunan kosong."


Aku terdiam.


Apa yang dikatakan mas Jantaka memang benar.


Tapi, para astral disini juga membutuhkan tempat tinggal.


Jadi, siapa yang lebih berhak menempati rumah ini?


"Apa ada solusi lain untuk masalah ini?" tanyaku hati-hati.


"Saya masih memikirkan hal itu. Kalau kami pindah, rumah ini akan kembali menjadi tempat tinggal mereka."


"Kenapa mas mempertahankan rumah ini?"


"Rumah ini yang menjadi bagian kami. Semua saudara tidak ada yang mau menempati rumah ini."


"Saya tidak tahu permasalahan keluarga mas. Tapi, mas sudah tahu kondisi rumah ini. Kenapa tetap mau menempati?"


"Panjang ceritanya mbak. Yang pasti, saya berharap kami bisa menempati rumah ini seterusnya."


🍃🍃